Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Wanita Lain


__ADS_3

Beberapa saat Lisa terpaku menatap wanita yang dia yakini bernama Merry karena tidak ada wanita lain lagi di dekat suaminya. Dia wanita yang sama dengan sebelumnya menculik dan mengancamnya bahkan ingin mencelakai Lisa. Benar-benar cukup mengejutkan. Kehadirannya bahkan sungguh membuat Merry yang sangat manja pada Arkan tiba-tiba merubah raut wajahnya juga. Pastilah dia terkejut karena Lisa bisa selamat begitu saja tanpa kurang satu apa pun dari orang-orang suruhannya.


"Sayang ... buruan sini. Jangan melamun aja," kata Ibu Aisyah dan akhirnya Lisa sadar. Dia harus tahu siapa wanita itu sebenarnya dan kenapa pura-pura tidak tahu jika Arkan sudah menikah dengannya padahal pagi tadi mereka berdua bertemu.


Lisa tidak duduk di sisi Arkan karena ada Merry yang duduk disebelah suaminya dengan tatapan yang sinis. Lisa memilih duduk di sisi Ibu Aisyah yang memanggilnya tadi karena Arkan juga tidak memintanya untuk duduk disisinya. "Siapa sebenarnya dia? Kenapa seolah aku hanya seorang selingkuhan disini?" batin Lisa yang masih beradu mata dengan Merry.


"Lisa ... Emak kangen loh. Kamu udah sehatkan?" Ibu Aisyah mengusap lembut pipi Lisa yang masih menyisakan sudut bibir yang membiru karena pukulan dari Tian.


"Alhamdulillah, Lisa sehat Umi. Aa Arkan jaga Lisa dengan saat baik, tapi sepertinya sekarang dia nggak mau jaga perasaan Lisa," kata Lisa dengan raut wajah yang sedih.


"Oh ... dia Merry, Sayang. Dia adiknya Arkan. Kamu nggak perlu cemburu gitu," jelas Ibu Aisyah.


"Adik? Bukannya kemaren dia bilang anak satu-satunya?" batin Lisa tidak mau menoleh pada Arkan maupun wanita bernama Merry.


"Iya, Sayang. Dia adikku yang menggemaskan." Arkan ikut angkat bicara dan kali ini Lisa barulah menoleh. Arkan sedang mencubit kedua pipi Merry dengan sangat gemasnya. Merry sendiri masih bersikap manja dan tidak melepaskan tangannya sama sekali.


"Adik dari mana? Bahkan nggak ada yang mirip sama sekali dengannya? Dan ... kenapa tatapan mata wanita itu nggak menunjukkan sikap seorang adik, tetapi sikap seorang perempuan yang mencintai seorang laki-laki," batin Lisa masih bicara dengan dirinya sendiri. Pertanyaan butuh sekali jawaban, tetapi jika dia mengatakan kejadian tadi pagi, jelas tidak akan ada yang percaya padanya karena dia tidak punya bukti apa pun. Ditambah status keduanya.


"Melisa?" panggil Ibu Aisyah dan Lisa harus menyudahi lamunannya.


"Ah, iya Mak. Maaf kalau Lisa salah sangka. Soalnya kan ini juga pertemuan pertama dengan adik. Salam kenal ya, Dik Merry! Kamu cantik banget loh," sapa Lisa dengan ramahnya menatap Merry.

__ADS_1


"Iya, Teh. Salam kenal juga. Duh ... sebenarnya Merry nggak rela Aa nikah nggak bilang-bilang. Kan Merry bisa pulang lebih cepat," ucap Lisa masih dengan nada manja dan bergelayut membuat Lisa sangat muak.


"Maaf centil. Semuanya mendadak. Tapi nanti kamu yang harus siapkan acara resepsinya, oke?" kata Arkan seraya mencubit hidup Merry kemudian mengusap lembut ujung kepala yang tanpa hijab. Arkan benar-benar terlihat begitu menyayangi adiknya. Tatapan itu terlihat seperti seorang Kakak bagi Lisa, tetapi tidak dengan tatapan Lisa.


"Emang kalian macem-macem ya kok dadakan? Jangan-jangan Teh Lisa hamil duluan?" tanya Merry sok polos.


"Dasar nakal. Emang Aa mu ini terlihat bajingann apa?" jawab Arkan dengan gemasnya.


