Mawar Terakhir

Mawar Terakhir
Mawar Terakhir • 16 •


__ADS_3

"Mau kemana?" tanya Devan saat melihat adiknya itu berjalan turun dari tangga dengan pakaian yang rapi.


"Mau ke Mall bentar ada sesuatu yang harus aku beli buat tugas" ucap Alisha.


"Gue anter" Devan menyodorkan tangannya untuk meminta kunci mobil Alisha. "Tapi kak aku bisa sendiri" ucap Alisha.


"Gausah banyak bantah bisa?" ucap Devan.


Alisha memberikan kunci mobilnya pada Devan. Pria itu kemudian berjalan lebih dulu menuju garasi dengan Alisha yang berjalan mengekor di belakangnya.


"Kakak tumben perhatian" ucap Alisha dengan menatap Devan dari samping.


"Gausah kepedean" ketus Devan


"Gue cuma gamau lo kenapa-napa. Nanti gue yang di salahin sama Arkan" ucap Devan


"Ouhh" Alisha kembali terdiam dan menatap hamparan jalanan yang seolah bergerak menjauh.


"Kak" panggil Alisha.


"Hm"


"Kakak tau soal alasan mama berubah lima tahun terakhir ini?" tanya Alisha.

__ADS_1


"Ga ada yang berubah pada mama. Kamu aja yang aneh" ucap Devan


"Mama berubah. Tiba-tiba berubah tanpa alasan. Seolah membenciku padahal sebelumnya sangat menyayangiku" ucap Alisha


"Gausah mikir macem-macem" ucap Devan.


"Selalu gitu" Alisha menghembuskan nafas kesal dan kembali memilih diam.


Kini mobil yang dikendarai oleh Devan itu berhenti sejenak karena terhalang oleh lampu merah. Mata Alisha membulat saat melihat satu sosok yang membuatnya tak bisa berpikir jernih.


"Kaysar" gumam Alisha membuat Devan menoleh.


"Cowok itu udah mati" ucap Devan menekankan setiap kalimatnya.


"Jangan ngadi-ngadi" Devan menatap ke arah dimana pandangan Alisha terpusat pada satu titik. Tanpa berpikir panjang Alisha keluar dari mobil dan mendekati caffe itu.


"Gila kali dia" Devan kalang kabut kebingungan karena kini lampu sudah berganti menjadi hijau.


Suara klakson terdengar beruntun di indra pendengaran Alisha namun dihiraukan oleh gadis itu. "Dia bisa ketabrak. Arkhhh" Devan memukul stir dengan kasar saat melihat adiknya itu hampir saja tertabrak oleh mobil.


"Pikirannya udah hilang karena Kaysar" Devan mengendarai mobilnya karena ia sudah terdesak oleh mobil di belakangnya yang sangat tidak sabaran.


"Sabar!!" bentak Devan marah. Pria itu menepikan mobilnya tak jauh dari arah caffe.

__ADS_1


Alisha dengan rambut acak-acakan menghampiri cowok yang memiliki wajah sangat mirip dengan Kaysar. "Kaysar" lirih Alisha dengan sendu. Rasa rindu yang membuncah pada pria itu membuat akal sehatnya hilang.


"Siapa Kaysar?" tanya cowok itu kasar.


"Gue Saka bukan Kaysar. Lo salah orang" ucap Saka dengan menatap Alisha dengan pandangan aneh.


"Kamu Kaysar. Wajah kamu bener-bener mirip dengan Kaysar" ucap Alisha sambil menghapus air matanya kasar.


Tanpa aba-aba wanita itu memeluk tubuh Saka dengan erat untuk mengobati rasa rindunya pada Kaysar.


"Kay aku kangen banget sama kamu. Plis jangan tinggalin aku lagi" ucap Alisha dengan terisak.


Devan menatap adiknya yang tengah memeluk seorang pria yang ia akui berwajah sangat mirip dengan Kaysar.


"Lo Kaysar?" tanya Devan.


Cowok itu menggeleng. "Gue bukan Kaysar. Gue Saka" tegas cowok itu tak terima namanya diganti-ganti dengan sembarangan.


"Kalian berdua ini kenapa sih? Setres kali ya" ucap Saka dengan emosi.


Devan perlahan menarik tubuh Alisha agar menjauh dari Saka yang tampak sedikit risih. "Kay" panggil Alisha.


"Gue Saka bukan Kaysar" ucap Saka dan pergi begitu saja menuju motor besarnya. Pria itu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menjauhi caffe itu.

__ADS_1


"Baru aja balik dari Amerika udah dapet insiden kaya gini" gerutu Saka dibalik helm fullface nya.


__ADS_2