
"Duh ... aku jadi baper nih liat kalian pelukan gitu. Aku pulang aja deh pulang," kata Umi meledek Lisa dan Arkan. Keduanya pun terkekeh.
"Terima kasih selama ini jagain jodoh saya," ucap Arkan dengan formalnya.
"Aa, sama dia mah nggak usah pake bahasa formal. Biasa aja walaupun dia orang Jawa, tapi pinter juga kok bahasa Sunda, terutama bahasa cinta ... ahlinya," jawab Lisa kembali terkekeh.
"Dia penulis juga?" tanya Arkan.
"Iya. Dia orang yang paling berpengaruh dalam hidupku." Lisa merentangkan kedua tangannya agar Umi memeluknya.
"Aku merasa jadi selingkuhan deh," ledek Arkan yang membuat suasana di ruangan itu berbeda karena canda tawa mereka.
Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang masuk dan Arkan yang tadinya berwajah santai kembali serius. "Permisi, Pak. Ini hasil visumnya," orang itu memberikan sebuah map pada Arkan.
"Terima kasih," Arkan menerima map itu dan orang tersebut pergi.
"Visum?" Lisa menatap Arkan heran.
"Iya, Sayang. Aku minta kamu di visum biar jadi bukti kalau mantan suami kamu itu udah melakukan tindakan kekerasan. Biar buruk tuh laki-laki di penjara," kata Arkan dengan kesalahan bahkan mengeratkan giginya saat melihat hasil visum Lisa.
"Astaghfirullah ... aku nggak setuju, Aa." Tolak Lisa yang cukup terkejut karena ternyata Arkan akan melaporkan hal itu pada polisi.
"Kenapa, Sayang? Dia udah jahat sama kamu. Suami mana yang tega liat istrinya disakiti?" Arkan bahkan menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
"Aku ngerti. Aku ngerti gimana perasaanmu, Aa. Tapi, apa kamu lupa aku dan dia udah punya anak. Apa kamu nggak mikirin perasaan anak-anak aku saat tau Bapaknya di penjara. Apa kamu mau mereka jadi bahan bulian? Aku nggak mau Aa. Biarlah, yang penting sekarang aku udah menikah sama Aa, bukannya harusnya kamu berterima kasih sama Mas Tian karena gara-gara dia Aa bisa nikah sama aku?" ucap Lisa panjang lebar membuat Arkan langsung memeluk.
"Sayang ... kenapa kamu begitu baik. Kenapa hatimu begitu lembut?" Arkan bahkan hampir menangis dalam pelukan Lisa.
"Nggak semua kejahatan harus dibalas dengan kejahatan. Apa bedanya kita dengan mereka yang jahat kalau kita membalas perbuatan jahatnya. Biarlah mereka yang jahat, kita harus tetap jadi orang baik. Ada yang lebih adil dalam menghukum kejahatan, yaitu Allah. Aku ikhlas, Aa. InsyaAllah ada hikmah di balik musibah," jawab Lisa seraya mengusap punggung Arkan.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan menyimpan ini, tapi kalau dia berani macam-macam lagi, aku yang akan menghabisinya sendiri," kata Arkan dan melepaskan pelukannya. "Kamu lapar? mau sarapan jatah dari rumah sakit atau kamu mau makan yang lain?" tanya Arkan mengalihkan pembicaraan.
"Bolehkah aku minta sesuatu?" tanya Lisa.
"Ya bolehlah, kenapa nggak boleh," jawab Arkan kemudian menangkup kedua pipi Lisa dan mencium keningnya.
"Aku minta beliin nasi uduk ya, Aa?" pinta Lisa.
"Siap. Tunggu ya?" Lisa mengangguk dan Arkan pun berlalu.
Umi kembali memeluk Lisa untuk beberapa saat dan keduanya pun beradu mata. "Semoga kali ini kamu bahagia seutuhnya dengan pernikahanmu," ucap Umi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bismillah, Mbak. Walaupun aku belum tahu seberapa besar rasa cintanya padaku dan aku belum mencintainya, aku yakin takdir mempertemukan kita bukan tanpa sebab," jawab Lisa.
...***...
Siang itu Lisa sudah diperbolehkan untuk pulang karena tidak ada hal yang serius, jadi Lisa meminta untuk pulang. Bukan pulang ke rumah Arkan dan bertemu Emak juga Bapak Arkan, tetapi pulang ke kontrakan Lisa terlebih dahulu.
"Nggak pa-pa ya, Aa. Soalnya aku susah beradaptasi dengan lingkungan setelah perceraianku dengan Mas Tian," jawab Lisa seraya membuka lemari untuk mencari baju ganti.
