
Arkan buru-buru menuruni anak tangga dan membantu Merry untuk berdiri. Merry masih memberikan tatapan kemenangan atas dramanya. Lisa tidak peduli. Tentu saja dia tahu apa yang akan terjadi setelahnya. "Aa, pipi dan kakiku sakit," keluh Merry bernada lirih dan meraih tangan Arkan untuk menyentuh pipinya yang dia tampar tadi.
"Coba liat," ucap Arkan melihat pipi Merry dan meniupnya. " Udah nggak pa-pa," kata Arkan kemudian memeluk Merry.
"Maaf mengganggu waktu peluk-pelukannya. Aku cuma mau tanya anak-anakku dimana?" ujar Lisa menatap Arkan dengan sinisnya. Arkan pun melepaskan pelukannya dan mengabaikan Lisa kemudian mengajak Merry menaiki anak tangga tanpa menjawab apa yang Lisa tanyakan. "Aa!" teriak Lisa dan Arkan masih tidak mempedulikan Lisa.
Hancur? Tentu saja!
Bagaimana Lisa bisa tahu dimana anak-anaknya jika Arkan tidak mau menjawab. Lisa pun ambruk di lantai dan air mata pun membasahi pipinya mendongak menatap suami juga adiknya itu berjalan bersama menuju kamar.
__ADS_1
Lisa melihat Arkan sempat menatapnya dari atas. Ada rasa bersalah disana. Namun Lisa tidak peduli lagi. Dia hanya mau anak-anaknya saat ini, bukan yang lainnya.
Ternyata harapan bukan hanya sekedar harapan. Azka dan Arka datang bersama dengan dua wanita muda dan satu laki-laki paruh baya yang Lisa yakini itu adalah pengacara Arkan. "Ibu!" panggil Azka dan Arka bersamaan berlari menghampiri Lisa. Secepatnya Lisa berdiri dan merentangkan kedua tangannya memeluk dan mencium kedua anaknya bergantian.
"Azka ... Arka ... Ya Allah ... Ibu seneng banget bisa ketemu kalian, Nak!" Lisa kembali mencium kedua anaknya bergantian setelah menatap dan meraba kedua pipi anak-anaknya.
"Arka juga tangen Ibu," ucap Arka yang kemudian mencium pipi Lisa.
"Sayang! Maafin Ibu ya? Kita akan bicara banyak nanti, tapi bukan disini. Kita pergi dulu ya ke rumah Ibu," kata Lisa seraya mengusap air mata bahagianya dan menuntun pergi kedua anaknya dari rumah besar itu.
__ADS_1
"Saya akan mengantar anda, Nyonya!" kata seorang pria yang Lisa tebak itu seorang pengacara. Lisa kembali menoleh ke arah tangga. Dia tidak mendapati suaminya disana. Lisa pun menatap laki-laki itu kembali. "Saya Haris, Nyonya. Saya akan mengantar anda kembali ke kontrakan." Lisa hanya mengangguk dari pada dia harus memesan taksi online dengan waktu lama, sebaiknya dia memanfaatkan orang yang sedang menawarkan jasa itu.
Haris membukakan pintu mobil untuk Lisa dan kedua anaknya. Lisa tahu itu mobil BMW yang pernah dia naiki saat bertemu dengan Tian dan pertama kalinya duduk berdua dengan Arkan. Lisa hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil bersama kedua anaknya. "Kita mau kemana, Bu? Bukannya ini rumah, Papi Arkan?" tanya Azka tiba-tiba membuat Lisa membulatkan matanya.
"Papi? siapa yang nyuruh Azka panggil, Papi?" tanya Lisa heran.
"Kemaren. Azka sempat bicara dengan Papi Arkan lewat video call dan bujuk Azka untuk tinggal bersama di rumah itu. Azka juga diminta bujuk Arka supaya mau ikut biar Ibu seneng katanya. Azka dan Arka suruh panggil Papi karena dia suami Ibu sekarang," papar Azka dengan polosnya. Tentu saja anak itu sudah sedikit paham dengan hal tersebut. Namun Lisa tidak tahu jika Arkan pernah bicara dengan Azka.
"Nanti kita bicara di rumah ya? Kita belum bisa tinggal di rumah itu. Kamu tidur aja. Rumah Ibu masih jauh. Pasti kamu juga capek habis perjalanan jauh."Azka mengangguk dan memejamkan matanya seraya bersandar. Sedangkan Arka sudah tertidur dalam gendongan Lisa. "Ibu nggak tahu kita bisa benar-benar tinggal di rumah itu atau nggak. Maafin Ibu," batin Lisa kembali meneteskan air matanya.
__ADS_1