Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Permintaan Merry


__ADS_3

Arkan dan Merry tiba di kamar. Perlahan Arkan menuntun Merry untuk duduk di sisi tempat tidur dan mencari salep luka lebam di kotak obat. Wajah Merry benar-benar berbinar saat Arkan dengan sabarnya mencari obat setelah itu mengoleskan salep tersebut di pipinya. "Lain kali jangan dekat-dekat dengan dia lagi," ucap Arkan seraya mengusap lembut salep pada pipi Merry.


"Hm. Tadi nggak sengaja aja ketemu. Lagian dia kenapa balik lagi kesini sih?" protes Merry dengan raut wajah kesal.


"Mungkin dia rindu sama, Aa," jawab Arkan dengan santainya.


"Jadi Aa masih mau terima dia setelah dia giniin Merry?" Aa tuh bener-bener udah berubah ya? Aa lebih sayang dia dari pada adik sendiri. Jangan-jangan dia main guna-guna lagi sampe dia udah jahat gini dan Aa masih peduli sama dia?" Merry semakin kesal bahkan menepis tangan Arkan yang masih mengolesi pipinya dengan salep dan membuang muka.


"Mau gimana lagi, dia udah jadi istri Aa dan Emak juga sayang sama dia. Untung aja Emak dan Bapak tadi nggak ada. Kalau ada bakal panjang ceritanya," jawab Arkan mengusap lembut ujung kepala Merry.

__ADS_1


"Ya bagus dong kalau Emak sama Bapak tahu sifat asli menantunya itu. Aa cerai aja sama dia. Kalau Aa nggak cerai, Merry bakal dianiaya sama wanita bernama Melisa itu," pinta Merry seraya meraih tangan Arkan dan menggenggamnya.


"Dia begitu mungkin karena cemburu sama kamu. Kan Aa lebih bela kamu dari pada dia," jawab Arkan menimpa tangan Merry yang sedang menggenggamnya.


"Ibu!"


Merry kembali merubah raut wajahnya mendengar suara anak kecil memanggil ibu. "Siapa itu?" tanya Merry hendak beranjak. Namun ditahan oleh Arkan.


"Dih! Males banget manggil Teteh. Tapi maksudnya dia udah punya anak dan Aa masih mau nikahin janda?" tanya Merry dengan nada menekan.

__ADS_1


"Hm. Aa juga ngurus surat cerai dia supaya Aa bisa nikah secara agama dan negara. Jadi Aa minta Pak Haris buat urus surat cerainya lalu mengambil hak asuh anak-anaknya," Arkan menjelaskan dengan santainya.


"Aa udah gila ya? Nggak mungkinkan Aa benar-benar cinta sama Melisa? Dia janda beranak, Aa. Anaknya akan menghabiskan uang keluarga ini. Dia pasti nggak mau hamil dan fokus ke anak suami sebelumnya," kata Merry semakin ngotot.


Arkan diam sesaat menatap wajah Merry dengan rasa yang tidak bisa Merry tebak. Tangan Arkan kini berada di ujung kepala Merry dan Arkan tersenyum, tetapi seperti senyum yang tertekan. "Aa, talak aja dia dan kasih harta gono-gini sedikit. Lagian kalian cuma nikah siri, nggak dapet harta gono-gini juga nggak pa-pa, sebelum ... dia benar-benar menghasut Emak dan Bapak juga Aa. Dia bukan wanita baik, Aa. Sama seperti wanita sebelumnya," papar Merry meraih tangan Arkan yang ada di ujung kepalanya.


"Aa nggak bisa talak dia begitu saja." Arkan memeluk Merry.


"Kenapa? Kenapa Aa jadi lemah begini? Aa lupa bagaimana wanita itu dulu? Dia juga jahat sama Merry dan akhirnya dia kecelakaan dan meninggal. Bahkan dia udah terbukti cuma manfaatin kekayaan Aa aja kan?" Merry membalas pelukan Arkan bahkan menangis. "Sebelum terlanjur Aa. Talak dia atau Merry akan kembali ke luar negeri lagi dan Merry nggak akan pernah balik lagi kesini," pinta Merry semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


........


__ADS_2