Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Orang Asing


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak kedatangan Azka dan Arka, Lisa merasa tidak tenang dengan ancaman Merry yang memang bisa saja nekad pada kedua anaknya. Ditambah lagi Bu Aisyah yang setiap hari menelpon agar Lisa tinggal bersamanya karena ingin bermain dengan Azka dan Arka.


"Bu, Azka sekolahnya gimana?" tanya Azka yang membuyarkan lamunannya. Lisa sampai lupa dengan sekolah Azka karena terus memikirkan masalah Merry.


"Ah iya, Ibu lupa. Nanti Ibu Carikan Azka sekolah ya? Sementara ini Azka belum bisa sekolah sampai ...." Lisa ragu mengatakan hubungannya dengan Arkan. "Aku bahkan belum tahu status kami sekarang karena udah tiga hari Aa nggak ada kabarnya," batin Lisa ragu. " Em ... nanti aja kita urus sekolah Azka. Sekarang Ibu bel bisa, nggak pa-pa ya?" Azka mengangguk dan kembali dengan game onlinenya. Sedangkan Arka sibuk dengan beberapa mainan yang dibelikan oleh Haris saat tiba di Bandung. Hampir satu ruangan kamar itu penuh dengan mainan Arka.

__ADS_1


Musim penghujan membuat Lisa dan anak-anaknya hanya berdiam diri di kontrakan. Bahkan untuk makan saja mereka harus delivery order. Walaupun Lisa bisa fokus menyelesaikan revisi naskahnya, tetap saja hatinya gelisah memikirkan Arkan, laki-laki yang belum juga genap sebulan menikahinya, tetapi mereka berdua sudah terpisahkan oleh jarak dan seorang wanita psyco.


Malam itu perasaan Lisa kembali aneh. Perasaan yang sama saat datangnya Tian dan membuatnya harus menikah dengan Arkan. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam dan diluar masih terdengar gemercik hujan. Lisa sudah memeriksa pintu juga jendela, semuanya aman dan terkunci rapat. Untungnya dia segera meminta tukang kayu memperbaiki jendela dan menambah kunci di pintu dan jendela kontrakannya. Sedangkan di kamarnya memang tidak ada jendela dan hanya ventilasi udara saja.


Lisa yang sejak tadi sibuk dengan naskah dan novel barunya pun menyudahi aktivitasnya di ruang tamu karena tidak mau mengganggu tidur kedua anaknya di kamar. "Biasanya perasaan aku nggak kayak gini," batin Lisa segera mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Arkan. Walaupun bagaimanapun hanya Arkan yang bisa dia andalkan. Entah dibaca atau tidak, yang jelas Lisa sudah menghubungi suaminya.

__ADS_1


Namun setelah telepon itu terputus, ada suara ketukan pintu, tetapi suara itu lirih. Lisa mengendap-endap berjalan menuju pintu dan membuka gorden sedikit agar dia bisa melihat siapa yang datang. Di luar ada empat orang dengan baju serba hitam dan jas hujan transparan berdiri berhadapan dengan seorang laki-laki berpakaian santai tanpa jas hujan karena dia sedang ada di teras yang melindungi dia dari guyuran hujan. Orang-orang itu sedang berbicara dan Lisa tahu betul keempat orang itu mengangguk seperti paham dengan apa yang dikatakan laki-laki di depannya.


Cahaya di teras Lisa memang tidaklah terang, jadi Lisa tidak tahu siapa pria yang sepertinya seorang pemimpin dari keempat laki-laki bersetelan serba hitam itu. Lisa segera masuk ke dalam kamar setelah ke empat orang itu pergi dan menyisakan pria berpakaian santai. Lisa mencoba menghubungi Arkan dan panggilan itu pun tersambung.


"Aa ... tolongin aku. Ada orang asing di depan rum-" Lisa membelalak mendengar jawaban dari balik telepon.

__ADS_1


........


__ADS_2