
Arkan sedang meragu padahal dirinya sudah rapi dan siap berangkat menuju apartemen Sandi karena acara akad nikah akan dilakukan disana. "Aa, udah dong jangan terlalu dipikirkan lagi. Aku yakin Aa bisa!" kata Lisa memberikan semangat.
"Aku takut, Sayang. Aku akan bertemu dengan orang yang telah membunuh Arsya secara nggak langsung. Gimana kalau ak-" Arkan mengehentikan bicaranya saat jari telunjuk Lisa menempel di bibirnya.
"Aku tahu kamu butuh kata maaf dari Merry, tapi sabarlah. Keputusan kamu udah tepat, Aa dengan Aa nggak masukin dia ke penjara. Kalau dia masuk penjara, aku yakin dia semakin berambisi dan hanya akan menumpuk dendam. Aku yakin dia juga belum bisa menerima kenyataan ini. Kita berdoa yang terbaik untuknya, hm?"
Arkan hanya mengangguk kemudian mereka pergi menuju apartemen Sandi, dan hanya berdua saja.
Sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan bahkan hanya sekedar basa-basi. Arkan fokus menatap ke luar jendela, sedang Lisa fokus dengan ponselnya karena tidak mau mengganggu Arkan yang sedang berusaha menerima kenyataan tentang kematian adiknya.
__ADS_1
"Aa, besok aku mau ketemu Kak Hendi sama Kak Eka. Aa mau ikut?" tanya Lisa mencoba mengalihkan lamunan Arkan.
"Mereka lagi? Mau apa lagi sih mereka ngajak ketemu terus?" Rasa cemburunya pun muncul.
"Novel aku satunya dilirik penerbit, Aa. Terus revisi tentang novel aku yang akan diangkat web series juga udah selesai. Jadi aku memang harus bertemu mereka. Aa tahu mereka nggak minta bayaran sama sekali loh sejak awal hingga akhir. Aku seneng bisa kenal editor yang baik banget dan dengan bantuan mereka, keuangan aku stabil," tutur Lisa sengaja membuat Arkan semakin cemburu.
"Aa udah bilang kamu nggak perlu cari uang, Sayang. Uangku udah banyak, kamu tinggal habisin aja," jawab Arkan seraya menggenggam tangan Lisa dan mencium punggung tangannya. "Hartaku banyak dan lebih dari cukup kalau hanya untuk kamu dan anak-anak," lanjut Arkan.
"Iya, maaf Sayang. Aku terlalu cemburu kamu sering bertemu laki-laki. Iya kalau mereka nggak coba merebut kamu dari aku. Kayak novel yang kamu tulis itu tentang pebinor," jawab Arkan membuat Lisa terkekeh.
__ADS_1
"Dasar posesif. Kita udah sampe nih, turun yuk?" ajak Lisa membuat Arkan heran karena ternyata Lisa sedang mengalihkan perhatiannya.
"Kamu emang istri yang super pinter. Tiba-tiba udah nyampe aja," kata Arkan kemudian mengulas senyum manis kemudian turun dari mobil.
"Apa Aa juga deg-degan kayak mau melamar aku tiba-tiba itu?" Lisa kembali menghibur Arkan.
"Ah iya. Aku bahkan waktu itu sangat takut kamu menolak ku, ternyata ditolak beneran. Tapi semesta berpihak sama aku dan menjadikan kamu istriku," jawab Arkan yang kembali mengulas senyum.
"Terima kasih, Aa. Terima kasih udah mau kuat. Sekarang kita masuk dan menjadi saksi pernikahan adik Aa." Arkan pun mengangguk dan menggenggam tangan Lisa untuk berjalan sejajar. Lisa benar-benar bangga dengan sikap Arkan walaupun dia tahu kalau hatinya sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
........