Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Kopi Buatan Merry


__ADS_3

Malam kian larut dan Arkan tidak kembali untuk tidur bersama Lisa di kontrakan. Lisa benar-benar merasa bodoh sudah percaya dengan laki-laki itu. Entah bagaimana bisa takdir mempertemukan mereka hingga keduanya harus menikah dengan tiba-tiba. Arkan memang kaya dan Lisa tidak akan kekurangan uang seperti saat menikah dengan Tian. Namun apa yang Lisa harapkan hanya sebatas seperti cerita di novel saja. Lisa pun mendengus kesal.


"Aku tahu kamu nggak akan datang, Aa. Aku benar-benar bodoh udah nungguin kamu. Aku benar-benar menyia-nyiakan waktu hanya untuk memikirkan mu. Aku yakin si Merry pedut itu menahanmu." Lisa pun tidur dengan hati yang teramat kesal. Entah bagaimana dia bisa menghadapi hari besok. Lisa benar-benar tidak ingin melakukan apa pun selain tidur.


...***...


Arkan sudah bersiap untuk pergi menyusul Lisa karena Bu Aisyah juga khawatir dengan menantunya itu yang pergi tanpa pamit. Namun Arkan hanya mengatakan jika urusannya tadi pagi begitu mendadak dan Lisa pulang ke kontrakan karena jaraknya lebih dekat.


Melihat Arkan yang akan pergi, Merry kembali melakukan dramanya. "Aa ... ih gimana sih. Itu Merry udah buatin Aa kopi kok Aa main pergi gitu aja. Minum dulu kopinya di kamar Merry. Ditungguin kok nggak nongol-nongol dari tadi," ucap Merry menahan Arkan yang akan menuruni anak tangga. Dengan hati yang berat, Arkan pun masuk ke kamar Merry terlebih dahulu untuk menghabiskan kopi buatan adiknya.

__ADS_1


"Kok kamar kamu bau parfumnya beda?" tanya Arkan begitu masuk kamar Merry.


"Iya. Aku ganti. Soalnya parfum sebelumnya kayak orang yang lewat di pemakaman Arsya. Aku jadi nggak suka baunya karena aku curiga dengan orang itu," jelas Merry masih dengan nada manjanya. "Buruan minum kopinya, Aa. Nanti keburu dingin. Eh iya, Aa mau kemana sih?" Merry pun duduk di sisi tempat tidur. Sedangkan Arkan duduk di meja rias karena kopinya diletakkan di sana.


"Hm. Mau ke kontrakan Teteh. Dia tadi kecapean banget, makanya nggak langsung pulang kesini," jawab Arkan seraya menyeruput kopi buatan Merry.


Arkan segera menghabiskan kopinya walaupun masih sedikit panas. Perlahan Arkan meniup dan meminum hingga kopi itu tidak tersisa. "Dia istri Aa. Udah sepantasnya Aa sayang sama dia. Kan dia yang-" Arkan hendak beranjak, tetapi tiba-tiba kepalanya pusing. Arkan menekan kepalanya dengan kedua tangan. "Aw!" pekik Arkan dan Merry langsung menghampiri Arkan.


"Aa? kenapa? sakit?" tanya Merry seraya memijat bahu Arkan kemudian menuntutnya untuk berbaring di atas tempat tidur. "Aa diem dulu. Biar Merry pijitin. Aa pasti kecapean," titah Merry dan Arkan menurut untuk berbaring.

__ADS_1


Merry memijat kepala Arkan perlahan dan pijatan itu membuat Arkan merasa sangat nyaman. "Sejak kapan bisa mijitin enak begini, Dik?" tanya Arkan tanpa sadar karena matanya sudah terpejam.


"Sejak hari ini Merry akan mijitin Aa. Kalau perlu pijit plus-plus," jawab Merry seraya berbisik di telinga Arkan hingga hembusan nafas Merry membuat Arkan merasakan hal aneh.


"Hm. Aa akan tidur sebentar saja di sini," kata Arkan masih merasa pijatan Merry yang cukup membantu dari rasa sakit di kepalanya.


"Tidurlah disini sampai pagi, Aa." Merry kembali berbisik ditelinga Arkan, tetapi sudah tidak ada jawaban darinya. Merry tersenyum sinis menatap Arkan yang sudah tertidur. "Aku nggak akan biarin kamu pergi, Aa Sayang," ucap Merry kemudian mendekati bibir Arkan dan memberikan kecupan singkat disana. "Kamu milikku Arkan, hanya milikku." Merry kembali mendekati bibir Arkan dan kini bukan hanya sekedar kecupan, melainkan sebuah sesapan yang mana hanya Merry yang menikmatinya karena Arkan sudah tertidur pulas


........

__ADS_1


__ADS_2