
Alisha menatap sekeliling Taman Kenangan yang sedikit gelap dan hanya di terangi oleh lampu-lampu taman. Tampak banyak orang yang berkunjung ke taman tersebut hingga gadis itu tak dapat menemukan orang yang mengirimnya pesan seperti itu.
Sekitar lima kali Alisha memutari taman itu hingga kakinya kebas berdiri. "Hufttt" Alisha mengusap peluh yang membasahi pelipisnya.
Gadis itu mencari salah satu bangku taman untuk ia duduki. Alisha bersandar pada sandaran bangku itu. Secara diam-diam seseorang meletakkan sebuah kotak di samping Alisha. Dengan gerakan sigap, Alisha menarik tangan itu.
"Siapa lo?" sentak Alisha pada orang yang memakai hoodie dan topi hitam. Orang itu menarik tangannya dengan kasar namun Alisha langsung menyerang orang itu. Hingga keduanya terlibat adu fisik.
Mata Alisha dapat menangkap bulu mata lentik di balik topi yang sedikit menutupi sebagian wajahnya itu. Alisha menendang perut wanita itu hingga lawannya terduduk dengan kasar di atas tanah.
Alisha mendekat dan menarik topi wanita itu untuk melihat siapa orang yang tau tentang keluarganya itu.
"Awws" Alisha meringis kesakitan saat kakinya di tendang hingga lututnya menggores akar tanaman dan mengalirkan darah segar dibalik kulit yang sobek.
Kali ini Alisha membiarkan wanita itu pergi. Atensi Alisha kembali pada kotak yang diletakkan wanita itu secara diam-diam.
"Buku nikah?" gumam Alisha pelan. Ia tak mengerti dengan hubungan keluarganya dengan buku nikah yang di berikan wanita itu.
Alisha mengambil buku nikah itu dan meletakkan kotak itu di sisi kanannya. Mata gadis itu membelalak saat mendapati nama sang papa tertulis di dalamnya dengan nama yang tidaklah asing bagi dirinya. Viktoria Helena Putri Maheswari
__ADS_1
"Jadi dia juga istri papa?" gumam Alisha.
"Apa itu penyebabnya mama menjadi uring-uringan dalam beberapa tahun belakangan ini?" tebak Alisha
"Lalu kenapa hanya ke aku perlakuannya yang berbeda?" Alisha tak mengerti dengan situasi yang ia hadapi selama ini.
Alisha menyimpan buku itu di dalam tasnya. Wanita itu bersandar sambil menatap langit malam yang tampak indah dengan hiasan bintang-bintang yang bersinar terang.
Mata Alisha melirik sedikit pada pergelangan tangannya yang terdapat jam tangan. Pukul 22:00 waktu sudah cukup larut sedangkan dirinya masih berada di luar rumah.
Alisha masuk ke dalam mobilnya berniat kembali ke rumah. Dengan santai gadis itu mengendarai mobilnya memecah jalanan yang sudah cukup lenggang di jam segini.
"Mama" gumam Alisha
Kakinya melangkah masuk untuk mencari tahu apakah yang ia pikirkan itu benar. Dan ternyata praduganya tidaklah salah. Arliza tampak membantu Renata untuk berbaring di kamar gadis itu.
Devan menatap kedatangan adiknya dengan raut wajah biasa saja. "Renata udah pulih?" tanya Alisha pelan pada Devan dan pria itu mengangguk.
Tidak ada angin tidaak ada hujan pria itu menggenggam tangan Alisha dan membawanya menuju taman belakang.
__ADS_1
"Ada apa kak?" tanya Alisha
"Jangan ulangi kesalahanmu" ucap Devan denga wajah datar
"Aku tidak melakukan kesalahan"
"Itu ulah Zea. Dia merencanakan semua itu dan bekerja sama dengan Renata" ucap Alisha
"Aku tidak habis pikir" gumam Devan
"Kakak percaya aku?" Devan menggeleng. "Kau hampir mati di tangan Arliza" ucap Devan
"Jika saja Renata kenapa-napa kau bisa habis dengan wanita itu" ucap Devan
"Aku selalu habis oleh kalian semua" Alisha mengalihkan tatapannya dan menatap air kolam yang datar.
"Itu hanya pemikiranmu sendiri"
"Tapi aku bicara fakta" ucap Alisha
__ADS_1
"Terserah"