
"Teh! Mana ponselnya?" Lisa menepuk bahu Reni yang masih tidak percaya dia sudah menikah.
"Eh! Kamu kapan nikah?" tanya Reni penasaran.
"Kemaren. Udah buruan mana ponselnya?" Reni pun segera mengambil ponselnya di dalam saku celananya. Untungnya Lisa sudah menghafal nomor telepon Arkan, jadi dalam keadaan darurat seperti sekarang, dia bisa menghubungi suaminya dengan mudah.
Buru-buru Lisa menekan tombol panggil dan berharap suaminya mengangkat panggilan walaupun dari nomor baru. Namun pada panggilan pertama, telepon itu tidak dijawab oleh Arkan. Akhirnya untuk yang ketiga kalinya telpon pun diangkat.
"Hallo ... Aa! Assalamualaikum. Ini aku Melisa,"
"Apa? Wa-wa'alaikumsalam. Sayang ... kamu dimana sih? Para pengawal bilang kamu ilang."
"Aku masih di pasar. Tadi ikut ngejar jambret malah ketinggalan. Suruh pengawal Aa itu ke Toko Baju Teh Reni ya?"
"Astaghfirullah ... kenapa kamu nggak tunggu aja sih di tempat. Aa hampir mati berdiri ini denger kabar kamu hilang, Sayang."
"Sekarang udah tenangkan? Buruan telpon pengawal yang tadi ya?"
"Iya, Sayang. Untungnya kamu hafal nomorku. Kamu tunggu disitu, jangan kemana-mana lagi,"
"Oke. Assalamualaikum." Lisa segera menutup panggilan teleponnya tanpa menunggu Arkan menjawab salamnya.
"Teh, kayaknya suami aku punya musuh." Lisa kembali khawatir dan masih bertanya-tanya siapa wanita itu.
"Kenapa begitu? Kamu nikah sama siapa sih?" tanya Teh Reni.
"Aku juga belum kenal betul sama dia, Teh. Kami nikah juga dadakan. Tapi doakan aku baik-baik aja ya dengan pernikahan aku yang sekarang. Sebentar lagi ada yang jemput aku, makasih ya udah dipinjamin hapenya," Reni mengangguk.
"Kamu hati-hati ya? Jaga diri baik-baik,"
"Iya, Teh. Kayaknya mereka udah datang, aku pamit ya? Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Lisa pun keluar dari ruang ganti dan benar jika pengawal sebelumnya sudah ada di depan toko. "Nona, ini tasnya." Satu pengawal memberikan tas selempang milik Lisa yang berhasil di ambil.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih. Aku kira nggak bakal balik," Lisa pun pergi dari pasar itu tanpa membeli apa yang ingin dia beli sebelumnya.
...***...
Arkan buru-buru pulang setelah mendapatkan kabar Lisa hilang dari pengawalnya. Tanpa salam atau apa pun, Arkan segera masuk ke dalam kamar dan memeluk Lisa yang sedang berbaring di atas tempat tidur. "Sayang!" Arkan benar-benar mengeratkan pelukannya.
"Aa! Aku nggak bisa nafas kalau kayak gini," kata Lisa mencoba melonggarkan pelukan suaminya.
"Iy-iyaa. Maaf. Aa khawatir banget tadi. Kamu bener-bener nggak pa-pa kan?" Arkan pun melepaskan pelukannya dan mencium kening Lisa.
"Aa udah liat sendiri, aku nggak pa-pa. Emang kenapa sih? Udah kayak apa aja." Lisa ingin tahu bagaimana reaksi Arkan kalau dia menceritakan dirinya diculik. Tapi Lisa ingin tahu terlebih dahulu siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Arkan.
"Mau gimana lagi? Aa takut banget kehilangan kamu. Aa pikir kamu di apa-apain sama mantan suami kamu itu," ucap Arkan seraya tidur di pangkuan Lisa.
"Misalnya bukan dia, tapi musuh Aa yang apa-apain, gimana?"
"Aa tuh nggak punya musuh, Sayang. Soalnya Ada nggak pernah jahat sama orang,"
"Dih! Penilaian orang mah mana tahu, Aa. Banyak di luar sana yang manis di depan tapi jadi racun di belakang."
"Em ... mantan istri, mungkin."
"Kamu aneh sih, kan Aa belum pernah menikah,"
"Ya mantan pacar,"
"Cuma satu, dan dia udah meninggal. Kenapa sih kok kamu kayak ada sesuatu yang mengganjal gitu?"
