Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Pura-pura Sakit


__ADS_3

Arkan masih sibuk dengan ponselnya. Ibu jarinya sejak tadi tidak berhenti mengetik dan membalas pesan entah dari siapa. Namun saat mendengar suara Merry yang terburu-buru menaiki tangga, Arkan menghentikan aktivitasnya dan bersiap lalu keluar dari kamarnya. Tujuannya bukan langsung menuju meja makan, melainkan menuju kamar Merry.


Anehnya saat Arkan akan masuk, pintu kamar itu di kunci. Padahal Merry tidak pernah mengunci pintu kamarnya dengan alasan kalau dia menginggau, Arkan akan mudah masuk dan memeluknya. Bu Aisyah juga datang menghampiri Merry karena ada yang salah dengan sikapnya tadi.


"Kamu tahu Merry semalam dari mana?" tanya Bu Aisyah pada Arkan, tetapi Arkan hanya mengangkat kedua bahunya. "Terus anak itu kenapa? Coba ketuk pintunya, panggil dia suruh cepet sarapan," kata Bu Aisyah kemudian kembali ke dapur.


"Merry!" seru Arkan seraya mengetuk pintu kamar itu dengan cukup keras.


"Brengsekk! Gue harus gimana? Mana banyak banget ini cupangnya. Sialann ... Sandi benar-benar ceroboh. Atau malah gue yang terlalu bersemangat," gumam Merry bingung menutupi jejak merah dilehernya akibat permainan panasnya dengan Sandi.

__ADS_1


Merry tidak begitu ingat berapa kali dia bermain panas dengan Sandi semalam. Sandi adalah pacar yang dia jadikan alasan perginya ke luar negeri. Bahkan dialah satu-satunya laki-laki yang mengambil kesuciannya juga teman tidurnya selama beberapa tahun hingga Merry terpaksa menggunakan alat kontrasepsi demi mencegah kehamilannya.


"Aku sangat menginginkanmu, Aa. Sangat dan sangat. Puaskan Merry Aa! Merry nggak tahan. Merry kepanasan, Aa. Tolong Merry! Mari kita bercinta sampai puas, Aa." ucap Merry begitu tiba di kamar Sandi. Pikiran yang tengah dipengaruhi obat itu sudah membutakan matanya sehingga wajah Sandi berubah menjadi Arkan. Merry terus bercumbu dengan Sandi bahkan dia tidak ingat mendapatkan pelepasan berapa kali.


"Argh! Gue harus cari syal dan pura-pura sakit karena kehujanan semalam." Merry menjambak rambutnya sendiri karena tiba-tiba bayangan adegan semalam melintas dipikirannya.


Segera Merry masuk ke dalam walk in closet dan mencari syal. Untungnya dia sudah mengerok lehernya yang merah sebagai tanda dia masuk angin. Merry mengacak-ngacak rambutnya dan berlarian menuju pintu untuk segera membuka kuncinya. Sebelum itu Merry mengatur nafasnya terlebih dahulu dan mengubah raut wajahnya menjadi sedih. "Uhuk! Ehem! Tes! Huft ... saatnya berakting." Merry pun membuka pintu kamarnya.


"Maaf, Aa. Merry nggak enak badan. Merry pikir Merry mau istirahat," jawab Merry segera berbalik badan karena takut Arkan curiga padanya. "Semoga Emak nggak bilang kalau leher gue banyak cupangnya," batin Merry kemudian berbaring di atas tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

__ADS_1


Arkan mengangkat satu alisnya karena heran dengan adik angkatnya itu. "Drama apa lagi dia ini?" batin Arkan kemudian duduk di sisi tempat tidur dan menempelkan tangannya di kening Merry. "Nggak panas kok!" kata Arkan dan Merry langsung gugup.


"Aku cuma masuk angin, Aa. Bukan demam. Udah Aa berangkat aja. Nanti juga baikan kok," jawab Merry seraya pura-pura batuk.


"Mau Aa kerokin? Aa pinter loh. Biasanya Bapak kalau masuk angin Aa yang kerokin," tawar Arkan dan Merry semakin gugup.


"Gilaa aja kalau gue buka baju dan ternyata tubuh gue banyak cupangnya, bisa mati gue," batin Merry bingung mencari alasan. "Em nggak lah. Sakit! Merry minta obat aja nanti sama Bibik. Aa buruan berangkat. Nanti telat malah di contoh sama karyawannya, nggak baik juga," alih Merry dan kembali batuk-batuk.


"Lagian kamu dari mana sih? Semalam Aa mau temenin kamu tidur, eh kamu nggak ada. Aa jadi tidur sendirian. Istri nggak ada, adik nggak ada. Kesepian Aa nggak ada yang dipeluk," keluh Arkan membuat Merry semakin gugup.

__ADS_1


"Eh ... itu ... em aku ...."


........


__ADS_2