
Sudah lewat tiga hari Lisa tinggal di rumah Bu Aisyah. Dia benar-benar melewati hari yang bahagia bersama suami, anak juga mertuanya. Tidak pernah sama sekali Lisa berpikir akan mendapatkan kebahagiaan ini. Sembilan tahun bersama Tian, hanya rasa tertekan yang Lisa dapatkan selama itu. Padahal Bu Aisyah dan Pak Gufron bukanlah nenek dan kakek kandung anak-anaknya, tetapi mereka berdua benar-benar menghabiskan waktu bermain bersama dengan Azka dan Arka.
Sedangkan orang tua Tian yang jelas-jelas punya hubungan darah saja tidak selalu membantu Lisa mengasuh Azka dan Arka. Bahkan sering Lisa kewalahan mengasuh kedua anaknya itu yang sering berebut mainan dan apa pun walaupun hanya sekedar bantal guling saja mereka benar-benar bisa berebut.
Arkan tidak menjelaskan bagaimana caranya dia bisa mendapatkan hak asuh anaknya, padahal Lisa sangat penasaran kenapa semudah itu mendapat hal asuh. Bisa saja karena uang yang bicara, jadi Lisa pun tidak mengungkit lagi perihal hak asuh itu.
"Sayang, jalan-jalan yuk?"
"Kemana, Aa? Emang kamu nggak kerja? Bajunya udah aku siapin loh,"
"Males ah! Aku mau ajak anak-anak jalan-jalan. Lagian aku juga masih pengen pacaran halal, pengen ngabisin waktu sama kamu, Sayang."
"Ish ... kayak abg ajah. Emang mau jalan-jalan kemana sih?"
"Ke Jakarta yuk? Kamu belum pernah kesana kan? Kita ke Monas, ke tmii, kemana aja deh."
"Iya, terserah Aa aja."
"Manis banget sih? Jadi pengen makan kamu nih,"
"Idih! Semalam kita udah main tiga kali, Aa. Masih mau nambah lagi,"
"Masa' sih tiga kali? Perasaan cuma satu kali doang,"
__ADS_1
"Mau aku sunat lagi?"
"Jangan dong! Kamu aja mengakui enaknya milikku ini, masa' mau di sunat lagi, nanti abis gimana kalau kamu nggak puas?"
"Jangan pulgar, ish!"
Arkan benar-benar senang sekali menggoda Lisa karena pipi Lisa akan memerah saat dia mengatakan bahasa-bahasa vulgar. Padahal Arkan pernah baca salah satu novelnya yang dimana ada adegan vulgarnya. Saat Arkan tanya hal tersebut, Lisa malunya bukan main dan mengatakan jika itu hanya pemanis bahkan melarangnya untuk melanjutkan membaca.
"Kamu kalau nulis novel adegan begituan apa kamu nggak pengen, Sayang?" goda Arkan lagi dan Lisa semakin malu.
"Aa! Aku cuma nulis satu kali di semua novelku. Aku udah bilang kan? Kenapa bahas itu lagi sih? Males ah!" Lisa benar-benar tersipu malu. Kenapa juga Arkan bisa tahu nama pena Lisa dan judul-judul novelnya. Kenapa juga harus pas di novel yang ada adegan panasnya.
"Tapi aku penasaran, Sayang. Para penulis tuh kalau nulis adegan-adegan begituan tuh pengen juga nggak ya?"
"Ya kalau mereka normal pasti pengen jugalah. Ya kali nulis ng- ... ish ... Aa! Kamu mancing aku lagi?"
"Aa!" Lisa meninggikan suaranya.
"Iya, Sayangku ... Cintaku ... Istriku ... cuma bercanda, gitu aja langsung merona,"
"Ish! Aku marah nih,"
"Ya ampun gemes banget sih. Coba marahnya kayak gimana? Aa mau lihat istriku marah,"
__ADS_1
"Aa!"
"Apa sih? Orang tanya bukannya dijawab kok malah marah. Kan cuma penasaran,"
"Nggak tahulah. Aku mau mandi,"
"Mandi bareng ya?"
"Nggak!"
"Iya,"
"Nggak!"
"Iya,"
"Kalau mandi sama Aa sudah bisa dipastikan butuh waktu lama di dalam kamar mandi,"
"Kan enak,"
"Udah ah," ucap Lisa seraya menghentakkan kakinya kesal dengan sikap Arkan yang hobi sekali menggodanya.
"Melisa, i love you," kata Arkan sebelum Lisa masuk kamar mandi.
__ADS_1
"Aku nggak love you!" Arkan malah terkekeh.
........