
"Sayang! Emak pengen ketemu nih. Kemaren pas ke rumah sakit, kamu belum sadar." Arkan menghampiri Lisa yang sedang duduk di ruang tamu dengan beberapa buku catatannya.
"Em ... besok aja gimana? Aku ada deadline nih," jawab Lisa yang masih sibuk membolak-balikkan catatannya. Arkan pun memeluk Lisa dari belakang.
"Sayang ... kamu nggak usah capek-capek kerja, biar aku aja yang kerja. Kamu duduk manis aja di rumah nunggu suamimu ini pulang," ucap Arkan begitu lembut. Bahkan Tian juga pernah mengatakan hal yang sama. Namun pada kenyataannya saat dia melepaskan semua pekerjaannya, Tian tidak benar-benar mencukupi semua kebutuhannya bahkan saat terlilit hutang, Tian memilih menceraikan Lisa karena takut uangnya habis untuk membayar hutang-hutang yang tidak pernah Lisa lakukan.
"Maaf, Aa. Aku nggak bisa berhenti jadi penulis. Kasian reader setia aku yang udah ngikutin aku dari awal nulis. Selama ini aku semangat juga karena mereka," jawab Lisa dengan nada pelan. Lisa bahkan memikirkan jika rumah tangganya akan sama dengan sebelumnya jika dia meninggalkan apa yang dia sukai saat ini.
Tentu tidaklah mudah bagi Lisa mengikuti apa yang diminta oleh Arkan. Walaupun Lisa tahu Arkan orang kaya karena menulis baginya bukan hanya untuk mencari pundi rupiah saja, tetapi ada kesenangan tersendiri saat para pembacanya memberikan support dan menyukai karyanya. Walaupun belum terkenal, tapi Lisa sudah sangat nyaman dengan hobi yang sudah dia tekuni selama satu tahun itu.
"Aa nggak akan maksa, tapi kamu juga harus jaga kondisi loh. Semalam aja Aa liat kamu masih begadang sampe jam berapa coba?"
"Aku udah biasa, Aa. Jangan khawatir."
"Di luar ada dua orang yang jagain kamu dari jauh ya? Aa takut mantan suami kamu itu balik lagi, jadi Aa suruh orang-orang Aa jagain kamu selama Aa kerja. Kalau ada apa-apa cepet telpon atau teriak aja, mereka pasti denger,"
"Dasar bawel. Harusnya jangan kerja, kan pengantin baru katanya,"
"Jangan menggoda, bisa-bisa Aa bener-bener nggak kerja nanti. Kalau bukan karena meeting penting, Aa juga males. Mending pacaran,"
__ADS_1
"Udah, buruan berangkat sana,"
"Emh ... masih pengen peluk." Arkan pun mengeratkan pelukannya dan Lisa hanya bisa tersenyum bahagia merasakan hal yang memang dia harapkan selama ini.
...***...
Setelah kepergian suaminya, Lisa pun pergi ke pasar untuk membeli kebutuhannya bersama sang suami. Tadinya Arkan tidak mengizinkan Lisa pergi, tetapi Lisa kekeh ingin pergi ke pasar dengan alasan akan memasak untuk makan malam mereka berdua karena Lisa tidak terlalu cocok dengan masakan delivery.
Sayangnya, belum Lisa tiba di pasar untuk membeli sesuatu, tas selempang yang dia kenakan di jambret dengan cepatnya. Lisa tidak berteriak minta tolong karena dia pengawal yang menjaga Lisa langsung mengejar jambret tersebut.
Lisa sangat panik dan khawatir karena ponselnya ada di dalam tas yang dia jambret. Bukan masalah apa-apa, Lisa hanya memikirkan naskah-naskah yang ada di dalam ponselnya itu. Naskah itu tentu lebih berarti dari apa pun. Padahal sebelumnya Lisa juga pernah akan di jambret, tetapi tas yang di selempangkan itu tidak bisa diraih eh si jambret dan keburu ada yang menolong juga.
