
"Ayok" Saka keluar sembari mengacak rambutnya. Rambut cowok itu yang diacak-acak tapi hati Alisha yang berantakan.
Ritme jantung Alisha kini berdetak dua kali lipat dari biasanya. "Hei ayo. Malah bengong" Saka menggoyangkan bahu Alisha membuat gadis itu berada dalam kesadaran penuh.
"Ah iya. Tante om Alisha pamit dulu makasih banyak atas semalam" ucap Alisha.
"Lo gamau terima kasih gitu sama gue?" tanya Saka.
"Terima kasih Kak Saka" ucap Alisha dengan tersenyum tulus. Saka membuang pandangannya ke arah lain tanpa mau menatap wajah Alisha.
"Ma pa aku pergi dulu. Sekalian bawa bocah tengil ini" ucap Saka.
"Iya hati-hati. Alisha sering-sering mampir kesini ya. Pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu" ucap Reyana.
"Entar Saka yang tutup" ucap Saka dengan muka masam.
"Ih gaboleh gitu" Reyana mencubit pinggang Saka membuat sang empunya meringis kesakitan. Kekuatan tangan Reyana bagi Frans dan Saka tidak diragukan lagi.
"Ayok ah. Disini gue di siksa mulu" ucap Saka dan berjalan keluar lebih dulu.
"Saka" Reyana berkacak pinggang mendentar tuturan dari anaknya itu.
Alisha berjalan menyusul Saka yang sudah berada di samping mobilnya.
__ADS_1
"Lelet banget kaya siput" gerutu Saka sambil bersandar pada mobilnya dan tangan bersedekap.
"Sabar!!" ucap Alisha.
Saka masuk ke dalam mobilnya dan duduk di bangku kemudi sedangkan Alisha duduk di samping Saka. Gadis itu menatap wajah Saka yang tampak fokus mengemudi mobilnya.
"Gue tau gue ganteng. Gausah dipandangin terus" ucap Saka.
Seketika Alisha merasa dejavu dengan kata-kata Saka. Sangat persis dengan kata-kata yang pernah terlontar dari mulut Kaysar.
"Kak" panggil Alisha dengan tatapan sendu.
"Hm" Saka masih menatap jalanan tanpa mengindahkan panggilan Alisha.
"Kakak bener-bener gak kenal sama Kaysar?" tanya Alisha.
"Mukanya mirip sama kakak" ucap Alisha tanpa menjawab pertanyaan Saka.
"Oh ya? Sayangnya gue gak punya kembaran tuh" ucap Saka tanpa melirik sedikit pun kearah Alisha.
"Berarti Kak Saka itu Kaysar?" tanya Alisha.
"Lo ngomong apaan sih. Gue gak ngerti sama yang lo ucapin. Gue Saka Geonandra Putra Kamandra. Bukan Kaysar" ucap Saka kesal.
__ADS_1
"Meskipun wajah gue mirip tapi gue bukan dia. Emang sekarang dia dimana tuh si Kaysar?" tanya Saka sedikit merasa penasaran.
"Dia udah meninggal" ucap Alisha. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Satu tetesan air mata berhasil luruh dari mata birunya yang indah. Mengingat hal itu sama saja dengan membuka lukanya semakin lebar.
"Ouh" Saka memberhentikan mobilnya saat sudah sampai di tempat pertandingan basket itu dilangsungkan.
"Lo turun kagak?" tanya Saka yang tiba-tiba sudah berada di luar dan menatap Alisha dari kaca.
"Iya" Alisha menghapus air matanya dan turun dari mobil.
"Gue duluan. Lo masuk aja sendiri" Saka meninggalkan Alisha seorang diri dan pergi begitu saja.
Alisha terdiam beberapa saat. Gadis itu tampak berulang kali menghela nafasnya kemudian berjalan pelan untuk masuk.
"Alisha!! Lo disini? Sejak kapan? Sama siapa?" tanya Nana beruntun.
"Kita dari semalem nyariin lo. HP lo mati? Karena apa? Kecebur kolam?" tanya Irene dengan berkacak pinggang.
"Aku baru aja dateng. Kemarin gak sempet buka HP karena aku demam" ucap Alisha
Irene dan Nana hanya ber-oh ria. "Kuy masuk" Nana menggandeng tangan Alisha untuk mengajaknya duduk di tribun paling depan.
"Dari sini kita bisa liat langsung wajah cogan-cogan"
__ADS_1
"Emang sih dari segi hebat masih hebat anak SMA Pelita. Tapi segi good looking sudah pasti SMA Atma Jaya. Udah terkenal dimana-mana satu sekolah full anak good looking" ucap Nana dengan hiperbola.
"Plus good rekening" sambung Irene kemudian keduanya tertawa.