
Lisa dan Arkan juga kedua orang tua Arkan sedang berbincang masalah pernikahan. Orang tua Arkan jelas tidak setuju jika tidak diadakan resepsi pernikahan karena Arkan adalah anak satu-satunya dan Arkan juga bisa menggunakan pernikahannya untuk mempererat relasi dengan perusahaan lainnya.
Masuk akal memang, jadi Lisa tidak memberatkan keputusan resepsi pernikahan itu dan setuju keputusan untuk menggelar resepsi pernikahan. Obrolan kian asyik bahkan saat Lisa menceritakan anaknya Azka dan Arka. Kedua orang tua Arkan sangat welcome jika Lisa mau membawa kedua anaknya dan tinggal bersama di rumah mewah itu. Lisa sangat senang dengan respon dari orang tua Arkan.
Hingga sore hari menjelma, Lisa pun berpamitan pulang karena sudah seharian di rumah Arkan untuk mengenal semakin dekat keluarganya juga membicarakan konsep pernikahan yang diingkan Lisa. Namun Lisa tidak menuntut apa pun dan menyerahkan semuanya pada Bu Aisyah.
Sedangkan rencana untuk meminta restu pada orang tua Lisa di Lampung akan diantar oleh Arkan juga pengacaranya dan beberapa orang yang memang tidak pernah lepas untuk menjaga Arkan. Lisa hanya bisa setuju apa pun rencana itu asalkan semua bisa berjalan dengan baik
"Makasih ya Aa udah mau anter aku pulang, dan maaf kalau hari ini aku merepotkan, Aa. Maaf juga nggak bisa ngajak mampir dulu. Keadaan cukup sepi dan kita belum sah jadi suami istri. Nggak baik nanti." Keduanya telah tiba di depan kontrakan Lisa.
Mendengar Lisa yang mulai banyak bicara itu membuat Arkan terkekeh. "Aku udah bilang kalau aku akan senang jika kamu terus merepotkan aku, Melisa," jawab Arkan.
"Iya, sebaiknya Aa segera pulang dan beristirahat. Hari ini pasti sangat lelah buat Aa."
"Terima kasih perhatiannya. Aku langsung pulang ya? Kalau ada apa-apa dan butuh sesuatu, kamu segera kabari aku."
"InsyaAllah,"
"Kalau begitu, aku pamit ya ... walaupun sebenarnya aku nggak mau pisah sama kamu, tapi aku harus sabar dulu ya." Mendengar pengakuan Arkan, kali ini Lisa yang terkekeh. Laki-laki itu benar-benar membuatnya lupa akan Tian yang membuka lukanya tadi pagi. "Jangan tersenyum seperti itu karena aku makin nggak rela untuk beranjak dari tempat ini," ucap Arkan lagi.
"Iya ... udah buruan pulang sana. Udah sore dan Aa harus istirahat juga,"
__ADS_1
"Jadi aku diusir nih?"
"Aa ... buruan,"
"Iya ... Assalamu'alaikum calon istriku,"
"Wa'alaikumsalam,"
"Gitu doang? Nggak ditambahin calon suamiku, gitu?" Lisa memberikan lirikan sinis. "Iya ... Iya .. Aku pulang ya? Dah ...." Arkan pun melambaikan tangannya dan berlalu. Lisa pun masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya kemudian menceritakan kejadian hari ini pada Umi. Tentu saja respon Umi sangat antusias dan ikut bahagia juga mendoakan kebahagian untuk Lisa.
...***...
Malam kian larut, tetapi Lisa tidak bisa tidur dan lebih memilih menulis novel barunya yang akan rencana rilis bulan depan. Namun semakin malam perasaan Lisa semakin tidak enak. Lisa merasa ada yang memperhatikan gerak gerik Lisa. Tidak mau berprasangka buruk, Lisa pun menyudahi menulisnya dan memilih untuk sholat malam.
Sayangnya baterai ponsel Lisa lowbat sebelum keduanya bercerita panjang lebar. Umi hanya berpesan untuk tidak lupa mengunci pintu dan jendela.
