Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Melisa dan Merry


__ADS_3

Setelah kepergian Arkan, Lisa memilih tetap berdiam diri di kamar untuk melakukan sholat dhuha dan mengaji beberapa lembar. Selesai dengan ibadahnya, Lisa melanjutkan revisi naskahnya hingga jam makan siang. Beberapa kali Lisa di panggil oleh Bik Jum agar segera tutun ikut makan siang bersama, tetapi Lisa terlalu fokus hingga tidak mendengar ketukan dan panggilan dari Bik Jum.


"Wah ... enak ya main hape terus? Pantes aja dipanggil-panggil nggak denger, rupanya lagi asik selingkuh? Dasar janda gatel." Tiba-tiba Merry masuk ke kamar Lisa tanpa permisi seperti sebelumnya.


"Apa kamu nggak punya sopan santun sampai masuk kamar orang lain nggak ketuk pintu atau mengucap salam?" jawab Lisa kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Merry.


"Heh! Hei OKB ... alias orang kaya baru, lo disini itu nggak punya hak untuk ngatur gue! Dan ... percuma juga gue panggil lo karena telinga lo itu ketutup sama kudung lo itu, jadi lo budeg sampe Bik Jum panggil nggak denger," kata Merry seraya mendorong bahu Lisa dengan jari telunjuknya.


"Astaghfirullah ... apa iya? Mungkin aku terlalu fokus atau Bik Jum manggilnya pelan," batin Lisa yang memang tidak mendengar panggilan dari asisten rumah tangga di rumah mertuanya itu.


"Nah ... budeg kan lo? Makanya nggak usah sok manis deh sama gue, apa lagi ngatur gue buat masuk kamar ini. Lo sama sekali nggak berhak," ujar Merry lagi.

__ADS_1


"Siapa bilang? Aku istri Kakak kesayanganmu sekaligus Nyonya Muda disini, jadi aku berhak." Lisa menyilakan kedua tangannya didada seraya menatap sinis Merry yang berhadapan dengannya.


"What's? Songong beud ... Nggak usah mimpi ketinggian deh. Lo cuma istri pelampiasan, lo harus paham. Heh! Aa itu nikahin lo karena terpaksa oleh fitnah tentangga lo itukan? atau jangan-jangan lo udah atur semua tentang lo itu buat jebak Aa Arkan? Wah luar biasa liciknya lo itu Melisa," lanjut Merry.


"Astaghfirullah ... ternyata hatimu benar-benar dipenuhi oleh iri dengki, Merry."


"Nggak butuh cerah lo. Sekarang lo turun sebelum Emak juga naik buat nyuruh lo makan." Merry kembali mendorong bahu Lisa dengan jari telunjuknya dan segera keluar dari kamar itu.


...***...


Merry kembali memberikan lirikan sinis pada Lisa tepat setelah Lisa duduk di kursi meja makan. Kebetulan Bu Aisyah sedang menerima telepon saat Lisa datang, jadi Merry tidak ada niatan untuk berbaik hati saat orang tuanya itu tidak ada. "Katanya kamu pergi ke makam Arsya ya tadi?" tanya Lisa mencoba basa-basi dengan Merry dan sebenarnya hanya iseng karena dia tahu Bu Aisyah sedang berjalan menuju meja makan.

__ADS_1


"Ngapain lo tanya-tanya. Kita nggak seakrab itu buat lo tahu urusan pribadi gue," jawab Merry dengan nada sinis.


"Astaghfirullah ... Merry. Kamu kok nggak sopan gitu sama Teteh. Emak tahu dia orang baru buat kamu, tapi dia istri Aa kamu yang harus kamu hormati juga," kata Bu Aisyah seraya merengkuh bahu Merry.


"Sialann ... lo sengaja pasti biar gue kenak omel," batin Merry menatap Lisa penuh kebencian seolah Lisa bisa mendengar isi hatinya. Merry semakin menahan amarahnya dengan mengepalkan kedua tangannya karena Lisa terlihat menahan tawa.


"Iya, Mak. Merry akan berusaha sebaik mungkin sama Teteh baru ini," jawab Merry dengan nada lemah lembut kemudian mengusap tangan Bu Aisyah yang sedang merengkuh bahunya.


"Lo tunggu aja pembalasan gue, Melisa."


........

__ADS_1


__ADS_2