"Sayang, bisa nggak kamu nggak usah sebut-sebut nama laki-laki itu lagi? Kamu tahu aku sangat cemburu kamu sebut dia 'Mas' terus," sahut Arkan dengan raut wajah cemburu.
"Mas Tian ... em gimana ya? Mas Tian kan mantan suami aku, jadi Mas Tian nggak mungkin ... em Mas Tian ...." Lisa meledek Arkan.
"Sayang!" Arkan cukup kesal dan bangkit dari tempat tidurnya lalu memeluk Lisa.
"Hm, maaf. Aa nggak perlu cemburu. InsyaAllah ... aku nggak akan sebut nama dia lagi," jawab Lisa membalas pelukan Arkan.
"Sayang ... boleh aku minta hak aku sebagai suami sekarang? Aku ingin melakukannya," Lisa paham dengan permintaan Arkan.
__ADS_1
"Harus sekarang juga? Bisa besok aja nggak?" Arkan menggelengkan kepalanya dan masih memeluk Lisa dengan erat bahkan sudah mulai bersikap sangat manja. "Tapi aku belum suntik KB, Aa. Kita juga tadi nggak beli pengaman dulu. Aku belum siap kalau harus punya anak dalam waktu dekat ini," Arkan semakin mengeratkan pelukannya.
"Tapi ... aku udah nggak tahan. Pengen sekarang juga. Kita kan pengantin baru," Arkan pun melepaskan pelukannya dan menyambar bibir Lisa lalu memberikan kecupan-kecupan singkat di sana. Lisa tidak merespon. Dia hanya tersenyum melihat sikap suaminya. Tentu saja Lisa sangatlah suka dengan gaya manja Arkan yang meminta haknya. "Boleh ya? Aku keluarin di luar nanti, hm?" pinta Arkan dengan raut wajah yang begitu lucu bagi Lisa. "Sayang?" panggil Arkan masih dengan nada yang sama karena Lisa tidak merespon dan hanya tersenyum.
"Besok aja ya? Aku bener-bener belum siap, Aa. Nggak pa-pa kan?" jawab Lisa, tetapi raut wajahnya membuat Arkan sangat gemas.
Bukannya merespon, Arkan kembali menyambar bibir Lisa dan menyesapnya. Lisa masih belum merespon karena takut jika dia merespon, Arkan semakin tidak bisa menahan hasratnya. Tiba-tiba Arkan menyudahi ciumannya.
"Kok diem aja? Please! Ini pertama kalinya untukku, Sayang." Lagi-lagi Arkan merengek. Lisa masih tidak merespon. Arkan pun membawa Lisa berbaring di atas tempat tidur dan menindihnya. "Bolehkan? Atau Aa harus ke apotik dulu buat beli pengaman atau pil?" tanya Arkan masih dengan raut wajah memelas.
"Aa ... apa Aa benar-benar mencintai Lisa?" Tiba-tiba Lisa memberikan pertanyaan yang membuat Arkan terkejut.
"Kenapa bertanya begitu? Tentu saja aku sangat mencintaimu, Sayang. Aku mau kita menua bersama, hm? Apa kamu butuh jawaban lain? Atau aku harus melakukan apa biar kamu segera jatuh cinta pada suamimu ini?" Arkan pun balik bertanya.
"Nggak perlu. Aku percaya. Tapi kalau aku punya permintaan, apa Aa akan langsung memberikannya?"
"Ya tergantung permintaannya. Kalau bisa dilakukan dengan cepat ya pasti Aa berikan,"
"Kalau aku minta Aa nikah lagi? Gimana?"
"Astaghfirullah ... kenapa kamu bilang begitu Sayang? Kita bahkan belum genap satu hari menjadi pasangan suami istri,"
"Umur nggak ada yang tahu, Aa. Kalau aku meninggal duluan, tolong ... menikahlah lagi." Arkan tidak menjawab dan malah menjatuhkan tubuhnya di sisi Lisa. Hasratnya hilang saat itu juga. "Aa ... kenapa?" tanya Lisa yang kini bergantian menindih tubuh Arkan.
"Aku nggak tahu duniaku akan bagaimana kalau apa yang kamu katakan tadi benar-benar terjadi." Arkan terlihat putus asa.
"Apa sekarang Aa udah nggak mau ituan?" Lisa terlihat meledek.
"Jadi kamu sengaja ya?" Arkan kembali dengan raut wajah manja dan membalikkan badan agar Lisa berada dalam kungkungannya. Lisa hanya terkekeh. "Dasar nakal." Tidak mau menunda lagi, Arkan pun menuntaskan hasratnya.
__ADS_1
..