Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Kenangan Arkan


__ADS_3

Arkan masih diam dalam pelukan Merry dan membalas pelukan itu dengan hangatnya. Apa pun yang Merry inginkan selalu diberikan, apalagi setelah kepergian Arsya karena memang Merry satu-satunya penghibur Arkan setelah kepergian Asrya. Bahkan kehidupan Merry di luar negeri sangatlah mewah dan dikawal oleh beberapa bodyguard.


Delapan tahun lalu saat Arkan berusia dua puluh dua tahun atau tepatnya satu tahun sebelum Arsya meninggal, Arkan nyaris menikah dengan seorang wanita biasa yang dia temui tanpa sengaja, sama seperti saat bertemu dengan Lisa. Dia percaya takdir membawanya bertemu dengan gadis cantik anak seorang pedagang kaki lima.


Namun sayangnya, gadis itu kedapatan mencuri perhiasan Bu Aisyah beberapa hari sebelum pernikahan itu terjadi. Merry bahkan mencaci maki gadis itu padahal Merry masih berusia empat belas tahun. Padahal uang mahar yang diberikan tidak sedikit dan Arkan juga akan membiayai pengobatan Bapak gadis tersebut yang sedang mengalami gagal ginjal.


Malu karena ketahuan mencuri, gadis itu lari. Naasnya karena terbawa emosi dan tidak hati-hati, dia tertabrak mobil dan meninggal ditempat. Sejak saat itu Arkan tidak pernah lagi jatuh cinta. Beberapa rekan bisnisnya mengenalkan dia pada anak-anak mereka, tetapi Arkan tidak pernah tertarik sama sekali. Kehilangan gadis yang dia cintai, membuat Arkan seperti kehilangan semangat hidup. Arsya dan Merry lah yang selalu menghibur Arkan, tetapi semua itu hanya bertahan satu tahun.


"Nanda!" batin Arkan memanggil nama gadis yang pernah dia cintai. "Arsya!" Arkan pun meneteskan air mata mengingat kejadian beberapa tahun lalu.


"Aa, aku lapar," kata Merry yang kemudian melepaskan pelukannya. Arkan segera mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Aa abis nangis? Kenapa?" tanya Merry kemudian menangkup kedua pipi Arkan. Mereka berdua saling membalas senyum. "Aa inget Arsya?" tanya Merry lagi dan Arkan mengangguk. "Mau ke makamnya?" Arkan kembali mengangguk. "Tapi makan dulu ya? Merry laper mau disuapin Aa." Arkan kembali mengangguk.


Arkan dan Merry pun pergi ke dapur. Merry celingukan mencari keberadaan Lisa, tetapi tidak ada. "Tetehmu kembali ke kontrakannya. Sepertinya dia nggak akan kembali kesini kalau kamu masih disini," kata Arkan seraya mengambilkan adiknya nasi, sayur juga lauk pauk dan duduk di kursi tepat di sisi Merry.

__ADS_1


"Aa nggak mungkin kan ngusir aku?" Merry menatap Arkan lekat.


"Rencananya Aa mau kamu tinggal di apartemen," ucap Arkan dan siap menyuapi Merry.


"Merry nggak mau."Merry membuang muka. "Merry udah bilang kalau Merry lebih baik balik lagi ke luar negeri dari pada pergi dari rumah ini demi Melisa." Merry besengut bersilang tangan didada.


"Iya. Ayo makan dulu. Katanya mau anter Aa ke makam Arsya." Merry pun luluh dan makan dari suapan Arkan. Dia kembali senang karena Arkan membelanya dari pada Lisa. "Tapi kayaknya Aa ke makamnya besok aja." Merry langsung berhenti mengunyah.


"Kenapa? Aa mau nyusul Melisa ke kontrakan?" tanya Merry dengan serius.


"Oh ... kirain kesana. Tapi bener Aa nggak ada niat kesana?"


"Paling kamu yang akan kesana."

__ADS_1


"Dih ... ogah. Big no!"


"Siapa yang bisa menebaknya."


"Mau ngapain juga kesana."


"Mungkin mau minta maaf."


"Nggak mungkin!"


"Ya udah makannya abisin. Setelah selesai kamu istirahat aja, Aa mau pergi."


"Hm." Arkan menemani Merry makan hingga suapan terakhir kemudian pergi.

__ADS_1


........


__ADS_2