
Arkan tiba dirumah dan bergegas masuk. Dia sengaja menggunakan sepeda motor agar pergi dan pulang dengan cepat tanpa macet. Namun saat Arkan beru saja sampai dan hendak naik ke lantai dua, Merry sudah ada di ujung tangga menatap Arkan penuh curiga.
"Aa, dari mana kok kayaknya basah?" tanya Merry kemudian meraba-raba baju Arkan yang memang sedikit basah.
"Tadi ada kucing melahirkan di depan," jawab Arkan kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian. Merry melongo mendengar jawaban Arkan yang tidak pernah sama sekali peduli dengan kucing, apalagi sampai kucing itu melahirkan.
Merry pun mengikuti langkah kaki Arkan masuk ke dalam kamar. Merry duduk di sisi tempat tidur untuk menunggu Arkan yang sedang berganti pakaian. "Sejak kapan Aa suka kucing?" tanya Merry langsung sesaat setelah Arkan keluar dari ruang ganti baju.
"Sejak tadi. Kucingnya berisik terus, Aa jadi bangun deh," jawab Arkan dengan santainya. "Aa laper nih," ucap Arkan seraya memijat pelipisnya.
"Laper kok yang di pegang kepala, bukannya perut," jawab Merry semakin heran dengan sikap Arkan.
__ADS_1
"Bukan laper itu, tapi laper sebagai suami yang ingin memakan istrinya. Tapi Aa masih kecewa sama Teteh kamu itu," sahut Arkan kemudian berlalu keluar dari kamar.
"Heh! Akan aku gunakan kesempatan ini supaya kamu mau menikahiku," batin Merry seraya menyunggingkan senyum dan kembali mengikuti langkah kaki Arkan. "Aa mau minum kopi lagi?" tanya Merry seraya memeluk lengan Arkan dan menuruni tangga bersama.
"Tapi tadi Aa abis minum kopi malah ngantuk. Aa mau liat piala dunia," ujar Arkan kemudian mengambil remote tv yang ada di atas meja dan duduk di sofa.
"Mungkin karena tadi Aa kecapean. Dingin-dingin begini kan enak minum kopi Sam biskuit, Aa," kata Merry masih memeluk lengan Arkan dan bersuara manja.
"Dingin-dingin itu enaknya main panas sama istri, tapi istrinya nggak ada," jawab Arkan masih fokus dengan orang-orang yang sibuk menggiring bola di tv.
"Ya gimana, Aa kamu ini kan laki-laki normal. Apalagi servis Lisa benar-benar buat Aa puas. Jadi Aa nggak bisa begitu saja mengabaikan dia," sahut Arkan masih fokus menatap layar televisi.
__ADS_1
Merry semakin kesal dan benar-benar ingin segera melakukan rencananya. Biasanya Ada Alfin yang menemani Arkan kemana pun dan dalam keadaan apa pun. Namun sekertaris pribadinya itu sedang cuti karena ibunya harus dioperasi di Surabaya. Sedangkan kedua orang tuanya baru tadi pagi pergi ke Jakarta menghadiri undangan resepsi pernikahan. Tadinya Bu Aisyah akan mengajak Lisa, tetapi Arkan menolak dengan alasan masih harus menemani anak-anaknya.
"Aa ... aku buatin bakso ya? Tadi Emak bikin bakso loh. Aa kan nggak mau kopi, jadi bakso lebih cocok dengan suasa malam ini," tawar Merry dan Arkan hanya mengangguk.
Melihat Arkan yang sibuk menatap layar televisi, segera Merry naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu kemudian bergegas ke dapur untuk memanaskan bakso yang dibuat oleh Bu Aisyah.
Aroma bakso itu benar-benar membuat Arkan lapar dan ingin sekali memakannya. "Wah! Enak ini kayaknya," Arkan menatap mangkuk berisi bakso di meja.
"Iyalah. Kan buatan Emak. Mana ada buatan Emak nggak enak. Udah buruan makan, Aa. Biar kuat liat piala dunianya." Arkan mengangguk dan mengambil mangkuk bakso tersebut.
"Nih kamu juga makan. Sini Aa suapin, buka mulutnya!" titah Arkan seraya menyodorkan satu sendok bakso tepat di depan mulut Merry.
__ADS_1
"A-aku ... aku ken-kenyang," jawab Merry yang terkejut, tetapi sendok itu telah masuk ke dalam mulutnya.
........