
Sepanjang malam Lisa terus memikirkan Arkan. Dia memang terlihat baik dan serius, apalagi dengan perkataannya sebelum pergi yang katanya akan menghidupkan cintanya yang telah lama mati.
Namun ada yang mengganjal di hati Lisa tentang apakah Arkan pernah menikah ataukah belum, itu yang sedang dipikirkan Lisa saat ini. Tidak mungkin juga sepertinya seorang pria yang usianya sudah kepala tiga tapi belum menikah.
Akhirnya Lisa mengambil kotak yang diberikan oleh Bu Aisyah yang katanya itu mahar yang diberikan oleh Arkan. Cukup ragu sebenarnya sebelum dia membuka kotak itu karena takut jika dia suka dengan maharnya malah akan menimbulkan rasa suka hanya karena mahar saja.
"Bismillah, Ya Allah ... Jika memang ini yang terbaik, maka lancarkan lah hal yang baik ini agar menjadi berkah, aamiin." Lisa pun membuka isi kotak itu. Begitu terbuka, alangkah terkejutnya Lisa melihat isi dari dalam kotak tersebut. MasyaAllah ... sekaya apa orang ini sampe kasih sebanyak ini?"
Lisa tidak kuasa menatap tumpukan uang, kalung berlian, cincin juga baju pengantin yang walaupun terlipat rapi, sudah bisa dipastikan itu baju yang sangat mahal. Segera Lisa meletakkan kotak tersebut di bawah meja. "Dia mau melamar aku atau mau menyuap?" Beberapa kali Lisa menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan.
Ponselnya bergetar banyak kali tanda ada sebuah pesan yang masuk. Namun karena nomor baru, Lisa tidak mau membukanya. Bukan hanya sekali dua kali Lisa mendapatkan pesan dan panggilan dari nomor baru, tetapi bahkan ribuan kali dan Lisa tidak berniat membuka pesan itu.
Tentu bukan tanpa sebab Lisa mengabaikan banyak pesan yang masuk, tetapi Lisa takut itu pesan dari anak pertamanya Azka yang memang sudah pandai mengirim pesan. Lisa bahkan tidak tahu bagaimana keadaan kedua orang tuanya. Bapaknya sudah cukup tua, dan Ibunya saat itu akan di operasi karena mengidap batu ginjal. Lisa adalah anak broken home yang mana dia juga punya Bapak dan Ibu tiri.
Bagi sebagian orang, pastilah membodohkan tindakan Lisa yang pergi tanpa pamit. Mereka juga akan menganggap Lisa adalah Ibu yang egois. Namun Lisa terus menepis anggapan itu karena mereka tidak menjalani kehidupannya.
Mereka tidak pernah tahu bagaimana tinggal dengan seorang Bapak tiri dan merasa terbuang oleh Bapak kandung. Ditambah Lisa harus mendapatkan perlakuan dan ucapan yang terus menerus menyakiti hatinya dari sang suami yang seharusnya memberikan apa yang tidak pernah Lisa dapatkan, yaitu kasih sayang dari seorang laki-laki karena sejak kecil Bapak tirinya sering memberikan Lisa pukulan tanpa sepengetahuan Ibu kandungan, juga Lisa tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Bapak kandungannya karena jarak mereka berdua.
__ADS_1
"Apa Mas Tian udah ngajuin gugatan cerai dipengadilan ya? Kalau belum nggak mungkin aku bisa menikah dengan laki-laki lain kecuali nikah siri. Tapi ... apa aku bisa mulai dari nol lagi jika aku pernah gagal. Aku takut kalau suamiku nanti lebih banyak memberiku luka dari pada Mas Tian." Tidak ada yang bisa Lisa lakukan selain bermonolog. Memang hal itu yang bisa Lisa lakukan sejak satu tahun yang lalu.
