Mawar Terakhir

Mawar Terakhir
Mawar Terakhir • 58 •


__ADS_3

Renata mengamati wajah Alisha yang tertidur lelap di atas ranjang. Darah mengalir di pelipis gadis yang sedang memejamkan mata itu.


"Gue gatau lagi apa yang harus gue lakuin" gumam Renata.


Beberapa panggilan tak terjawab berasal dari ponsel Renata namun gadis itu masih enggan meninggalkan tempatnya.


Hingga di panggilan yang ke lima belas tangan Renata mulai terulue untuk menjawab panggilan tersebut.


"Lo dimana?" tanya Devan panik


"Ada"


"Iya dimana?" tanya Devan dengan meninggikan suaranya.


"Kali ini lo ga perlu tau" tukas Renata


"Gue harus tau" paksa Devan


"Gue harus mastiin Alisha baik-baik aja. Lo dimana?" tanya Devan sekali lagi namun tak ada jawaban melainkan hanya suara telepon yang terputus.


Renata melempar ponselnya ke ranjang tepat di samping Alisha.


**

__ADS_1


Suara roda koper yang di seret oleh pria tampan itu menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya. Kacamata yang bertengger di hidungnya menambah pesona pria itu.


"Tuan Arkan" sapa seorang pengawal sembari membuka pintu mobil untuk sang tuannya yang baru saja mendarat di negeri tercinta itu.


Setelah Arkan masuk, mobil itu berjalan menyusuri jalanan kota yang padat menuju kediaman Amergan.


Arkan menatap ke sekeliling rumahnya yang terasa sunyi. Tidak ada satupun orang yang hadir di hadapan nya saat ini.


"Alisha!" teriak Arkan mencari keberadaan adik kesayangannya itu.


"Lo lupa adek lo lagi di sekolahan jam segini" celetuk Devan dengan menyelonong masuk ke dalam dapur dan meneguk segelas air.


Arkan melirik sekilas Devan lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Gue akan jamin lo ga akan pernah ngedapetin apa yang lo impikan" ucap Devan dengan lugas dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan di sisi lain.


"Lo bisa diem ga sih Al" bentak Renata dengan penuh kesal


"Gunanya apa sih lo nyekal gue disini" teriak Alisha


"Gunanya apa?" Renata tertawa pelan lalu menatap Alisha. "Lo akan tau suatu saat nanti" ucap Renata

__ADS_1


"Lo mau harta kan? Besok adalah hari dimana pengacara membacakan pembagian harta. Lo nyulik gue karena hal itu kan?"


"Picik banget pikiran lo" ucap Renata tak terima.


"Lalu apa? Lo sendiri yang nanemin pemikiran itu di dalam otak gue" ucap Alisha


"Sha" Renata menarik nafas panjang lalu duduk di hadapan Alisha. "Kita ini sebenernya apa sih? Saudara kan? Lo percaya kan sama saudara lo ini?" ucap Renata


"Percaya? Setelah lo nyiksa gue berkali-kali dan bahkan hampir mati" ucap Alisha


"Lo pernah mikir ga? Seseorang ga akan ngelakuin suatu hal yang sia-sia tanpa adanya tujuan yang jelas" ucap Renata


"Maksud lo?"


"Lo hanya berpikir dari sudut pandang lo tanpa pernah ingin tau untuk melihat dari sudut pandang gue" ucap Renata


Renata beranjak dari duduknya dan berjalan untuk keluar dari kamar itu.


"Nyawa lo terancam saat ini" Ucapan terakhir yang di ucapkan Renata sebelum benar-benar keluar dari kamar itu membuat Alisha mengerutkan alisnya bingung


"Renata jelasin maksud lo!!" teriak Alisha


"Nyawa gue? Terancam? Oleh siapa?" Banyak pertanyaan yang berputar di dalam otak Alisha karena ucapan Renata yang tanpa adanya sebuah kejelasan.

__ADS_1


"Sampai kapan gue harus disini" gumam Alisha


__ADS_2