
Sandi pun melepaskan pelukannya setelah Merry tenang. Dia memang yang paling tahu bagaimana sifat Merry. Tentu saja karena dia sudah bersama Merry beberapa tahun. "Sekarang kamu makan dulu ya? Kamu belum makan nasi satu suap pun sejak pagi dan ini udah lewat jam makan siang," kata Sandi seraya turun dari tempat tidur dan mengambilkan Merry makan yang sudah dia siapkan.
"Berapa bulan anak ini?" tanya Merry menatap perutnya yang masih datar.
"Perkiraan delapan minggu. Kata Dokter kita harus periksa lagi, harus USG. Aku rasa kamu emang nggak datang bulan udah lama, jadi wajah kalau kamu hamil. Kamu tahu sendiri kalau kita sering melakukannya," kata Sandi kemudian duduk kembali di sisi tempat tidur.
__ADS_1
"Apa Arkan benar-benar ... apa ...." Merry tidak kuasa meneruskan ucapannya. Hatinya masih sakit dan belum bisa menerima kenyataan.
"Sayang ... aku udah bilang, Tuan Arkan itu cuma anggep kamu adik dan akan selamanya seperti itu. Kamu harus sadar kalau selama ini kamu punya banyak jasa dengan keluarganya. Kamu udah di asuh bahkan kamu bisa punya segalanya dari mereka. Tapi kamu malah menyakiti mereka. Aku nggak akan maksa kamu buat minta maaf, tapi tolong ... cukup sampai sini aja. Jangan berbuat nekad lagi atau kamu akan membusuk dipenjara," tutur Sandi membuat Merry sesenggukan.
Sandi pun meletakkan piringnya kembali dan memeluk Merry lagi. "Apa aku begitu nggak tahu diri?" tanya Merry dalam pelukan Sandi. Namun Sandi tidak menjawab. Dia tentu tidak mau semakin menyakiti Merry. "Apa aku salah mencintai Kakak angkat ku? Kami nggak ada hubungan darah. Kami boleh menikah. Aku juga cantik, kamu tahu itukan?" Sandi hanya mengangguk. "Bahkan dia juga menikahi janda, harusnya nggak masalah kalau aku udah nggak perawan. Kenapa dia jahat? Atau aku yang jahat?" Merry semakin terisak.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Merry mulai berhenti menangis. Sandi pun melepaskan pelukannya dan mengusap lembut kedua pipi Merry yang basah. Dengan senyuman manis yang meneduhkan, Sandi kemudian mencium kening Merry cukup lama. "Aku mencintaimu, Merry. Aku hanya akan mencintaimu dan mari kita mulai hidup yang baru. Aku akan berusaha dan bekerja keras demi kamu dan anak kita. Kamu mau kan?" Merry tidak menjawab. kepalanya hanya tertunduk. "Nggak pa-pa kalau masih berat. Sekarang kamu harus makan sebelum kamu kembali pingsan. Besok Tuan Arkan akan kesini dan menikahkan kita." Sontak Merry terkejut.
"Tuan Arkan pernah ngikutin kamu saat kamu dalam pengaruh obat perangsangg yang akan kamu kasih padanya. Setelah kamu pulang, ada asistennya yang datang kemari dan bernegosiasi denganku. Akhirnya Tuan Arkan menghubungiku dan menyetujui segala rencananya demi kebaikanmu. Tuan Arkan tahu kamu akan pergi dan selama kita dia Bali aku dan dia mengatur rencana bersama. Dia begitu baik pada kita, Sayang." Merry masih diam mendengar penjelasan Sandi.
"Sekarang kamu jangan mikirin apa-apa lagi. Setelah menikah, kita akan pergi dari sini dan memulai hidup baru. Jadi ayo makan yang banyak, kasihan anak kita pasti kelaparan juga," kata Sandi kemudian mengambil piring yang berisi makanan dan menyuapi Merry dengan sabarnya.
__ADS_1
........