Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Menjemput Lisa


__ADS_3

"Sayang, aku datang jemput kamu sama anak-anak," kata Arkan begitu antusias saat pintu kontrakan Lisa terbuka.


"Hah? Jemput? Udah beres masalah Merry, Aa?" tanya Lisa, tetapi Arkan malah langsung memeluk Lisa karena sangat rindu. "Ih ... lepasin. Malu dilihat tetangga. Aa masuk dulu," ajak Lisa dan Arkan mengangguk. Lisa segera menutup pintu dan seketika Arkan langsung mendorong tubuh Lisa menabrak dinding kemudian mencium bibirnya.


"Aku sangat merindukanmu, Sayang!" ucap Arkan disela ciumannya. Arkan terus menyesap dan menikmati bibir manis yang telah dia rindukan. Lisa mendorong perlahan tubuh Arkan agar ciuman itu dihentikan. "Kenapa?" tanya Arkan bingung.


"Jelaskan dulu masalah dengan Merry," pinta Lisa. "Aku nggak keberatan karena anak-anak juga sedang tidur, tapi aku mau tahu dulu bagaimana dengan Merry. Kenapa Aa mau menjemputku?" tanya Lisa lagi.


"Ah, iya. Merry sedang liburan ke Bali, Sayang. Kamu jangan. khawatir, sudah Aa pastian dia nggak akan pulang untuk beberapa hari kedepan. Setelah pulang juga semuanya akan terungkap, Sayang. Udah cukup jawabannya?" tanya Arkan kemudian menurunkan kepalanya dan mencium leher Lisa.


"Emh, Aa!" sentuhan itu membuat Lisa terbuai.


"Aku merindukan suara desahanmu itu, Sayang. Bisakah kita melakukannya sekarang?" pinta Arkan dengan manjanya.


"Kita lakukan di rumah Enak aja, ya? Biar bebas. Disini Aa mau main sambil duduk di kursi kecil itu? Nggak mungkin kan kita melakukannya di lantai?" jawab Lisa dengan raut wajah yang sungguh menggemaskan bagi Arkan.

__ADS_1


"Sayang! Tapi aku udah menahannya beberapa hari. Sungguh sangat menyiksa sekali. Aku nggak tahan, Sayang!" ucap Arkan masih bernada manja dan kembali memberikan ciuman lembut di leher Lisa.


"Nggak ah, mungkin anak-anak akan bangun sebelum kita selesai," jawab Lisa kembali mendorong tubuh Arkan agar menjauh.


"Sayang!" rengek Arkan lagi.


"Iya. Aa udah makan? atau mau aku buatkan kopi?" Lisa mencoba mengalihkan perhatian Arkan.


"Aku lebih suka makanan utamaku ini," jawab Arkan seraya meraba tubuh Lisa bahkan meniup telinga Lisa yang tidak mengenakkan hijab itu.


...***...


"Melisa!" panggil Bu Aisyah seraya memeluk sang menantu yang baru saja masuk ke dalam rumah. Terlihat Bik Odah juga Bik Jum senang dengan kedatangan Lisa.


"Assalamualaikum, Mak. Emak sehatkan?" sapa Lisa membalas pelukan sang ibu mertua.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, Nak. Ibu baik, bahkan sangat baik setelah kedatanganmu ini. Ya ampun, ini cucuku?" Bu Aisyah mengalihkan pandangannya pada Azka juga Arka yang sedang menggenggam tangan Arkan. "Sini peluk, Nini," ucap Bu Aisyah seraya merentangkan kedua tangannya.


Terlihat Azka dan Arka melirik Lisa, dan Lisa mengangguk mengiyakan apa yang diminta Bu Aisyah. "Nini!" panggil Azka dan Arka bersamaan seraya memeluk Bu Aisyah.


"MasyaAllah, seneng banget akhirnya ada yang panggil Nini juga. Hayo kasih tahu Nini nama kalian?" tanya Bu Aisyah sangat antusias.


"Ini namanya Azka dan ini Arka, Mak," jawab Arkan.


"Ih, Emak tanya mereka, bukan tanya kamu, gimana sih. Eh makan yuk? Kalian pasti lapar? Bentar ya Nini panggil Aki dulu di kamar," Bu Aisyah bergegas ke kamarnya untuk memanggil Pak Gufron.


"Azka punya Nini dan Aki lagi, Bu?" tanya Azka yang sepertinya senang karena punya seorang nenek lagi.


"Iya, Sayang. Itu tadi Nini Aisyah, Emaknya Papi. Dan nanti kamu juga bakal ketemu sama Bapaknya Papi. Kalian panggilnya Aki," jawab Arkan berlutut di depan Azka dan Arka. Azka paham, sedangkan Arka hanya tersenyum.


........

__ADS_1


__ADS_2