"Kirain! Tapi Aa tetep aja jahat!" Merry kembali protes bahkan menggembungkan kedua pipinya sebagai tanda kalau dia sedang marah pada Arkan.


"Udah dibilang semuanya dadakan. Nanti Aa belikan es krim coklat ya? Jangan ngambek lagi!" Rayu Arkan dan itu membuat Lisa mengangkat satu alisnya karena heran dengan sikap suaminya yang seperti sedang merayu anak kecil.


"Es krim? Dia merayu wanita dengan ek krim? Apa dia nggak waras? Merry bukan anak kecil lagi?" batin Lisa.


"Iya, Sayang. Aa juga kangen banget sama Merry. Udah enam tahun nggak ketemu anak centil ini, dan ... ternyata dia semakin centil, haha ...," ucap Arkan menyela juga tertawa begitu lepas. Bahkan lagi-lagi Arkan memperlakukannya Merry seperti seorang anak kecil yang sedang bermanja padanya.


"Emang sebelumnya Merry tinggal dimana?" tanya Lisa masih berusaha seramah mungkin dengan gaya bicara yang dibuat-buat. Tentu dia harus berakting seolah dia dan Merry belum pernah bertemu.


"Lisa sekolah dan kuliah di Amerika, Sayang. Dia ngikutin pria cinta monyetnya kesana. Bahkan nggak mau pulang saat liburan, nakal banget," jelas Arkan kembali mencubit pipi Merry.


"Ish ... kayak Aa nggak pernah punya cinta monyet aja. Besok aku kenalin ya, Aa. Dia jadi cowok maco dan ganteng banget. Aa mah lewat jauh-jauh sama dia," jawab Merry masih dengan nada yang sama manjanya.

__ADS_1


"Ya ... ya ... sekalian aja kalian menikah. Barengin sama resepsi pernikahan Aa kamu, Nak," kata Pak Gufron.


"Nah iya, Emak juga setuju, Pak. Biar pestanya makin meriah nanti," sahut Ibu Aisyah yang cukup antusias. Namun tidak dengan Lisa yang merasa ada hal aneh di keluarga barunya itu.


"Merry sih mau-mau aja, kan nikah itu enak. Hehe ... tapi Merry masih mau kerja, Mak ... Pak! Merry mau kerja di perusahaan Aa dululah. Merry mau puas-puasin manja-manja sama Aa sebelum Merry manja-manja sama suami Merry nanti. Bolehkan Merry dan sekertaris atau asisten pribadi, Aa?" tanya Merry seraya menyandarkan kepalanya di bahu Arkan. Namun matanya menujukkan tatapan seolah dialah wanita yang berkuasa atas diri Arkan.


"Bolehlah. Apa sih yang nggak boleh buat adik centil Aa ini," jawab Arkan dan mengusap tangan Merry yang memeluk lengannya.


"Ya udah ... Emak nggak maksa juga. Emak mah ngikut aja asal anak-anak Emak bahagia," kata Bu Aisyah yang kemudian meraih tangan Lisa untuk dia genggam. "Istirahat dulu, Nak. Udah mau magrib juga. Nanti kita makan malam bersama ya? udah disiapin semuanya," kata sang ibu mertua dan Lisa hanya mengangguk.


"Aa temenin Merry dulu ya?" Merry menarik tangan Arkan dan Arkan juga menurut padanya. Keduanya pun menaiki anak tangga bersama.


"Kamar kamu sama Arkan yang belok ke sebelah kiri ya, Nak. Maklum aja, Merry pasti sangat rindu dengan Aa nya itu. Dia emang selalu manja sama Arkan. Dia tinggal disini sejak usianya lima tahun. Dia mengalami trauma dan banyak luka lebam saat kami menemukannya di jalan," kata Ibu Aisyah membuat Lisa semakin penasaran.


"Merry bukan anak kandung?" tanya Lisa.


"Bukan. Anak perempuan kami meninggal saat dia akan melahirkan diusianya yang baru menginjak enam belas tahun," jelas Ibu Aisyah yang terdengar akan menangis.


"Dia menikah diusia remaja, Mak?" tanya Lisa lagi yang semakin penasaran.


"Bukan, dia korban pemerkosaan,"

__ADS_1


..


__ADS_2