
Selesai menjalankan ibadah subuhnya, Lisa tidak menunggu suaminya pulang dari masjid tetapi langsung menuju dapur untuk ikut menyiapkan sarapan. Lisa masih canggung dengan kedua asisten rumah tangga yang sedang sibuk membuat menu makanan. Lisa harus pandai-pandai bersosialisasi karena mereka juga terlihat sedikit segan dengan orang baru.
Beberapa saat kemudian, Bu Aisyah datang bergabung dan memecahkan suasana canggung di dapur itu. Akhirnya Lisa pun bisa mengobrol santai dengan Bik Odah dan Bik Jum.
"Tuan Muda biasanya suka masakan kering, Nyonya. Nggak terlalu suka yang berkuah," kata Bik Odah dan Lisa hanya manggut-manggut. Bu Aisyah sendiri begitu senang melihat Lisa yang antusias belajar dan bertanya banyak hal.
"Mak, Merry mau pergi ya?" Tiba-tiba saja Merry menghampiri Bu Aisyah dan bersalaman untuk pamit pergi.
"Loh ... pagi-pagi gini mau kemana, Dek?" tanya Lisa basa-basi. Padahal sebenarnya dia sangatlah muak memanggil Merry dengan sebutan itu.
"Ih ... Teteh kepo. Dah Merry pergi ya, Mak? Assalamualaikum," ucap Merry setelah memberikan lirikan sinis pada Lisa.
"Kemana dia, Mak?" tanya Lisa pada Bu Aisyah.
"Ke makam Arsya. Semalam dia bilang mau kesana sendiri dan mau menumpahkan keluh kesahnya di makam Arsya," jawab Bu Aisyah terlihat sedih.
"Benar aktingnya luar biasa. Aku nggak tahu apa dia benar-benar menyayangi Arsya atau hanya cari muka saja. Tapi bagaimana aku mengumpulkan bukti tentang sikapnya itu," batin Lisa melah mendapatkan pukulan kecil dibahunya.
__ADS_1
"Kok ngelamun? Mikirin apa? Jangan bilang udah kangen Arkan?" goda Bu Aisyah.
"Ih ... Emak, bisa aja," jawab Lisa malu-malu. "Aku nggak mungkin mengatakan apa yang aku alami ini tanpa bukti. Bismillah ya Allah ... mudahkan," batin Lisa.
"Bentar lagi juga dateng. Pasti dia lagi ikut kerja bakti karena ini hari Jum'at. Biasanya di masjid habis subuh itu para Bapak-bapak kerja bakti bersih-bersih di sekitaran masjid," kata Bu Asiyah masih meledek Lisa.
"Emak ... ih. Orang Lisa nggak seperti apa yang Emak pikirin kok," jawab Lisa semakin malu.
"Iya juga nggak pa-pa, Nak. Emak tuh seneng banget dia bilang mau melamar seseorang dan ingin langsung menikah karena dia udah sangat yakin. Saat Emak liat kamu, Emak juga sangat yakin kamu wanita baik-baik. Dia sangat mencintaimu, tolong balas cintanya dan jangan buat dia kecewa ya, Nak? Walaupun kamu belum benar-benar mencintainya, tapi dengan kelembutan hati Arkan, Mak yakin kamu akan mendapatkan kasih sayang yang luar biasa darinya."
"InsyaAllah, Mak." Keduanya pun berpelukan dan kembali menyiapkan sarapan.
Setelah menyiapkan sarapan, Lisa kembali ke kamar untuk memberikan diri terlebih dahulu karena merasa tubuhnya bau segala-galanya. Arkan juga belum pulang dari masjid bersama Pak Gufron, jadi Lisa memilih untuk berendam air hangat terlebih dahulu di bathtub sambil menunggu suami dan Bapak mertuanya datang.
Beberapa saat kemudian, Lisa mendengar suara pintu terbuka dan tertutup lalu terkunci. Lisa bisa menebak jika itu adalah Arkan. "Sayang ... kamu dimana?" teriak Arkan memanggil Lisa.
"Di kamar mandi, Aa," jawab Lisa setengah teriak juga. Mendengar itu Arkan langsung menyusul Lisa ke dalam kamar mandi yang memang tidak di kunci.
__ADS_1
"Duh ... enak nih mandi berdua," goda Arkan dengan nada tidak biasa.
"Ih ... Aa, kok main masuk aja sih. Nggak sopan banget," Lisa malah menyilangkan kedua tangannya didada karena malu Arkan tiba-tiba masuk.
"Ngapain malu. Aa udah hafal setiap inci tubuhnya kamu, Sayang. Mandi berdua kan sunah," kata Arkan seraya melepaskan semua pakaiannya dan ikut masuk ke dalam bathtub.
"Aa ... sempit ih." Lisa meronta dan hendak pergi, tetapi dengan cepat Arkan menindih tubuh Lisa. Merasa benar-benar malu, Lisa terus meronta untuk menyudahi mandinya.
"Jangan banyak gerak, Sayang. Kalau kamu nggak mau aku jadikan sarapan utama pagi ini," ucap Arkan begitu lembut hingga deru nafasnya membuat Lisa merinding.
"Aa ... capek, ah. Udah ... aku mau ...." Arkan segera menutup mulut Lisa dengan mulutnya. "Emh!" Lisa hendak mendorong tubuh Arkan, tetapi tidak berhasil.
"Mau ituan kan?" ledek Arkan di sela ciumannya karena dia tahu Lisa hampir kehabisan nafas.
"Aa tuh ituan terus. Kaki istrimu ini masih linu, mau di hajar terus?" jawab Lisa dengan raut wajah cemberut.
"Makin gemes aja sih kalau ngambek. Aa nggak akan ada capeknya, Sayang. Kamu makanan terlezat dan obat terampuh untukku," jawab Arkan tanpa menunggu apa yang akan di protes Lisa padanya.
__ADS_1
........