
Nada dering di ponsel Arkan yang berkali-kali berbunyi membuat Lisa mau tidak mau membuka matanya dan meraih ponsel Arkan yang ada di atas nakas. Arkan tidak peduli dan enggan untuk melepaskan pelukannya dari Lisa saat Lisa membangunkan dia.
Ada nama Merry dilayar ponsel itu dan Lisa langsung menyunggingkan senyum. "Si Merry pedut," batin Lisa kemudian mengusap tombol berwarna hijau dan meletakkan ponsel itu di telinganya.
"Aa ... kemana sih kok nggak ada di kantor? Katanya Aa keluar tanpa pamit sejak siang ya? Aa nggak pa-pa? Aa kasih tahu Merry Aa dimana sekarang? Biar Merry susul," cerocos Merry tanpa memberikan jeda sama sekali atas pertanyaan itu.
"Kamu tenang aja. Aa Arkan sedang memelukku saat ini. Dia tidur karena lelah bercinta dengan istrinya tadi," jawab Lisa dengan nada malas dan seolah memberi tahu Merry jika itu sebuah sindiran yang menandakan Lisa akan menang.
"Si-." Merry menahan ucapannya karena bisa jadi Lisa mengeraskan suara ponselnya dan Arkan tidak benar-benar tidur. "Oh ... ya udah kalau gitu," ujar Merry terdengar frustasi dan Lisa kembali menyunggingkan senyumnya setelah panggilan itu terputus.
"Emh-," desah Arkan mengeratkan pelukannya pada Lisa dan benar-tidaknya tidak peduli Lisa menjawab panggilan telepon yang masuk itu. Lisa dan Arkan belum memakai baju sama sekali. Hawa dingin dari AC yang sengaja Arkan turunkan setelah keduanya memain panas membuat Arkan merasakan hawa dingin yang luar biasa dan sedang mencari kehangatan.
"Aa, bangun. Udah sore," Lisa berusaha melepaskan tangan Arkan, tetapi Arkan tidak mau melepaskannya. "Aa ... kita belum sholat Ashar." Lagi-lagi percuma membangunkan Arkan. Lisa pun mengehela napas panjang.
"Sayang ... Aa kedinginan," keluh Arkan dengan suara manjanya.
__ADS_1
"Salah sendiri suhunya diturunin. Mana remote nya biar aku naikin," pinta Lisa dan bergerak sembarangan hingga menyentuh junior Arkan.
"Sayang ... ada yang bangun, kamu harus menidurkan dia lagi," ucap Arkan yang tiba-tiba terlihat sehat dan bukan seperti orang yang baru saja bangun tidur.
"Jadi kamu udah bangun dari tadi?" tanya Lisa heran Arkan hanya tersenyum. "Terus kenapa pura-pura tidur hapenya bunyi terus?" Lisa kesal, tetapi membuat Arkan semakin gemas.
"Nggak penting. Lagian udah kamu jawab. Sekarang kamu harus menidurkan dia lagi," kata Arkan seraya menunduk menunjukkan bahwa juniornya telah berdiri sempurna. Lisa hanya memutar malas bola matanya. Namun Arkan sangat semangat kembali bercinta.
...***...
"Aku mau disini dulu, Aa. Kalau Aa mau pulang ya pulang aja. Rumahku disini selama ini," jawab Lisa sibuk dengan ponselnya. Arkan mengambil ponsel Lisa dan meletakkannya di atas nakas. Arkan menarik tubuh Lisa untuk duduk di pangkuannya dan bertatap muka.
"Kalau istriku minta disini ya dengan senang hati aku juga akan tinggal disini," jawab Arkan diiringi senyuman manis.
"Disini sempit, Aa. Nggak ada kemewahan sama sekali. Pulanglah. Adikmu pasti nyariin," kata Lisa tanpa ada semangatnya bicara. Padahal keduanya sudah bercinta dua kali, tetapi tidak mengubah mood Lisa sama sekali.
__ADS_1
"Sayang ... kenapa masih bahas itu?" Arkan terlihat sedih.
"Terus bahas apa?" tanya Lisa jutek.
"Kamu lupa kalau besok anak-anak kita akan datang? Memang kamu mau mereka tinggal disini? kasurnya cuma single, loh!" jawab Arkan yang kembali merubah raut wajahnya.
"Mereka anak-anakku." Lisa masih tidak mood bercanda.
"Mereka juga anak-anak aku karena aku telah menikahi ibunya," jawab Arkan yang kemudian memberikan kecupan singkat di bibir Lisa.
"Terserah kamu. Aku mau turun dan aku yakin mereka nggak akan protes tinggal disini bersamaku," ucap Lisa dengan malasnya dan berusaha turun dari pangkuan Arkan.
"Sayang ... kamu masih marah? Bilang sama aku, kamu mau gimana? Kita cari solusinya, hm?" bujuk Arkan.
"Aku mau Merry pergi dari rumah itu dan jangan sampai dia jadi sekretaris pribadimu, Aa. Tapi sayang itu nggak akan mungkinkan? Aku tahu, untuk itu biarkan aku dan anak-anakku tinggal disini. Kalau kamu mau minta jatah, kemarilah. Aku nggak akan nolak. Kita bisa melakukanya di ruang tamu atau kamar mandi." Lisa pun beranjak dari pangkuan Arkan setelah Arkan melonggarkan pelukannya. "Kamu pasti terkejut dengan kemauan ku dan nggak akan bisa mengabulkannya?" batin Lisa dan kembali mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.
__ADS_1
........