Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Lisa Sakit


__ADS_3

Beberapa minggu terlewatkan begitu saja. Hari-hari Lisa tidak pernah lagi merasakan sedih ataupun kesepian karena Arkan selalu bisa menghibur Lisa. Apalagi canda tawa kedua anaknya membuat Lisa semakin banyak bersyukur.


Namun tidak dengan hari ini karena Lisa kedatangan tamu bulanan yang artinya dia tidak hamil. Terlihat jelas raut wajahnya yang sedih hingga mengundang pertanyaan bagi Arkan. "Sayang, kenapa sedih?" tanya Arkan dan Lisa segera berisikan biasa saja karena rencana untuk memberikan dia kejutan telah gagal.


"Sakit perut, Aa. Aku dateng bulan," jawab Lisa seraya memegang perut bagian bawah yang emang sedikit nyeri.


"Mau ke rumah sakit? Aa anter sekarang ya?" ajak Arkan seraya membopong tubuh Lisa kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasanya memang tidak nyaman sama sekali. Apalagi Lisa sudah beberapa bulan tidak haid karena pengaruh suntik KB.


"Nggak perlu Aa, besok juga pasti udah sembuh. Biasa kalau satu dua hari ada rasa nyerinya. Apalagi aku KB, jadi wajar, nggak pernah khawatir," jawab Lisa menenangkan Arkan.


"Kalau gitu Aa nggak usah berangkat ke kantor aja. Aa mau nemenin kamu tidur. Untungnya semalam main dua kali, lumayan buat imun selama kamu haid," ledek Arkan membuat Lisa menyipitkan matanya. "Bercanda, gitu aja mau ngambek! Kalau ngambek itu kamu makin manis. Di saat seperti ini kamu jangan manis-manis, Sayang. Nanti Aa nggak tahan," goda Arkan yang langsung mendapatkan cubitan di tangan.


"Aa tahu nggak, wanita yang sedang datang bulan itu sensitifnya luar biasa, mau ak-"


"Iya iya, maaf! Kan biar kamu sedikit lupa sama nyeri kamu, Sayang. Mau di kompres nggak? Eh Emak punya bantal hangat, mau dicoba pake itu?" tanya Arkan dan Lisa hanya mengangguk.


Arkan pun buru-buru keluar dari kamarnya untuk meminjam bantal hangat pada ibunya. Arkan pernah tahu bagaimana Arsya dulu juga kesakitan saat datang bulan. Berbeda dengan Merry yang biasa saja saat datang bulan.

__ADS_1


Setelah mendapatkan bantalnya, Arkan segera kembali ke kamar dan menyibak kaos yang menutup perut Lisa kemudian menempelkan bantal hangat tersebut. Lisa merasa nyaman dengan adanya bantal tersebut. "Udah, Aa. Aa berangkat aja nggak pa-pa. Nanti kalau ada apa-apa aku telepon. Takutnya kerjaan Aa numpuk kalau nggak berangkat," pinta Lisa seraya memiringkan tubuhnya dan memberikan tekanan di bantal.


"Tapi Aa nggak tega liat kamu kesakitan, Sayang." Arkan ikut berbaring dan memeluk Lisa dari belakang. Padahal dia sudah rapi dengan setelan jasnya, hanya tinggal memakai sepatu saja.


"Nggak pa-pa. Nanti kalau kenapa-kenapa kan ada Emak ada Bibi juga. Aa nggak usah khawatir. Buruan sana berangkat! Tapi maaf ya, sarapannya minta siapin Bibi aja. Aku mau berbaring sebentar," kata Lisa masih dengan posisi yang sama.


"Ya udah, kamu istirahat ya, Sayang. Inget loh, kalau ada apa-apa harus cepet telpon!" Arkan pun memberikan kecupan singkat di kepala Lisa yang terbalut jilbab.


"Iya, Sayang! Nggak usah bawel, buruan berangkat sebelum telat!" Arkan pun beranjak kemudian segera memakai kaos kaki juga sepatu lau meraih tas kerjanya.


"Aa berangkat ya, Sayang. Assalamualaikum!"


Setelah mendapatkan jawaban atas salamnya, Arkan pun segera keluar kamar dan langsung disambut oleh Azka yang sudah siap dengan baju seragam sekolahnya. "Eh, Azka mau kemana?" tanya Arkan merengkuh bahu Azka.


"Mau pamit sama , Ibu. Tumben jam segini Ibu belum bangun, Pi?"


"Ibu lagi sakit, Azka nggak perlu pamit ya? Biar Ibu istirahat. Hari ini Papi yang anter Azka sekolah, hm?" Anak itu menurut dan berjalan bersama menuju meja makan. "Eh, Arka belum bangun ya?" tanya Arkan pada baby sitter Arka.

__ADS_1


"Belum, Tuan," Arkan mengangguk dan mengambilkan makan untuk Azka.


"Lisa kesakitan banget ya? Nggak mau diajak berobat?" tanya Bu Aisyah yang baru saja keluar dari kamar.


"Dia nggak mau, Mak. Katanya nanti juga baikan dan itu wajar kalau masih hari pertama atau kedua. Pake bantal dari Emak dia nyaman katanya mau istirahat sebentar," jawab Arkan seraya menyantap sarapannya.


"Iya emang gitu kadang-kadang. Apalagi dia udah nggak haid, kan?"


"Iya, Mak. Biarin Lisa istirahat,"


"Eh, Azka sarapannya yang banyak dong, biar sehat dan pinter," kata Bu Aisyah seraya menambahkan nasi goreng dan udang pada Azka.


"Ini udah banyak, Nini. Takut kekenyangan, nanti Azka malah ngantuk di kelas. Kata Umi di sekolah, makan itu nggak boleh terlalu kenyang biar belajarnya bisa konsentrasi," jawab Azka membuat tawa di meja makan itu.


"Dasar anak pinter, ya udah buruan abisin sarapannya. Nanti telat! Arka belum bangun ya?" tanya Bu Aisyah seraya celingukan.


"Belum, Mak. Anak itu mana pernah bangun jam segini," jawab Arkan yang memang selalu heran dengan Arka yang tidak pernah mau bangun pagi.

__ADS_1


"Iya juga. Ya udah buruan sarapannya, takut pada telat." Arkan dan Azka mengangguk lalu menghabiskan sarapan mereka.


........


__ADS_2