Merasa lelah memikirkan hal-hal yang membuatnya sakit hati, Lisa memilih untuk menulis karena hanya itu obat dari rasa sepinya. Setiap apa yang Lisa rasakan, selalu Lisa ungkapkan lewat tulisan novel-novelnya yang memang belum terlalu populer, tetapi sudah memberikan Lisa pundi-pundi rupiah selama setahun itu.
Jika salah satu karyanya berhasil rilis menjadi web series, Lisa akan mendapatkan puluhan juta dari karyanya tersebut. Membayangkan hal itu membuat Lisa terus menerus mendapatkan semangat dari menulis. Apalagi banyak pembaca yang suka dengan karya-karya Lisa sebagai Mom_kaka lewat komentar-komentar positif bahkan mereka juga meminta akun sosial medianya.
Tidak sulit membuat akun dengan nama penanya. Tentu bukan dia tidak mau, tetapi lagi-lagi Lisa takut jika mendapatkan kabar apa pun tentang anaknya, itu akan menggoyahkan komitmen Lisa.
...***...
Segera Lisa beranjak dari tempat tidurnya karena harus menunaikan ibadah subuh. "Aneh, kenapa aku nggak denger adzan subuh? Nggak kayak biasanya." Lisa pun pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melakukan rutinitasnya.
Selepas beribadah, Lisa membereskan kamarnya yang cukup berantakan karena semalam dia ketiduran saat sibuk dengan novelnya. Setelah sholat tahajud dan istikharah pun dia bergegas tidur karena ada sunah yang harus dia lakukan setelah sholat istikharah.
"Apa mimpi itu jawaban dari apa yang aku tanyakan padamu, Ya Allah?"
Setelah selesai beres-beres Lisa bergegas mandi dan bersiap karena hari ini dia kan pergi ke sebuah kajian pagi di masjid agung yang jaraknya cukup jauh dari kontrakannya. Lisa lebih memilih jalan kaki karena selain sekalian berolahraga, Lisa senang melihat orang-orang yang melintas di jalanan bahkan suka membantu mereka yang takut menyebrang jalan.
__ADS_1
Namun baru Lisa keluar dari gang kontrakan dan hendak ke jalan utama, ada sosok yang telah menunggunya. "Assalamualaikum ... Melisa," sapa Arkan dengan raut wajah bahagia dan senyum yang mempesona.
"Wa'alaikumsalam ...." Lisa pun menundukkan kepalanya setelah menjawab salam itu kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya ke tempat tujuan. Arkan tidak langsung ikut mengekor dan memberikan jarak padanya. Namun lagi-lagi Lisa dikejutkan oleh sosok yang tak pernah dia harapkan hadir dan memanggil namanya.
"Lisa ... tunggu!" Seketika Lisa langsung mematung dan membulatkan matanya mendengar suara yang begitu tidak asing untuk kedua telinganya. Lisa pun kembali menoleh mencari sumber suara. "Akhirnya aku menemukanmu, Sayang." Arkan pun terkejut mendengar laki-laki itu memanggil Lisa dengan kata Sayang. Matanya pun memicing menatap lekat serta bertanya siapa yang membuat Lisa tiba-tiba merubah raut wajahnya.
"Kenapa kamu kesini, Mas?" tanya Lisa dengan suara bergetar dan nyaris menitikkan air matanya.
"Aku mencarimu selama ini. Aku merindukanmu. Aku mau kita rujuk," bukannya bahagia, Lisa pun tak kuasa menahan air matanya lagi.
"Apa? Rujuk?" Lisa mengulang perkataan itu.
"Iya. Maaf karena selama ini aku salah," ucap pria itu.
"Kenapa sekarang kamu baru minta maaf, Mas? Apa kamu tahu, kita nggak akan pernah bisa rujuk karena kamu sudah menjatuhkan talak tiga untukku." Lisa masih tertunduk dengan suara yang begitu berat.
"Kita bisa mencari muhallil, Sayang. Kita bisa kembali menjadi suami istri dan membesarkan anak kita bersama-sama." Lisa terpaku dengan tangis tanpa suara.
__ADS_1