
Lisa langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menangis dalam diam dengan memeluk sebuah guling. Arkan tiba-tiba bersikap dingin padanya. Apalagi setelah pulang dari kantor, Arkan tidak langsung menemuinya melainkan lebih memilih untuk ke kamar adik angkatnya itu.
"Ya Allah ... belum Lisa berjuang, tapi Lisa udah merasa kalah. Apa maksud takdir Mu ini? Apa yang sebenarnya sedang Engkau rencanakan? Apa Lisa harus mengulang apa yang pernah gagal?" batin Lisa menjerit berdoa pada sang pencipta.
Beberapa saat kemudian, Lisa mendengar pintu yang terbuka. Lisa berpikir jika itu Arkan, tetapi bisa jadi Arkan sedang bersama Merry seperti sebelumnya. Lisa tidak memberikan respon ataupun melihat siapa yang datang. Namun setelah itu, Lisa merasa ada yang sedang duduk ditepi tempat tidur di dekat dia berbaring.
"Maafin, Aa." Suara Arkan terdengar berat. Namun Lisa tidak ada niat untuk menjawab permintaan.aaf suaminya itu. "Merry tadi telepon, dan dia bilang kamu menyinggungnya. Merry sangat perasa, dia menangis dalam telepon itu," lanjut Arkan, tetapi Lisa hanya menjadi pendengar.
__ADS_1
"Sayang ... Aa mohon, bersikap baiklah pada Merry. Dia juga adikmu sekarang. Dia punya banyak trauma di rumah ini. Makanya semua bentuk rumah ini di rubah agar dia bisa melupakan banyak kisahnya bersama Arsya." Lisa masih tidak merespon. "Lisa Pak Joni akan datang dengan kedua anakmu," ucap Arkan lagi membuat Lisa terkejut. Namun Lisa memilih untuk tetap diam. "Perceraianmu sudah selesai dan Pak Joni berhasil mengambil hak asuh Azka dan Arka. Aa udah minta art untuk menyiapkan kamar mereka. Kita bisa segera mendaftar pernikahan kita dan melakukan resepsi pernikahan. Aa udah bicara sama Merry tadi kalau dia yang akan menghandle semuanya. Kamu bilang aja apa yang mau kamu pada Merry, jadi Aa mohon jangan menyinggung Merry lagi, hm?" pinta Arkan seraya meraih tangan Lisa dan mengusapnya dengan lembut.
Lisa tidak ada niat menyingkirkan guling yang dia peluk dan menutupi wajahnya. Entah rasa apa yang harus dia tunjukkan, hanya rasa kecewa lebih dominan dari rasa-rasa lainnya. "Sayang ... bicaralah. Aa udah minta maaf, apa kamu nggak mau maafin Aa?" tanya Arkan lagi dan masih tanpa respon. Lisa amat sangat malas jika tiba-tiba dia juga melihat Merry di sisinya.
"Baiklah, Aa mau tidur sama Merry sampai Merry tidur. Nanti Aa kembali kesini setelah Merry tidur ya?" ucap Arkan kemudian mencium kepala Lisa yang tidak tertutup oleh guling.
Merasa lelah dan haus karena menangis terlalu lama, Lisa pun bangun dan menatap sekeliling. Arkan benar-benar tidak ada di dalam kamar itu. Lisa hanya bisa menghela nafas dan mengusap air matanya yang masih tersisa di pipi. Lisa berjalan menuju galon yang tidak jauh dari tempat tidurnya, tetapi kebetulan galon itu habis dan Lisa harus turun ke dapur untuk minum.
__ADS_1
Lisa merapikan jilbabnya dan menarik nafas dalam-dalam untuk memberanikan diri keluar kamar. Namun belum Lisa menuruni anak tangga, Lisa bertemu dengan Merry yang kebetulan juga akan menuruni anak tangga.
"Gimana rasanya dicuekin? Heh! Gue udah bilangkan, lo nggak akan bisa rebut Aa. Gue pastikan Aa nggak akan tidur sama lo lagi," ucap Merry dan turun tangga terlebih dahulu.
Amarah yang memuncak membuat Lisa berpikir untuk mendorong Merry dari tangga, tetapi Lisa beristighfar beberapa kali karena memikirkan niat jahat itu.
........
__ADS_1