
Lisa sedang asik bercerita dan bermain dengan anak-anaknya di kontrakan. Azka banyak bicara tentang apa yang telah dia lewati tanpa Lisa. Sedangkan Arka lebih memilih untuk bermain lego.
Dari cerita Azka, Lisa tahu keadaan orang tuanya disana baik-baik saja. Apa yang Tian bilang ternyata bohong. Lisa benar-benar lega dan berencana akan mengirimkan uang yang diberikan Arkan saat datang pertama kali ke kontrakannya pada kedua orang tuanya.
Setelah menjalankan ibadah sholat magrib dan makan bersama anak-anaknya, Lisa berencana mengajak Azka dan Arka ke taman bermain yang tidak jauh dari kontrakannya. Namun saat mereka sedang bersiap-siap, tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkan Lisa. "Hah? nggak mungkin kan dia kesini?" batin Lisa ragu. "Azka, kamu ajak main Adek dulu ya? Kayaknya ada tamu," kata Lisa pada anak pertamanya dan Azka pun mengangguk.
Lisa pun membuka pintu dan ternyata benar jika yang datang adalah Merry. "Ngapain jauh-jauh kesini?" tanya Lisa dengan sinisnya.
"Lo nggak mau suruh gue masuk? Lo nggak mau kan tetangga lo tahu kalau lo bukan wanita baik-baik?" Merry masih bernada angkuh dan sombong.
"Maksudnya?" Lisa merasa Merry punya rencana jahat.
__ADS_1
"Makanya biarin gue masuk," ucap Merry seraya mendorong tubuh Lisa dan menerobos masuk ke dalam.
"Bener-bener nggak punya etika dan sopan santun," ucap Lisa kemudian menutup pintu.
"Astaga ... tempat sempit begini dan Aa masih mau nikah dan tidur disini? Sebenarnya lo pake pelet apa sih sama Aa gue?" tanya Merry yang merasa jijik dengan kontrakan Lisa.
"Dia yang datang duluan, bukan aku yang menggodanya. Kalau kamu pikir aku paket pelet, harusnya kamu tahu bagaimana caranya menghilangkan pelet itu karena kamu dedemitnya." Merry langsung tersulut emosi.
"Benarkah? Karena Aa aku pelet, pasti dia yang akan kesini jemput aku, Merry. Terus aku harus gimana?" jawab Lisa dengan santainya.
"Gue nggak akan biarin itu terjadi selama gue ada disisinya." Merry pun bersilang tangan didada.
__ADS_1
"Aku penasaran banget tentang kematian Arsya, pasti ada hubungannya sama kamu karena kamu nggak mau kehilangan kasih sayang Aa, apa itu benar?" ucapan Lisa berhasil membuat Merry terkejut. "Ah ... jadi benar ya? Soalnya aku pernah buat cerita novel yang mirip-mirip lah sama kamu gini. Nggak nyangka ternyata di dunia nyata juga ada wanita psyco kayak kamu," lanjut Lisa membuat Merry semakin marah dan mengepalkan kedua tangannya.
Kedua terdiam beberapa saat dengan saling beradu mata. Tebakan Lisa benar jika ada yang tidak beres dengan Merry karena nggak mungkin begitu saja Merry bisa lolos dari penjahat sedangkan Arsya jadi korban. Raut wajahnya terlihat jelas jika ada sesuatu dengan Merry dan Arsya. Benar-benar seperti film ikan terbang saja.
"Gue nggak main-main dengan ancaman gue tadi. Lo belum lupa dengan pertemuan pertama kita bagaimana kan? Jadi lo harus pikirkan baik-baik dengan apa yang gue bilang," kata Merry berusaha setenang mungkin.
"Merry, kamu nggak takut kecewa lagi kayak kemaren? Aku bisa mematahkan tulang dengan sekali pukul loh. Apa kamu kamu mencobanya? Kebetulan tanganku sedang gatal ingin mematahkan tulang. Oh iya ... anak pertamaku itu juara pertama olimpiade taekwondo se-provinsi Lampung. Lumayan lah tubuhmu ini untuk jadi target anakku. Kayaknya dia bakal semangat membantu ibunya mematahkan tulangmu," ucap Lisa dan Merry langsung membulatkan matanya.
Merry hanya bisa menghentakkan kakinya penuh kekesalan. Segera dia pergi dari kontrakan Lisa sebelum tulang-tulangnya benar-benar patah karena dia juga tidak membawa pengawal dan supir yang mengantarnya sedang menunggu di mobil yang tidak bisa masuk ke halaman kontrakan itu.
........
__ADS_1