
Sepanjang perjalanan Lisa mencoba menahan tangis karena tidak mau matanya semakin bengkak saat bertemu dengan Hendi juga Eka. Sekuat mungkin Lisa menahan rasa sakit di dadanya dan terus menerus beristighfar. "Bismillah ... kuat!" batin Lisa hampir tiba di tempat tujuan. "Assalamualaikum, maaf telat, Kak!" sapa Lisa seraya menangkupkan kedua tangannya didada.
"Wa'alaikumsalam," jawab Hendi dan Eka serentak kemudian menganggukkan kepala.
"Kami juga baru sampe," ujar Hendi.
"Gimana revisi kamu udah sampe mana?" tanya Eka langsung pada intinya.
"Oh iya, aku cukup sibuk, jadi cuma bisa revisi sedikit," jawab Lisa. Mereka bertiga mengobrol dengan asiknya seperti sebelumnya seraya menikmati sarapan.
Beberapa jam berlalu, dan akhirnya Hendi dan Eka pamit pergi karena harus bertemu dengan salah satu author lainnya. Lisa hanya bisa berterima kasih dan memilih untuk pulang ke kontrakannya.
Lisa memesan ojek online motor dari pada mobil karena Lisa ingin segera sampai. Namun saat Lisa sedang menunggu ojol pesanannya, ada seorang laki-laki yang tidak sengaja menabrak Lisa dan ponselnya laki-laki tersebut terjatuh.
"Duh ... Teh, gimana ini ponselnya rusak?" tanya laki-laki itu seraya menyodorkan ponsel yang mati.
__ADS_1
"Loh, mohon maaf, kamu yang nabrak saya. Kenapa kamu salahin saya?" tanya Lisa heran.
"Ya karena yang saya tabrak Teteh, jadi Teteh juga harus bertanggung jawab dong," kekeh laki-laki tersebut dan melangkah mendekat.
"Heh! Jangan macem-macem ya?" ancam Lisa dan segera mundur beberapa langkah.
"Ya udah deh." Laki-laki itu langsung pergi begitu saja. Untungnya ojol pesanan Lisa segera tiba dan Lisa langsung naik ojol tersebut.
Sebenarnya seperti ada yang janggal, tetapi Lisa mengabaikan kejanggalan itu karena ponsel juga dompetnya masih utuh. Lisa pun kembali beristighfar.
Setibanya di kontrakan, Lisa langsung tidur hingga adzan dhuhur membangunkan dirinya. Lisa pun segera mengambil air wudhu dan sholat dzuhur lalu mengaji beberapa lembar. "Sadakallahuladzim," ucap Arkan bersama dengan saat Lisa menutup kitab sucinya.
"Aku udah bilang nggak perlu nyusul. Kenapa kesini?" kata Lisa begitu sinis. Tidak peduli dengan kedatangan Arkan, Lisa merapikan alat sholatnya dan duduk di atas tempat tidur kemudian menaikan ponselnya.
"Sayang ... kamu masih marah, hm?" tanya Arkan yang kemudian duduk disisi Lisa.
__ADS_1
"Kamu nanya?" Lisa menatap Arkan dengan rasa kecewanya.
"Sayang ... semalam Aa benar-benar ngantuk dan bangun-bangun udah pagi dengan kepala pusing banget. Jadi Merry mijit kepala Aa dulu," jelas Arkan, tetapi semakin membuat Lisa muak.
"Suka tidur sama Merry bonus pijit? Lupa kalau punya istri? Aku yakin kamu juga nggak sholat subuh kan? Pergilah. Aku mau tidur. Tubuh dan batinku capek." Lisa memicing dan berbaring di atas tempat tidur lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Sayang ... maaf. Aku ...." Lisa tahu Arkan akan bicara apa dan membuka selimut lalu duduk menatap Arkan dengan wajah marah.
"Nggak usah banyak bicara janji palsu atau sumpah serapah, Aa. Pergilah dan temui adik kesayangan kamu itu sebelum dia juga menyusul kamu kesini," ucap Lisa dan kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Tidak kuasa melihat istrinya marah, Arkan segera membuka selimut itu dan menindih tubuh Lisa. Tidak ada protes dan kata dari Lisa. Keduanya beradu mata cukup lama hingga Arkan menyesap bibir Lisa dengan penuh penyesalan dan permintaan maaf yang begitu dalam.
Namun Lisa tidak merespon dan Arkan pun mengehentikan ciumannya. "Sayang ... aku mohon, jangan marah, hm? Tolong ... kita kembali ke rumah ya? Aku merindukanmu bahkan aku nggak bisa kerja karena otakku penuh dengan namamu," kata Arkan yang kembali memberikan kecupan singkat di bibir Lisa.
"Aku bilang, pergi. Aku nggak akan kembali ke rumah itu selama adik kesayanganmu masih tinggal disana," jawab Lisa kemudian mendorong kuat tubuh Arkan dan Lisa beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
........
__ADS_1