Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Makan Amarah


__ADS_3

Perasaan yang berkecamuk membuat Lisa berjalan dengan beberapa kali hentakan kaki. Namun itu hanya sampai diujung tangga karena Lisa tidak mau menunjukkan kekesalan itu pada kedua mertuanya yang pasti akan membela anak gadis mereka. Lisa segera menghampiri Bu Aisyah yang sedang menyiapkan makan malam. Anehnya Lisa tidak melihat batang hidung wanita bernama Merry yang telah bersikap tidak sopan tadi. Lisa pikir jika Merry memanggil Arkan karena makanannya sudah siap, ternyata belum.


"Lantas kemana adik psikopat itu? Jangan-jangan dia sengaja masuk kamar?" batin Lisa semakin kesal dengan Merry.


"Nak, mau bantu Emak ya? Padahal istirahat aja dulu, nanti juga dipanggil," kata Bu Aisyah membuat Lisa mau tidak mau harus tersenyum dan menghampiri Ibu mertuanya.


"Nggak pa-pa, Mak. Kan Lisa sekalian belajar. Mak jangan bosan ngajarin Lisa tentang ini itu ya? Em biar besok-besok Emak duduk manis aja, menantu Emak ini yang akan melakukan semuanya," sahut Lisa seraya merebut piring yang di pegang oleh Bu Aisyah.


"Iya, Nak. Terima kasih." Bu Aisyah pun memberitahu beberapa hal yang berkaitan dengan dapur. Keluarga itu punya beberapa asisten rumah tangga dengan tugasnya masing-masing. Di dapur sendiri ada dua asisten untuk memasak dan mencuci piring. Lisa pun dikenalkan pada kedua asisten itu.


"Ini Bik Jum satunya Bik Odah," kata Bu Aisyah mengenalkan kedua asisten yang sedang berdiri di depan Lisa.


"Salam kenal, Bik. Saya Lisa." Penuh keramahan, Lisa mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan para asisten itu.


"Kalian bisa panggil Lisa, Nyonya Muda. Tapi jangan panggil saya dengan Nyonya Tua ya?" ucap Bu Aisyah membuat tawa keempat wanita itu.


"Emak ... panggil Lisa aja nggak pa-pa. Lisa nggak biasa dipanggil Nyonya, risih dan aneh banget," jawab Lisa, tetapi dengan cepat Bu Aisyah menggelengkan kepalanya.


"Kamu emang Nyonya disini setelah Emak. Lagian Arkan juga dipanggil Tuan Muda, jadi kamu Nyonya Muda. Mulai besok kamu yang urus semua kebutuhan rumah ya, Nak. Untuk urusan dapur kamu bisa tanya sama Bik Jum dan Bik Odah. Kalau urusan cuci setrika baju sama Bik Siti, tapi orangnya tadi lagi izin keluar dulu. Nanti urusan taman sama Mang Dadang. Dia nggak nginep, cuma berangkat pagi pulang sore. Nah satpam di depan itu Pak Yahya sama Pak Tatang, Kakaknya Mang Dadang," jelas Bu Aisyah panjang lebar dan Lisa bisa mengingat semua itu dengan mudah.

__ADS_1


"Wah ... Nyonya baru lagi belajar ya, Mak?" Lisa tahu suara itu dan sangat malas menengok menatap siapa pemilik suara menyebalkan itu.


"Hus ... yang sopan sama Teteh," kata Bu Aisyah yang kemudian duduk di kursi di sisi Merry.


"Ya Merry kan tanya, Mak. Bukan bicara nggak sopan," jawab Merry dengan santainya seraya memakan buah pisang.


Lisa pun duduk bersebrangan dengan Merry, tetapi tidak benar-benar berhadapan. "Nak, suami kamu mana? Kok belum turun juga?" tanya Bu Aisyah pada Lisa.


"Mungkin lagi ganti baju, Mak. Biar Lisa panggilin." Lisa pun beranjak dan seperdetik kemudian Merry berlari menaiki anak tangga untuk segera menuju kamar Arkan. Lisa tidak merespon dan kembali duduk.


