
Lisa masih diam mematung menatap ibu mertuanya sedang melihat sebuah foto besar yang menempel di dinding tidak jauh dari mereka duduk. Lisa pun mengikuti sorot mata sang ibu mertuanya. Dalam foto itu ada dua laki-laki berdiri saling merangkul bahu yang jelas adalah Pak Gufron dan Arkan, sedangkan dua wanita yang menginjak remaja sedang mencium Bu Aisyah. Lisa bisa menebak itu adalah Merry dan adik perempuan Arkan yang meninggal.
Terpaksa Lisa tersenyum walaupun dia juga sedih karena dia tahu bagaimana rasanya merindukan seorang anak. Dia masih beruntung karena masih bisa bertemu dengan kedua anaknya, tetapi tidak dengan sang ibu mertua yang hanya bisa melihat foto juga batu nisan saja.
"Mak, maaf kalau Lisa buat Emak inget masa-masa menyakitkan itu," Lisa meraih tangan Bu Aisyah yang tiba-tiba menjadi dingin dan menggenggamnya.
"Nggak kok! Kamu menantu di keluarga ini. Kamu boleh tahu semua yang berhubungan dengan kami. Emak yakin kamu wanita baik yang Allah takdirkan untuk Arkan." Lisa hanya tersenyum. Dia tidak mau membuat sang ibu mertua jadi tambah sedih.
"Lisa ke kamar dulu ya, Mak? Takut Aa nungguin." Akhirnya Lisa pun pamit.
"Lisa ... kamu jangan sampai salah paham dengan sikap Merry ya, Nak. Dia begitu karena nggak mau liat Arkan sedih karena ingat dengan Arsya." Lisa mengerutkan keningnya. "Arsya itu adiknya Arkan yang meninggal," Lisa pun mengerti dan mengangguk lalu pamit untuk pergi ke kamarnya.
Lisa melirik kamar yang belok ke sebelah kanan, dimana kamar itu sedang terdengar canda tawa antara suami juga wanita yang harus dia anggap sebagai seorang adik. Dia sedang menatap sinis pintu kamar itu dan mengehela nafas berat lalu pergi ke sebelah kiri untuk masuk ke dalam kamarnya.
Kamarnya ada di ujung lorong karena ruangan sebelumnya adalah ruang khusus untuk Arkan bekerja. Setelah masuk dalam kamar, Lisa langsung merebahkan diri di atas tempat tidur dengan ukuran kasur big size dan ruangan yang begitu rapi juga bersih. "Jadi orang kaya emang enak. Selama ini aku nggak pernah membayangkan bakal jadi begini. Aku cuma halu lewat tulisan novel. Ternyata benar-benar ada kamar yang seperti aku bayangkan." Lisa hanya bergumam seraya menatap langit-langit kamar dengan platform yang begitu bagus dan perpaduan cat yang kalem juga menenangkan.
Lisa pun melepaskan jilbabnya dan membuangnya ke sembarang arah. Hati yang tenang tiba-tiba kesal jika ingat dengan sosok wanita bernama Merry. Sudah lama Arkan di dalam kamar wanita yang bukan adik kandungnya. "Apa Aa nggak tahu hukumnya? Walaupun Merry udah dianggap adik, tetap aja nggak ada hubungan darah antara keduanya. Mereka berdua tetap bukan mahram yang dengan bebas bisa saling peluk dan tinggal satu ruangan begitu. Tapi sepertinya aku harus hati-hati dengannya. Bisa aja dia Psikopat yang lagi pura-pura baik. Benar-benar kisah hidup yang mirip dengan novel. Jadi ngeri." Lisa merasa merinding jika membayangkan novel-novel psico yang telah dia baca.
Akhirnya Lisa pun pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya karena merasa gerah padahal ac di kamar itu cukup dingin.
__ADS_1
...***...
Tinggal beberapa menit lagi adzan magrib berkumandang, tetapi Arkan masih belum masuk dalam kamarnya. Lisa sangat kesal bahkan rasanya ingin sekali menjemput suaminya di kamar Merry. Namun Lisa masih bisa menahan itu semua dan lebih memilih memainkan ponselnya untuk melihat dan membaca beberapa komentar yang masuk dari readernya.
Tidak lama Lisa bermain dengan ponsel, Arkan pun masuk ke dalam kamar dan membentangkan kedua tangannya hendak memeluk Lisa. "Stop! Aku udah ambil wudhu," titah Lisa sinis. Arkan mengehela napas panjang.
