
"Baju seragam lo di rumah gue. Kalau lo mau ambil sendiri besok" ucap Saka dingin.
Saat ini mobil Saka tengah berhenti di depan rumah megah keluarga Amergan. "Silahkan turun" Alisha mengambil barang-barangnya kemudian turun dari mobil Saka.
"Makasih ya Kak" ucap Alisha dengan tersenyum.
Saka menghiraukan perkataan Alisha tanpa menjawabnya dan langsung pergi begitu saja. Alisha melangkah masuk ke dalam rumah.
"Baru pulang non? Dari semalam kemana aja?" tanya sang petugas keamanan di rumahnya.
"Di rumah temen pak" ucap Alisha dan masuk setelah dibukakan pagar.
"Wah wah wah jalangnya udah dateng nih ma" ucap Renata sambil bertepuk tangan ria dari arah ruang keluarga. Matanya tak lepas dari Alisha yang baru saja datang.
Plak
"Dari mana aja kamu?" bentak Arliza
"Semalam gak pulang habis ngejalang dari mana aja kamu. Udah dapet uang berapa hah? Seratus juta? Lima ratus juta?" ucap Arliza sinis.
"Ma!! Aku semalem gak bisa pulang karena kak Devan gak jemput. Mama juga gak ngasih aku uang terus aku harus pulang gimana?" tanya Alisha membela diri.
"Nyalahin gue lo?" tanya Devan dan menendang perut Alisha hingga gadis itu tersungkur.
__ADS_1
Arliza mendekati putrinya itu dan menarik rambut panjang Alisha hingga gadis itu meringis kesakitan. "Ma lepas ma. Sakit" ringis Alisha.
Brak
Arliza mendorong Alisha dengan kasar ke kamar mandi hingga dahinya membentur dinding. Tetesan darah segar di pelipis Alisha tidak diindahkan baik oleh Arliza, Devan maupun Renata.
"****** di rumah ini harus di siram ma. Biar gak bawa sial" Renata menyalakan shower yang membuat tubuh Alisha menjadi basah kuyup.
"Ma aku semalem demam karena kehujanan" ucap Alisha pelan sambil memeluk tubuhnya sendiri yang sudah menggigil.
"Lalu mama peduli? Kamu mati sekalipun mama gak akan peduli" ucap Arliza dengan kilatan amarah di matanya.
"Ma" lirih Alisha.
Devan mengambil posisi jongkok agar bisa lebih dekat menatap wajah pucat Alisha.
Bug
Rintihan Alisha menyuarakan betapa sakitnya pukulan yang dilayangkan oleh Devan. Sudut bibirnya kini sudah membiru dan meneteskan darah segar.
"Kak. Plis jangan" ucap Alisha yang sudah tak tahan dengan dinginnya air yang terus mengucur membasahi tubuhnya.
"Terus? Gue harus peduli?" Devan berdiri dan menginjak perut Alisha.
__ADS_1
"Setidaknya perut ini nanti tidak membawa sial bagi keluarga ini karena lo udah ngejalang ke beberapa pria hidung belang" ucap Devan dan menekan injakan nya pada perut Alisha.
"Kak" rintih Alisha yang benar-benar hampir mati rasa.
Devan menarik tubuh Alisha yang meringkuk di sudut dinding kemudian membanting nya dengan kasar hingga tubuh itu kembali tersungkur.
"Kak" lirih Alisha yang sudah tak kuat menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Renata menjambak rambut Alisha dengan kuat membuat gadis itu mendongak menatap wajah Renata.
"Lo harus inget baik-baik. Lo gak boleh bawa hasil dari ngejalang lo apalagi sampai mencoreng nama baik keluarga ini" ucap Renata.
"Gue gak pernah ngejalang" teriak Alisha marah karena tuduhan yang tidak berdasarkan bukti.
"Mau ngelak apalagi lo? Kalau gak ngejalang terus lo tidur dimana semalem hah?" bentak Devan dan mendorong kuat tubuh Alisha sampai tubuh itu kembali jatuh lagi dengan posisi bersujud di kaki Devan.
"Lo yang gak jemput gue semalem. Gue harus pulang pake apa hah!!" Alisha menatap marah ke arah kedua kakaknya yang benar-benar tidak punya akal.
"Lo masih punya kaki kan? Pulang sendiri bisa!! Gausah manja!!" Devan menendang tubuh Alisha kemudian menarik tangan Renata untuk keluar. Pria itu mengunci kamar mandi dan menyimpan kuncinya di dalam saku celana.
Para pelayan yang menyaksikan hal itu tampak bergidik ngeri karena lantai kamar mandi kini sudah penuh dengan darah yang tercampur air.
"Jangan ada yang berani buka kamar mandi ini. Kalau sampai ada yang lancang habis kalian sama saya" ancam Devan dan menggandeng Renata untuk pergi.
__ADS_1