Mawar Terakhir

Mawar Terakhir
Mawar Terakhir • 05 •


__ADS_3

Detik demi detik berlalu. Tepat pukul 00.00 dengan ditemani kegelapan malam yang cukup mencengkam.


"Kenapa kita tidak cek cctv"


"Buat apa?"


"Buat liat bagaimana kejadian yang sebenarnya"


"Oke"


~•~


"Gimana? Udah puas kan?"


"Kenapa bisa di jam itu rekaman CCTV nya hilang"


"Kamu kalau salah akuin salah"


"Tapi saya ga bersalah"


"Siap siap besok kamu akan dikeluarkan dari sekolah"


"Mimpi!!"


Pergerakan pelan itu mulai terasa ketika derap langkah kaki yang berjalan menapaki lantai sebuah ruangan.


Suara ketikan jari jemari yang menari di atas keyboard berbunyi nyaring mengisi kekosongan suara di ruang tersebut.


"Yashhh!!" Senyum sinis itu terbit melengkung indah di bibir manis itu.


"Kalian pikir aku sebodoh itu?"


Orang tersebut memakai tudung kepalanya dan berjalan keluar dari area SMA Atma Jaya.


...****************...

__ADS_1


"Mmm haus" Alisha meneguk air putih yang sudah ia siapkan di atas nakas.


Matanya mengerjap perlahan menatap jarum jam yang berdetak detik demi detik.


06.00


Gadis itu beranjak bangun. Membuka gorden agar cahaya sang mentari dapat masuk melalui kaca yang cukup besar itu.


Alisha mengikat rambutnya asal lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


15 menit kemudian


Ceklek


"Pagi tuan Putri" sapa Arkan dengan senyuman hangat.


"Lo mimpi indah semalem?" Arkan merentangkan tangannya dan memeluk tubuh Alisha dengan erat.


"Anterin gue ke sekolah ya nanti" ucap Alisha


"Naik paan? Ojol?" ucap Alisha kesal


"Gak dong"


"Terus?" Arkan mengeluarkan kunci mobil yang ia sembunyikan di balik saku jasnya.


"Buat gue?" tanya Alisha memastikan


"Ahhh thank youu. Lo abang terdebest buat gue" ucap Alisha dan memeluk erat tubuh Arkan.


"Udah udah gue engap"


"Tapi—"


"Takut mama marah?"

__ADS_1


"Udahh mama sekarang masih sibuk ngurusin Renata"


"Jangan terlalu di pikirin oke" Arkan mengacak rambut Alisha gemas.


"Ihhh"


"Udah siap siap sana. Cobain mobil baru" Arkan pun keluar dari kamar sang adik dan berangkat menuju perusahaan.


Tak lama kemudian Alisha keluar dari kamarnya dengan riang. Namun senyuman ceria itu pudar seketika kala melihat mobil yang diberikan Arkan sudah hancur.


"Siapa yang ngancurin?" lirih Alisha


"Gue!!" jawab Devan enteng sambil bersandar pada tembok.


"Lo itu ga pantes buat dapetin hal-hal kaya gitu" cetus Devan


"Ini pemberian kakak gue" ucap Alisha dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"Kak Arkan kan yang beliin? Khusus buat lo"


"Makanya gue hancurin biar lo gabisa pake tuh mobil" ucap Devan santai dan masuk ke dalam rumah besar itu.


Alisha menatap kecewa mobil di hadapannya yang sudah dihancurkan Devan.


"Sha jangan terlalu berharap kepada manusia. Nantinya lo sendiri yang akan terluka" ucap Devan dari jendela atas hingga membuat Alisha mendongak.


"Maksudnya"


"Pikir aja sendiri. Otak lo cukup cerdas buat mikir kata-kata itu" Devan pergi begitu saja meninggalkan Alisha yang masih penuh tanda tanya.


Mau tak mau Alisha hari ini harus berangkat menggunakan angkutan umum. Jika ditanya ada berapa banyak mobil di rumah itu? Jawabannya adalah puluhan. Namun satupun Alisha tidak dapat menggunakannya karena larangan dari sang mama.


Alisha berjalan cukup jauh menyusuri pekarangan rumah yang sangat luas menuju gerbang utama.


"Non yang sabar ya" Alisha hanya tersenyum menganggapi.

__ADS_1


Dulu ia di sayang. Tapi kini ia di perlakukan layaknya hewan.


__ADS_2