"Padahal kangen pengen peluk," jawab Arkan kemudian duduk di sisi Lisa.
"Lagian kamu ngapain aja sih di kamar Merry? Kalian kan ...." Lisa tidak meneruskan bicaranya. Dia harus pandai-pandai mengontrol emosi karena tidak mau membuat kesalahan ataupun menyinggung sang suami.
"Sayang ... Merry adikku walaupun kita nggak punya hubungan darah. Kami nggak bertemu lebih dari enam tahun. Jadi wajar kalau seorang Kakak rindu pada adiknya," jelas Arkan seraya tersenyum manis pada Lisa yang seolah tahu apa yang ingin Lisa katakan.
"Sayang ... Aa mohon, kamu itu cemburu terlalu berlebihan. Aa nggak mungkinlah macem-macem sama adik sendiri. Aa itu ...."
"Cukup! Udah adzan dari tadi, mau sholat jamaah atau sendiri-sendiri?"
"Iya. Aa ambil wudhu dulu,"
...***...
__ADS_1
Setelah selesai sholat, Lisa langsung mengambil Al-Qur'an dan mengaji beberapa lembar seperti biasanya. Arkan hanya mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran yang Lisa lafalkan tepat di depan Lisa duduk. Setiap baris yang Lisa baca membuat Arkan tenang karena suara Lisa yang merdu. "Sodakallahul'adzim." Lisa mengakhiri bacaannya dan segera membereskan alat sholat yang dia pakai. Arkan langsung memeluk Lisa dari belakang dengan penuh kasih sayang.
Lisa tidak peduli dan terus melangkah diikuti Arkan yang menempel di punggungnya. Lisa meraih jilbabnya kembali untuk dia pakai, tetapi dengan cepat Arkan meleparkan jilbab itu lalu mendorong lembut tubuh Lisa agar terjatuh di atas tempat tidur dan menindihnya. "Sayang ... mau kemana sih? Ini di kamar, ngapain pake jilbab? Aa suka banget cium rambut kamu," ucap Arkan dengan manjanya. Lisa bisa merasakan hembusan nafas Arkan dan mengehela napas panjang kemudian membuang muka. "Sayang ...." Panggil Arkan lagi, tetapi tidak membuat Lisa menoleh.
Arkan pun mencium bibir Lisa. Ciuman singkat beberapa kali dan masih tidak mendapatkan respon. Arkan pun menempel bibirnya cukup lama lalu menyesap ke dalam mulut Lisa untuk beradu lidah. Arkan begitu menikmati ciuman dan sensasi itu. Lisa akhirnya mengalah dan membalas ciuman Arkan dan meraih tengkuknya agar Arkan lebih dalam lagi.
"Aa mencintaimu, Sayang," kata Arkan di sela ciumannya dan ciuman itu semakin lama semakin menuntut lebih. Lisa mengimbangi permainan yang Arkan ciptakan bahkan tangan Arkan sudah mulai mempermainkan gundukan kenyalnya dengan lembut hingga keduanya hampir hilang kesadaran karena saling menikmati permainan itu.
"Aa ... kita mak- ...." Lisa mendorong tubuh Arkan agar menyudahi ciumannya karena tiba-tiba Merry masuk ke dalam kamar. Bukannya Arkan segera memposisikan dirinya agar segera duduk, tetapi Arkan hanya menoleh pada Merry yang sedang menatap kedua pasangan suami itu.
"Nanti Aa nyusul. Aa mau makan Teteh kamu dulu, buruan keluar dulu sana? Anak kecil ganggu aja," kata Arkan tanpa marah sekali dengan sikap Merry yang tidak punya sopan santun itu dengan nyelonong masuk kamar.
"Ma-maaf. Merry terlalu biasa langsung masuk. Merry lupa Aa udah nikah. Ma-maafin Merry, Teh," ucap Merry seraya tertunduk.
"Benar-benar aktingnya luar biasa," batin Lisa.
"Nggak pa-pa. Teteh pasti paham. Kamu keluar dulu gih!" titah Arkan dan Merry pun menurut. "Sayang, lanjut bentar ya?" pinta Arkan dan hendak mencium bibir Lisa lagi. Namun Lisa dengan kuatnya mendorong tubuh Arkan dan segera mengambil jilbab kemudian keluar dari kamarnya tanpa bicara apa pun lagi.
..
__ADS_1