
"Mana cucuku?" tanya Pak Gufron begitu keluar dari kamarnya. Lisa menatap Azka yang juga sedang menatapnya dan ia pun mengangguk tanda Azka agar mau memeluk Aki barunya. Azka pun paham dan menghampiri Pak Gufron kemudian Lisa memberitahu Arka supaya ikut memeluk ayah mertuanya. Lisa sampai terharu kedua anaknya disambut hangat oleh ibu juga Ayah mertuanya.
"Sayang? Kamu nangis?" tanya Arkan lirih dan merengkuh bahu Lisa untuk mengikis jarak diantara mereka.
"Aku terharu aja, Aa. Aku nggak pernah mikir memberikan keluarga baru untuk kedua anakku. Tapi mungkin inilah takdirku," jawab Lisa dan mengusap air matanya.
"Bapak dan Emak memang sangat menantikan kehadiran anak-anak di rumah ini, Sayang. Bukan berarti aku pengen segera punya anak. Pokoknya aku terserah sama kamu kok, siap hamil lagi kapan. Lagian kita udah punya dua anak, jadi aku nggak akan maksa," tutur Arkan membuat Lisa semakin terharu.
"Maaf udah sempet nggak percaya sama, Aa. Aku masih trauma dengan kegagalan rumah tanggaku sebelumnya. Terima kasih udah baik banget sama aku dan anak-anakku. Aku ... aku sayang kamu, Aa," kata Lisa seraya memeluk Arkan.
"MasyaAllah ... Aa jadi pengen nangis juga ini. Sayang, aku maklum kok kamu bersikap begitu. Lagian kita juga belum genap satu bulan menikahnya. Kita harus saling percaya ya?" Arkan membalas pelukan Lisa.
"Duh ... kok main peluk-pelukan di depan orang tua sih? Sono ke kamar. Biar mereka main sama Emak dan Bapak. Kebetulan kamar mereka udah siap. Biar emak sama Bapak yang nenenin mereka main," kata Bu Aisyah membuat Arkan langsung tersenyum lebar dan menggenggam tangan Lisa untuk segera masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Ih ... Aa. Malu tahu main tarik aja," keluh Lisa melepaskan tangan Arkan.
"Ngapain malu. Mereka juga pernah muda," jawab Arkan langsung memeluk Lisa dari belakang dan melingkarkan lehernya di perut Lisa.
"Tapi bagaimana dengan Merry kalau dia pulang?"
"Kamu tenang aja, Sayang. Aku udah punya sejuta rencana untuk mengungkapkan siapa Merry sebenarnya."
"Tetep aja aku masih takut. Walaupun sebenarnya aku bisa kapan aja mematahkan tangan juga kakinya, tapi dia itu licik dan pinter nyuci otak kamu. Ih ... kalau inget sebel banget aku." Lisa pun bersilang tangan didada.
"Heh! Awalnya juga kamu percaya sama dia. Andai aku nggak punya bukti, tetep aja kamu akan percaya sama dia dan pasti akan terus tidur sama dia," Lisa berlalu kemudian duduk di sisi tempat tidur.
"Sayang ... iya maaf untuk hal itu. Jangan ngambek dong, kan Aa mau minta itu, hm?"
__ADS_1
"Itu apa, ish dasar mesumm." Lisa memalingkan wajahnya, tetapi matanya langsung terfokus pada foto-foto di atas nakas.
"Aa nggak ...." Arkan berhenti bicara karena tiba-tiba raut wajah Lisa berbeda. Lisa segera mengambil foto-foto yang dia lihat dan sangat terkejut siapa saja yang ada di foto tersebut.
"Ini?" Lisa melihat semua foto-foto itu tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
"Iya. Ada seseorang yang kirim foto-foto itu. Untungnya aku tahu dia orang di cafe itu editor kamu yang dulu syok perhatian banget sama kamu itu. Dan aku tahu laki-laki yang terlihat memelukmu itu adalah pacar Merry. Namanya Sandi," jelas Arkan dan Lisa masih sangat tidak percaya dengan foto-foto tersebut.
Lisa sangat ingat saat itu dia pergi pagi-pagi karena marah dengan Arkan yang tidur di kamar Merry. Saat itu dia pergi menemui Hendi juga Eka untuk membahas revisi naskahnya.
Saat pulang Lisa menabrak seorang laki-laki bahkan dia minta ganti rugi atas ponselnya yang rusak karena jatuh menabraknya. Lisa tidak habis pikir jika kejadian itu dimanfaatkan Merry. Untungnya Arkan sudah pernah bertemu dengan Hendi dan Eka, jadi dia tahu siapa mereka. Sedangkan Sandi, Arkan juga baru tahu saat mengikuti Merry ke apartemen Sandi malam itu.
"Bener-bener drama yang sempurna," gumam Lisa dan Arkan segera mengambil semua foto itu lalu melemparkannya sembarangan. "Ish ... aku belum selesai liat, Aa," protes Lisa hendak memungut foto itu lagi.
__ADS_1
"Nggak penting, Sayang. Sejak pertama liat foto-foto itu aku nggak percaya kalau kamu selingkuh, jadi nggak perlu khawatir. Sekarang aku sangat butuh kamu Sayang karena aku amat sangat merindukanmu. Apalagi tadi ada yang abis mengungkapkan rasa cintanya sama aku," goda Arkan dan Lisa langsung tersipu malu. "Makin gemes, Sayang." Arkan tidak mau membuang waktu dan segera menjatuhkan tubuh mereka di atas tempat tidur untuk bercinta bersama.
........