
Lisa mengekor pada Merry menuju dapur. Merry terlihat sedang membuat kopi. Lisa hanya melirik dan kemudian kembali pada tujuannya yaitu mengambil minum. Tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Lisa selesai minum dan kembali mengambil minum untuk dia bawa ke dalam kamar.
Namun belum Lisa beranjak dari dapur, tangannya yang sedang memegang gelas berisi minum itu di senggol sengaja oleh Merry hingga air di dalamnya tumpah bahkan gelasnya hampir terjatuh. Untungnya Lisa sigap dan gelas tersebut tidak jadi jatuh. "Ups! Sengaja, heh!" ucap Merry kemudian berlalu pergi.
"Astaghfirullah ... Ya Allah ...." Lisa hanya bisa mengusap dadanya kemudian mengambil alat pel untuk mengeringkan lantai dari tumpahan air karena takut ada yang terpeleset saat melewati tumpahan air tersebut.
"Nyonya ... astaghfirullah, biar Bibik aja," kata Bik Odah tiba-tiba datang dari arah lain dan terkejut melihat Lisa sedang memegang alat pel.
"Nggak pa-pa, Bik. Ini tadi cuma tumpahan air dikit aja," jawab Lisa yang kembali membersihkan lantai dari tumpahan air tersebut dan meletakkan alat pel di tempat semula setelah itu Lisa kembali mengisi gelasnya dan kembali ke kamar.
__ADS_1
Lisa benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Arkan. Lisa pikir Arkan akan selalu mencintai dan bersikap lembut padanya. Namun Lisa merasa tidak berdaya untuk melakukan apa pun lagi selain duduk memeluk kedua lututnya di atas tempat tidur seraya bersalawat. Hal itu sering Lisa lakukan untuk menghibur diri bahkan Lisa bisa lupa waktu dan lupa rasa. Ya, Lisa bahkan bisa lupa bagaimana rasanya kram dan kesemutan dikakinya itu.
Waktu terus berjalan dan tidak terasa Lisa sudah melewatkan hampir dua jam memeluk lutut. Jam dinding di kamar itu menunjukkan pukul sepuluh lebih, dan Lisa menoleh ke pintu berharap Arkan muncul, tetapi itu hanya sebuah harapan.
"Apa aku harus menunjukkan hasil rekaman aku dengan Merry tadi siang untuk membuatmu tetap di sisiku, Aa. Tapi hanya itu saja aku rasa nggak akan cukup. Aku ... apa aku menyerah saja?" batin Lisa kemudian berbaring untuk segera tidur.
...***...
"Sadakallahuladzim." Lisa mengakhiri bacaan Alquran dan lagi-lagi menangis dalam diam. Lisa sudah mengadu pada sang penciptaan, tetapi rasa dalam hati tidaklah merasa lebih baik. Lisa pun membereskan alat sholatnya kemudian meraih ponsel dan memeriksa beberapa pesan masuk.
__ADS_1
"Besok kamu punya waktu nggak? Aku dan Kak Eka sedang di Bandung." Sebuah pesan masuk dari Hendi membuat Lisa mengehela nafas berat. Tidaklah mudah untuknya keluar masuk rumah saat ini setelah merubah statusnya. Namun ada tekad kuat dalam hatinya dan berniat untuk menyetujui pertemuannya dengan Hendi.
Hingga matahari terbit, Lisa masih belum melihat Arkan masuk ke dalam kamar setelah Lisa menyiapkan semua keperluan Arkan untuk berangkat ke kantor. Lagi-lagi Lisa hanya bisa mengehela nafas panjang.
"Gimana aku izin kalau Aa nggak menemui aku terlebih dahulu," gumam Lisa kemudian meraih ponsel untuk membatalkan rencana pertemuannya dengan Hendi.
Namun Arkan masuk sebelum Lisa berhasil mengirim pesan tersebut. "Sayang ... maaf, semalam ...." Arkan menghentikan bicaranya melihat Lisa yang tampil cantik dan sudah siap untuk pergi. "Kamu mau kemana?" tanya Arkan.
"Aku izin keluar, dan ... aku akan pulang ke kontrakan nanti. Nggak perlu nyusul, tidurlah dengan Merry lagi. Assalamualaikum," Lisa meraih tangan Arkan untuk mencium punggung tangannya dan segera beranjak pergi tanpa menunggu jawaban Arkan apakah setuju atau tidak. "Maaf, aku tahu ini nggak baik, tapi kamu yang mulai duluan," batin Lisa segera bergegas pergi sebelum mertuanya tahu kepergiannya.
__ADS_1
........