"Dasar anak itu, pasti begitu, Nak. Maklum aja dia belum terbiasa sama kehadiran kamu," kata Bu Aisyah dan Lisa hanya bisa tersenyum hambar.


Beberapa saat kemudian Arkan datang bersama Merry dan duduk di kursi yang bersebelahan dengan istrinya. "Aa ... duduk deket Merry kenapa sih? Aa udah nggak sayang sama Merry dan lebih sayang sama dia?" Merry melipat kedua tangannya didada dan menunjuk Lisa dengan dagunya. Merry terlihat sangat marah karena Arkan tidak duduk di sisinya.


Lisa hanya bisa melakukan semuanya dari mengambil piring, nasi, lauk bahkan makan dengan rasa canggung karena Merry melayani Arkan layaknya seorang istri, bukan adik. Arkan dan Merry bahkan mereka berdua saling menyuapi satu sama lain. Lisa masih bisa tahan dan banyak-banyak beristighfar di dalam hati karena kedua mertuanya juga tidak menegur malah mereka terlihat bahagia. "Lantas apa gunanya aku sebagai istri?" Lisa menjerit dalam hatinya.


"Sayang ... buruan abisin makannya, kok malah melamun?" tegur Arkan membuat Lisa lagi-lagi harus menunjukkan senyum manis yang teramat palsu.


"Waduklah ... keehel aing mah!" Lisa hanya bisa mengumpat dalam hatinya.

__ADS_1


"Lisa ... ini tambah oseng togenya, biar subur," kata Bu Aisyah memberikan satu siukan oseng toge pada Lisa.


"Hah? Subur? Ya kali aku nggak subur, udah punya dua anak loh. Dasar laki-laki, dia bilang orang tuanya nggak bakal nuntut aku buat segera hamil. Ini mah apa atuh, kode keras pisan." Lagi dan lagi Lisa hanya bisa bicara dengan dirinya sendiri. "Iya, Mak. Makasih," jawab Lisa masih dengan senyuman yang sama dan menyantap toge pemberian ibu mertuanya itu dengan nikmatnya.


"Aa mah nggak perlu makan toge ya, Mak? Soalnya keluarga kita kan nggak ada keturunan mandul, jadi Aa makan capcay aja nih sama tambah lagi ayam gorengnya. Sayap krispi kesukaan Aa Arkan tersayang," ujar Merry mengambilkan lagi ayam goreng untuk Arkan.


"Geuleh pisan aing asli ... meuni hebat eta ekting sia. Waduh hayang ngagebot aing ka sia, Merry pedut," batin Lisa dengan amarah yang tertahan.


"Makan yang santai, Nak. Kamu kayak tertekan? Masakannya nggak cocok ya sama kamu?" tanya Pak Gufron.


"Haduh ... ketahuan kalau aku teh tertekan. Gimana atuh nggak tertekan kalau si Merry pedut kayak begitu, Bapak!" gumam Lisa hanya dalam hatinya." Lisa cuma canggung aja, Pak. Ini kan makan malam Lisa untuk yang pertama kalinya sama keluarga baru, maaf ya, Pak?" jawab Lisa manggut-manggut dan cengengesan tidak jelas padahal mah hati sangat panas.


Lisa pun mempercepat makannya dan segera membawa piringnya menuju dapur untuk dia cuci. "Lisa ... biarin aja, nggak perlu dicuci," cegah Bu Aisyah.


"Cuma satu piring doang, Mak. Maaf Lisa tiba-tiba mulas mau cepet-cepet ke toilet ya, Mak. Assalamualaikum." Segera Lisa berlari dan benar-benar berakting seolah-olah dia sedang sakit perut.


"Sayang!" panggil Arkan tetapi tidak membuat Lisa menghentikan langkahnya.


"Udahlah, Aa. Teteh kan udah bisa ke kamar mandi sendiri. Emang mau ditemenin? Mending Aa tuh abisin makanannya biar sehat," cegah Merry seraya menahan tangan Arkan yang akan beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Nanti coba kamu periksakan ke Dokter. Diare juga bahaya kalau sampe dia dehidrasi," kata Pak Gufron memberi nasehat. Merry sendiri hanya memutar malas kedua bola matanya.


..


__ADS_2