Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Kedatangan Arkan


__ADS_3

Lisa tidak pernah menyangka masalahnya akan seserius ini. Beberapa kali Lisa beristighfar dan bershalawat untuk menenangkan dirinya kemudian menarik nafas dalam-dalam setelah menutup panggilan itu. Dia pun mengusap air matanya yang sempat membasahi pipi beranjak untuk segera membuka pintu.


"Aa," panggil Lisa dengan suara parau. Orang yang Lisa anggap jahat sejak tadi itu ternyata suaminya. Lisa pikir itu adalah orang suruhan Merry. Lagi-lagi dia beristighfar karena telah berburuk sangka pada Merry walau kenyataan wanita itu memang jahat. "Aku takut, Aa." Arkan segera memeluk Lisa setelah menutup pintu.


"Maaf! Maaf karena harus menunggu lama dan membuatmu ketakutan. Maafin Aa, Sayang." Arkan mencium kepala Lisa berkali-kali sebagai tanda permintaan maafnya. "Hanya tinggal sedikit lagi. Sedikit lagi dan semuanya selesai. Bersabarlah, dan kita akan berkumpul bersama lagi, Sayang." Lisa pun mengangguk dalam pelukan Arkan.


Sejak kedatangan Merry ke kontrakan Lisa dan dengan sengaja Lisa merekam percakapannya dengan Merry, Arkan memang memutuskan kontak dengan Lisa karena punya rencana sendiri. Saat tahu Lisa pernah diculik oleh Merry bahkan hampir dilecehkan, Arkan sudah mengatur banyak rencana untuk mengetahui tujuan Merry. Apalagi saat dia mendengar sendiri bahwa Merry ada sangkut pautnya dengan kematian Arsya. Bisa saja kematian Nanda juga ada hubungannya dengan Merry.

__ADS_1


"Aku ... aku ragu, Aa. Aku ... aku orangnya mudah terhasut. Bagaimana kalau aku kemakan omongan Merry kalau Aa terlalu lama. Bisa jadi Aa juga termakan bujuk rayu Merry. Dia Kana berbuat nekad, Aa. Dia psyco." Lisa menggelengkan kepalanya beberapa kali dalam pelukan Arkan


"Aku udah bilang kalau aku hanya mencintaimu. Bersikap normal layaknya istri yang diabaikan suaminya, seperti rencana yang pernah aku katakan sebelumnya." Lisa pun mengingat pesan masuk saat dia pergi ke rumah Umi. Awalnya Lisa tidak setuju, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba rencana Arkan itu demi mengetahui sifat asli Merry.


"Iya. Tapi jangan lama-lama. Aku takut terjadi sesuatu sama, Aa. Apalagi Aa tahu betul dia mengancam akan mencelakai anak-anakku."


"Entahlah. Sebenarnya aku juga kangen sama Emak dan Bapak. Tapi anak-anak gimana? Aku takut mereka terluka."

__ADS_1


"Aku paham. Nggak pa-pa tinggal disini dulu. Yang penting kalian semua baik-baik aja sampai aku punya bukti yang kuat." Lisa mengangguk. "Aku harus segera pulang sebelum Merry terbangun. Kamu benar kalau aku selalu diberikan obat tidur dalam kopiku. Tadi aku minta dia juga minum kopi itu dan dia sendiri yang tertidur." Arkan pun melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Lisa yang mana sudah tiga hari tidak bertemu.


"Aa," panggil Lisa dan Arkan langsung menarik tengkuk Lisa untuk dikecupnya bibir yang menjadi candunya itu. Kecupan itu berubah menjadi sesapan dan begitu lembut karena rasa rindu yang sudah lama terpendam. Tidak lama karena Arkan takut terbawa suasana.


"Aku nggak bisa lama-lama, Sayang. Maaf!" Arkan menyudahi ciuman itu kemudian mendarat kecupan singkat di kening Lisa.


"InsyaAllah aku sabar nunggu, Aa. Jaga diri Aa juga ya?" Arkan mengangguk dan bergegas kembali karena dia tidak mau Merry curiga dia tidak ada di kamar. Bisa saja wanita itu tiba-tiba bangun walaupun dalam pengaruh obat tidur.

__ADS_1


........


__ADS_2