Setelah menyudahi panggilannya, Lisa pergi ke dapur untuk membuat wedang jahe karena Lisa merasa rileks jika meminum air hangat dengan bau khas jahe tersebut. Baru Lisa akan kembali ke kamarnya, Lisa dikejutkan dengan sosok Tian di belakang Lisa bahkan Lisa juga menjatuhkan gelas yang berisi wedang jahe tersebut. Cipratan air panas juga tidak membuat Lisa kesakitan saking terkejutnya menatap Tian dengan senyuman jahat.
"Hallo, Sayang ... aku sangat merindukan tubuhmu,"
"Mas! Bagaimana bisa kamu masuk?"
__ADS_1
"Mudah saja. Tadi aku kesini dengan alasan cari kontrakan. Tapi dua rumah di sisi kamu itu katanya bukan kosong tapi lagi pulang kampung. Akhirnya aku menawarkan jasa perbaikan karena aku bilang bisa perbaiki apa saja dengan diskon lima puluh persen. Sayangnya pemilik kontrakan katanya akan pergi kondangan dan meminta aku untuk kembali besok. Dia bahkan bilang kalau ada pintu dan jendela yang memang harus diganti termasuk jendela kamu. Makanya aku bisa masuk dengan mudah karena jendela kamu rusak. Gimana? Kamu mau memuaskan aku kan setelah satu tahun kita berpisah?"
Lisa menggelengkan kepalanya beberapa kali karena takut Tian akan nekad. Selama ini Tian memang tidak pernah memukul Lisa, hanya saja Tian pernah beberapa kali melayangkan tangannya pada Lisa, tetapi tidak sempat mendarat di tubuhnya.
"Aku mohon, Mas. Kita udah bukan suami istri lagi, jadi tolong jangan ganggu aku," pinta Lisa tetapi lagi-lagi Tian hanya tersenyum sinis.
Tian meraih pinggang ramping Lisa dan mendorong tubuh Lisa hingga membentur dinding. Sebelum Lisa berteriak, Tian segera membungkam mulut Lisa dengan tangannya agar Lisa tidak bisa bicara apa pun. Benar, Lisa hanya bisa menangis saat itu.
"Aku merindukan tubuh mulusmu, Sayang. Aku rindu sekali goyangamu. Jangan coba-coba teriak atau aku akan nekad melakukan hal yang tidak pernah kamu duga selama ini. Aku bahkan bisa membunuh Emak kamu yang sedang sekarat dirumah sakit karena operasi pengangkatan batu ginjalnya gagal."
Lisa terkejut bukan main mendengar ucapan Tian. Lisa benar-benar tidak bisa berkutik bahkan ketika Tian melepaskan tangannya dari mulutnya.
"Istri yang penurut," ucap Tian dan segera menyambar bibir Lisa dengan gejolak napsu yang memuncak. Kedua tangan Tian yang di pinggang bahkan langsung meraih gunung kembar Lisa yang kebetulan tanpa pelindung. Lisa yang hanya memakai daster katun tipis di atas lutut tanpa jilbab, membuat Tian leluasa menjajah tubuh Lisa.
"Aku mohon ... jangan, Mas." Suara yang berat itu akhirnya bisa Lisa ucapkan saat Tian sibuk dengan leher jenjang Lisa.
"Diam! Layani aku sampai puas." Tian pun menarik tubuh Lisa untuk masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Segera Tian menindih tubuh Lisa yang sebelumnya merobek paksa daster yang dipakai Lisa. Tinggallah kain segitiga di tubuh Lisa saat ini. "Ah ... Melisa Sayang ... tubuhmu masih sama. Sangat mulus dan menggairahkan," Tian kembali mencium bibir Lisa. Sekuat apa pun Lisa berontak, tidak bisa menjauhkan tubuh Tian.
"Tolong!" Lisa pun berteriak walaupun tidak keras. Namun sikap Lisa membuang Tian semakin marah.
Plak!
__ADS_1
Lisa pun mendapatkan satu tamparan di pipi hingga ada darah di sudut bibirnya.
..