Namun tiba-tiba ada yang menarik tangan Lisa dan menyeretnya ke sebuah gedung rumah yang tidak jauh dari tempat Lisa berdiri tadi. "Oh ... wanita ini ternyata. Hah! Aku pikir lebih cantik dan modis dari aku, ternyata udik." Wanita berparas cantik dengan rambut bergelombang dan setelan jas di pandu rok span di atas lutut itu sedang menekan pipi Lisa kemudian melepaskan dengan kasarnya.
Kedua tangan Lisa di ikat ke arah belakang. Mulutnya di lakban dan kanan kirinya ada beberapa orang yang menjaganya. Lisa memberikan tatapan heran, kenapa dia bisa diperlakukan seperti itu. Tatapan itu membuat sang wanita meminta bodyguardnya untuk melepaskan lakban yang menutup mulut Lisa.
"Siapa kamu? Apa salah saya sampe kamu giniin saya?" tanya Lisa tanpa bernada tinggi.
"Wah ... cukup tenang juga kamu. Em ... okelah! Tapi asal kamu tahu, gara-gara kamu, Mas Arkan nggak respect sama aku, ngerti?"
__ADS_1
"Astaghfirullah ... ternyata gara-gara itu. Memang kamu siapanya? Kenapa jadi saya yang kamu tangkap? Bukan dia? Tanya dong kenapa dia nggak mau sama kamu, jangan malah jadi pengecut begini," Lisa masih bersikap tenang.
"Berani juga kamu, tapi aku pastikan kamu hanya akan membusuk disini," ancam wanita itu seraya mendorong kepala Lisa dan meninggalkannya bersama empat orang yang menatapnya penuh napsu.
"Bismillahirrahmanirrahim ... Lahaula wala kuwata illabillah," batin Lisa dan memasang kuda-kuda.
Sebenarnya, Lisa sudah belajar maenpo sejak lama. Maenpo sendiri istilah lain dari pencak silat yang berasal dari bahasa Sunda. Bukan terlalu percaya diri menghadapi empat orang dengan tubuh kekar dan berwajah sangat itu. Namun setidaknya Lisa sudah berusaha, untuk hasilnya Lisa pasrahkan pada Allah.
"Ayo Neng Geulis, kita main-main dulu atuh biar lega kitu matinya nanti, haha ...." Mereka semua tertawa dan kelengahan mereka membuat Lisa mendapatkan kesempatan untuk memutarkan tangan dan melewati kedua kakinya agar tangan yang terikat di belakang pindah ke depan. Untungnya latihan Lisa cukup serius hingga bisa melakukan hal semacam itu.
Keempat orang tersebut cukup terkejut dengan sikap Lisa yang sibuk melepaskan ikatan ditangannya. Tanpa di tunda lagi, segera mereka maju dan hendak melakukan rencana mereka sebelumnya. Sayangnya mereka kalah cepat dari Lisa dan akhirnya babak belum di tangan Lisa.
Tenaganya terkuras habis, bahkan Lisa tidak yakin bisa lari jauh dan menghindari kejaran para bodyguard itu. Namun Lisa masih berusaha dan mencari kerumunan agar gerak-gerik mereka terbatas. "Ya Allah ... pasti Aa Arkan khawatir banget ini. Aku nggak tahu kantornya dan aku nggak tahu alamat untuk pulang ke rumah mertuaku. Pasti dia pengawal aku tadi udah lapor sama Aa kalau mereka kehilangan aku." Lisa masih panik dan segera masuk ke dalam pasar dengan pengunjung terbanyak.
Lisa ingat dia punya teman di pasar itu. Teman yang profesinya penjual baju yang selalu baik. Segera dia pun masuk ke tokonya dan belum sempat di sapa, Lisa menempel jari telunjuknya di bibir agar temanya itu diam. Lisa masuk ke ruang ganti diikuti oleh temannya.
"Kunaon?" bisik Jeneng.
"Pinjem ponsel, aku mau telepon suamiku," Lisa mengulurkan tangannya, tetapi bukannya segera di berikan ponselnya, temannya malah mematung mendengar kata suami dari mulut Lisa.
__ADS_1
..