"Nggak pa-pa kok,"
"Kalau gitu, Aa mau itu lagi ya?"
"Ish ... apaan sih,"
"Boleh dong. Namanya juga pengantin baru." Arkan pun langsung melakukan ritualnya bersama Lisa hingga keduanya tertidur.
__ADS_1
...***...
Sore harinya, Arkan kembali mendapatkan panggilan telepon dari Ibu Aisyah jika dirinya dan Lisa harus pulang ke rumah untuk makan malam bersama. Bukan hanya sekedar makan malam, tetapi ada yang lebih spesial lagi dari makan malam. Lisa hanya menurut karena sebaiknya memang pergi ke rumah mertuanya dan menghafalkan jalan menuju kesana.
Sepanjang perjalanan Lisa dan Arkan mengobrol. Menceritakan apa kesukaan Emak dan Bapaknya. Lisa sangat antusias dan mendengarkan dengan seksama bahkan sesekali mencari resep makanan kesukaan mertuanya di aplikasi merah. Arkan terlihat sangat bahagia dan begitu mencintai Lisa. Benar-benar layaknya pengantin baru padahal Arkan sudah kepala tiga.
"Aa, kalau Emak sama Bapak pengen cepet-cepet punya cucu, gimana?" tanya Lisa yang khawatir dia diminta untuk segera hamil seperti novel-novel yang dia baca. Lisa benar-benar belum siap untuk itu karena harus mendapatkan hak asuh terlebih dahulu untuk anak-anaknya.
"Nggak mungkin. Mereka cuma dengerin pendapat aku, Sayang. Aku juga udah bilang sebelumnya untuk nggak bahas cucu kalau kamu benar-benar belum hamil. Jadi nggak mungkin mereka maksa kamu buat cepet hamil."
"Soalnya kemaren aku suntik KB dan aku bener-bener belum ingin hamil lagi, maaf."
"Nggak pa-pa, Sayang. Aa ngerti kok." Lisa mengehela napas lega.
...***...
Arkan keluar dari mobil terlebih dahulu dan Lisa harus mengangkat panggilan masuk dan Hendi karena mungkin agak lama, jadi Lisa memilih untuk berdiam di dalam mobil terlebih dahulu. Memang Arkan cemburu, tetapi Lisa meyakinkan dirinya kalau yang mereka bahas itu nggak jauh-jauh dari judul novel Lisa yang akan diangkat menjadi web series.
Tentu saja Arkan pasrah dan masuk terlebih dahulu ke dalam rumah. Sedangkan Lisa masih sibuk dan berusaha sesegera mungkin untuk mengakhiri panggilan itu karena takut di tunggu oleh mertuanya.
"Hehe ... maaf Kak. Semuanya juga mendadak. Lisa juga nggak tahu bisa menikah dengan laki-laki yang duduk di belakang Kakak waktu di Olala cafe itu. Bener-bener semuanya itu suatu kebetulan. Tapi nggak tahu juga kalau emang udah begitu takdirnya," jelas Lisa di akhir pembicaraannya dengan Hendi dan Lisa pun menutupnya dengan salam kemudian buru-buru masuk ke dalam rumah.
Namun langkahnya terhenti di depan pintu utama sesaat sebelum dia mengucapkan salam. Lisa mendengar suara perempuan yang memanggil Arkan dengan sebutan sayang. "Aa Arkan sayang. Merry kangen banget loh." begitulah yang Lisa dengar.
"Bukannya dia bilang hanya istrinya yang boleh panggil dia Aa. Aku nggak salah denger kok," batin Lisa masih ragu untuk masuk ke dalam rumah.
"Kok Lisa lama amat sih, Nak? Emak udah kangen banget sama dia," Lisa mendengar suara Ibu mertuanya kali ini.
"Lisa? Lisa siapa Mak?" tanya seorang perempuan yang Lisa yakini itu bernama Merry.
"Istrinya Aa kamu, Sayang. Emak sengaja nggak bilang dulu sama kamu biar surprise," jelas Ibu Aisyah dan Lisa masih mendengar itu. Akhirnya Lisa pun masuk karena memang sudah lama berada di luar rumah.
"Assalamualaikum!" sapa Lisa dengan sebuah senyuman yang begitu manis diiringi langkah kaki perlahan masuk ke dalam rumah. Matanya langsung tertuju pada wanita yang memeluk lengan Arkan dengan manjanya. Bahkan terlihat sangat cantik dan begitu sexy. "Wanita itu kan?" batin Lisa langsung merubah raut wajahnya.
..
__ADS_1