
Pagi-pagi sekali, Lisa mencoba menghubungi Arkan karena dia berjanji hari ini Azka dan Arka anaknya datang ke Bandung bersama dengan pengacara yang diutus Arkan untuk mengurus surat perceraian dan hak asuhnya. Namun sudah puluhan kali Lisa menghubungi suaminya, hanya ada nada tulalit di ponsel itu. Lagi-lagi Lisa kecewa dengan sikap Arkan dan hanya bisa mendengus kesal.
Sepanjang pagi Lisa hanya gelisah dan tidak tahu harus berbuat apa. Jika untuk berkunjung ke rumah Bu Aisyah sepertinya hal yang mustahil bagi Lisa karena kemarin dia tidak pamit pada kedua mertuanya karena pergi begitu saja. Tentu dia akan bingung mencari alasan dan entah alasan apa yang Arkan berikan pada kedua mertuanya itu.
Hingga menjelang siang, Lisa masih belum bisa menghubungi Arkan. Lisa benar-benar curiga kenapa suaminya itu tidak bisa dihubungi. Setelah mengecek kembali, Lisa tahu jika nomornya telah di blokir oleh Arkan. "Astaghfirullah ... ini Aa atau si Merry pedut yang blokir nomor aku? Masa iya Aa yang blokir padahal semalam dia terlihat baik-baik aja sikapnya," batin Lisa dan hanya bisa menghela nafas berat.
Lisa pun memperkirakan perjalanan Lampung ke Bandung jika menggunakan pesawat terbang karena tidak mungkin untuk seorang pengacara naik kapal dan menempuh perjalanan sehari semalam. Akhirnya Lisa pun memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya dengan memesan ojek online supaya lebih cepat sampai dari pada mobil.
__ADS_1
Tiba di depan gerbang, Lisa cukup ragu untuk masuk ke dalam karena masih bingung dengan alasan apa yang harus dia katakan pada kedua mertuanya. Namun dengan tekad bismillah, Lisa pun masuk dan disambut oleh satpam dengan senang hati.
Baru saja diambang pintu, Lisa sudah melihat Merry yang baru saja turun dari kamarnya. Terlihat Merry tidak suka dengan kedatangannya dan menghampiri Lisa dengan bersilang tangan didada dan wajah yang angkuh. "Berani juga lo balik lagi kesini? Udah bener-bener nggak punya malu lo setelah pergi tanpa pamit?" tanya Merry dan berjalan memutari Lisa dengan tangan masih bersilang didada.
"Aku nggak ada urusan sama kamu. Nomor Aa nggak bisa dihubungi karena dia blokir nomorku, makanya aku kemari," jawab Lisa masih bernada biasa.
"Aku sebagai istri aja baru kemarin pegang hape suamiku. Itu juga karena ada wanita tidak tahu diri yang menelponnya terus menerus," kata Lisa kini mulai menahan amarahnya.
__ADS_1
"Lah ... lo nggak tahu kalau gue itu sangat istimewa. Jadi gue bisa bebas pegang ponsel dia. Semalam juga kita tidur berdua sampai pagi, dan lo bener-bener nggak berguna jadi istrinya," ucap Merry mendorong bahu Lisa dengan jari telunjuknya. "Ih ... ngapain juga gue pegang-pegang lo. Najis banget," kata Merry seraya mengusapkan jari telunjuknya pada baju.
Merry mendengar pintu kamarnya terbuka dan tertutup. Dia tahu jika Arkan akan turun sebentar lagi. Merry pun menampar dirinya sendiri lalu menjatuhkan diri ke lantai. "Aku nggak nahan Aa, Teh. Dia pusing dan aku cuma mijitin dia. Kenapa Teteh sampe nampar dan dorong aku, hiks!" Merry menangis seraya mendongak menatap Lisa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Melisa!" seru Arkan.
"Sepertinya akan ada drama baru," gumam Lisa dan Merry hanya menyunggingkan senyum mendengar itu.
__ADS_1
........