Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Ketahuan


__ADS_3

Merry terpaksa memakan dan mengunyah bakso yang diberikan Arkan bahkan beberapa kali suapan. Bukan hanya bakso, tetapi juga kuahnya Merry terpaksa menelannya. "Udah, Aa. Aku kenyang. Sini giliran Aa yang makan baksonya! Aku suapin ya? Buka mulutnya!" Merry merebut mangkok bakso itu dan segera mungkin menyuapi Arkan, tetapi Arkan menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Tadi katanya enak," tanya Merry cukup kesal.


"Aduh, Aa lupa kalau ada laporan yang harus Aa kerjakan. Besok Aa ada rapat dengan klien penting. Aa ke ruang kerja dulu ya? Kamu jangan ganggu Aa. Kamu tahu Apa selalu serius dengan pekerjaan Aa." Arkan pun bergegas naik ke lantai dua untuk segera masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa memakan bakso itu.


"Sialann!" pekik Merry dalam hati seraya meletakkan mangkuk bakso itu dengan kasarnya di atas meja. Tiba-tiba hawa panas mulai menyelimuti tubuhnya. "Gue harus gimana? Nggak ada cara lain selain pergi menemui Sandi. Semua ini gara-gara wanita kampungan Melisa itu. Awas aja, besok gue kasih lo perhitungan." Merry pun kembali ke kamarnya kemudian segera berganti baju dan mengambil kunci mobil. Dia tahu betul kalau Arkan tidak akan bisa diganggu jika sudah masuk ke dalam ruang kerjanya, kecuali moodnya sedang bagus sekali. Arkan mengintip dari jendela ruang kerjanya dan mengikuti Merry menggunakan motor dengan menjaga jarak aman untuk tahu kemana perginya Merry.


Merry menghentikan mobilnya di halaman sebuah apartemen yang cukup jauh karena harus menempuh perjalanan hampir satu jam. Karena malam itu sedang hujan dan waktu sudah lewat tengah malam, jalanan pun lengang, jadi mobil dan motor melaju dengan lancarnya. Buru-buru Merry menuju lift dan menekan nomor kamar yang akan dituju. Arkan hanya menyunggingkan senyum dan mengirimkan pesan pada seseorang untuk melakukan rencananya. Arkan pun kembali ke rumah karena tidak mungkin dia kembali ke kontrakan Lisa lalu mengganggu tidurnya.


...***...

__ADS_1


Bu Aisyah sudah ada di rumah sejak subuh dan pagi ini sedang membantu menyiapkan sarapan bersama Bik Jum dan Bik Odah. "Kenapa Nyonya Lisa nggak kesini juga ya? Padahal kalau ada Nyonya Lisa tuh hawanya enak banget," ucap Bik Jum pada Bik Odah yang di dengar Bu Aisyah.


"Mungkin Nona Merry itu yang buat Nyonya Lisa nggak betah. Secara kan dia judes banget," jawab Bik Odah.


"Hayo ... pada gibah?" tegur Bu Aisyah yang tidak mereka sadari keberadaannya. Kedua asisten rumah tangga itu hanya bisa tersenyum kikuk.


"Iya. Bukan kalian aja yang kangen. Saya juga kangen sama mantu saya. Biar Arkan paksa Lisa buat kesini. Masa nggak mau ngenalin anak-anaknya sama saya, kan pelit banget Lisa ya?" kata Bu Aisyah malah membuat Bik Odah dan Bik Jum menahan tawanya. "Ih ... kenapa kalian?" Bu Aisyah menatap sinis.


"Nggak ada Nyonya. Odah hanya heran nyonya begitu antusias dengan anak-anak Nyonya Lisa. Padahal mereka bukan cucu Nyonya," ujar Bik Odah yang langsung mendapatkan pukulan kecil di bahunya.

__ADS_1


"Kamu gimana sih. Lisa udah menikah sama Arkan, berarti anaknya itu cucu saya." Bu Aisyah seperti tidak terima Bik Odah bicara seperti itu.


"Loh! Emak udah pulang? Bukannya pulang besok?" tanya Merry tiba-tiba yang baru pulang.


"Kamu dari mana, Nak? Kenapa leher kamu merah-merah? kamu habis kerokan?" tanya Bu Aisyah menghampiri Merry.


"Brengsekk! Sandi ceroboh dan aku nggak ngaca dulu tadi. Sebaiknya aku cepet-cepet naik dan bilang kalau aku masuk angin," batin Merry segera berlari menaiki anak tangga. "Bentar Mak, Merry sakit perut."


........

__ADS_1


__ADS_2