
"Merry, hentikan!" teriak Arkan membuat Merry segera menurunkan tangannya. Lisa segera lari menghampiri Azka dan meraih tangan untuk dia peluk.
"Brengsekk!" ucap Merry lirih.
"Azka, minta maaf sama Tante Merry!" titah Lisa seraya mengusap ujung kepala Azka.
"Maaf, Tante. Tadi Azka nggak sengaja dan nggak tahu Tante masuk," ucap Azka dengan tulusnya.
"Heh! Najiss!" jawab Merry dengan lirikan sinis.
"Dia udah minta maaf, kenapa nggak kamu maafin," tanya Lisa masih bernada ramah.
"Bawel," jawab Merry tak acuh.
__ADS_1
"Kamu tahu, aku sebagai ibunya sekalipun belum pernah memukul anakku. Kamu siapa berani memukul anakku?" ucap Lisa yang kini menatap sinis Merry yang sedang menahan amarahnya. "Mbak, tolong anak-anak bawa ke kamar ya?" kata Lisa seraya meminta kedua baby sitter anaknya pergi.
"Aa! Kenapa dia disini? Aa tahu itu cake mahal banget, dan sekarang mubazir gara-gara anak sialann itu nabrak aku. Ya wajar dong aku mau mukul dia biar dia tahu kalau dia salah. Anak-anak itu harus didik dengan baik biar nggak kurang ajar kayak tadi," protes Merry seraya memeluk lengan Arkan.
"Azka udah minta maaf. Dia nggak sengaja karena kamu juga masuk tiba-tiba. Kenapa harus berlebihan?" tanya Arkan membuat Merry semakin mengeratkan rahangnya.
"Aa! Kok Aa bela anaknya janda gatel itu sih," kata Merry seraya menghentakkan kakinya.
"Melisa bukan janda. Dia jelas-jelas istri Aa kamu ini," jawab Arkan masih bersikap sabar.
"Kasih pelet jaran goyang dong. Kamu tahu, dia itu begitu puas dengan servis ku. Wajarlah kalau laki-laki itu tergila-gila sama aku," jawab Lisa yang juga memberikan tatapan tajam pada Merry.
"Aa! Apa Aa lupa kalau dia udah jahat sama aku? Kenapa dia ada disini lagi? Baru berapa hari aku nggak di rumah, tapi Aa bertingkah," kata Merry seraya menggoyangkan tubuh Arkan sebagai bentuk protesnya.
__ADS_1
"Merry, kamu tahu, selain ilmu beladiri, kamu juga harus tahu ilmu tahu diri dan sadar diri. Tapi aku rasa kamu nggak tahu ketiganya. Sayang sekali padahal lulusan luar negeri," ejek Lisa membuat Merry naik pitam.
"Breng-!" belum Merry mendaratkan tangannya di pipi Lisa, dengan cepat Lisa menangkap Merry dan menekannya. "Sakit! Sialann!" pekik Merry semakin mengeratkan rahangnya.
"Masa sakit? Terus barusan kamu mau nyakitin aku? Bener-bener wanita nggak tahu diri. Kamu udah dipungut dari jalanan tapi kamu nggak bisa berterima kasih karena hidup dengan layak." Lisa pun melepaskan kasar tangan yang mencengkram tangan Merry dengan sangat kasar hingga Merry kembali merasakan rasa sakit.
"Jaga ucapanmu, wanita jalangg! Aa ... kenapa Aa diem aja? Dia udah ngehina aku," teriak Merry tidak terima dengan apa yang di ucapkan Lisa.
"Tapi Lisa benar. Kamu nggak tahu terima kasih, Merry!" jawab Arkan masih dengan nada santai.
"Aa ... kenapa Aa seperti itu? Aa udah nggak sayang sama aku? Aa bilang aku adikmu yang akan selalu kamu jaga, Aa. Aa bilang aku dan Arsya nggak ada bedanya. Kenapa Aa seperti ini hanya karena wanita jalangg itu?" Mata Merry kini berkaca-kaca.
"Drama aja terus. Tapi asal kamu tahu ya Merry, kita udah dapet bukti kebusukkan kamu termasuk rencana kamu untuk melecehkan Arsya," ucap Lisa sontak membuat mata Merry membola karena terkejut.
__ADS_1
........