Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Cinta yang mati


__ADS_3

Setelah menatap kesal laki-laki bernama Arkan itu, Lisa segera keluar dari cafe karena pesanan makanannya telah dibayar oleh Hendi. Namun lagi-lagi Arkan masih mengikuti langkah Lisa hingga ke sebuah mushola pun Arkan ikut karena memang sudah lewat waktu sholat dhuhur.


Berbeda dengan Arkan yang langsung keluar musholla setelah sholat, Lisa memilih untuk membaca Alquran dua lembar terlebih dahulu. Kebetulan hari ini adalah hari libur Lisa bekerja di minimarket, jadi Lisa akan menikmati hari liburnya itu.


Walaupun Lisa lama di dalam mushola, Arkan terlihat santai dengan ponselnya dan beberapa kali menoleh pada pintu keluar karena tidak mau kehilangan jejak Lisa. Penantiannya tidak sia-sia karena Lisa pun keluar dari musholla dan langsung masuk ke dalam mall PVJ.


"Sampe kapan sih anda mengikuti saya?" keluh Lisa menoleh ke arah Arkan yang berjalan sejajar dengannya.


"Sampe kamu mau menikah denganku. Tapi setelah menikah juga aku nggak akan mau pisah sama kamu," jawab Arkan dengan mudahnya.


"Astaghfirullah ... Ya Allah ...." Lisa tidak kuasa menerus bicaranya dan hanya bisa memutar bola matanya kemudian kembali berjalan menelusuri Mall PVJ. Bukan tidak mau membeli sesuatu, tetapi Lisa memang tidak suka belanja. Dia yang sekarang lebih suka melihat dari pada membeli sebuah barang yang karena lapar mata, bukan karena butuh.


Semua hutangnya telah lunas, hanya tinggal beberapa juta saja hutangnya pada Umi. Semua itu bisa Lisa lunasi saat novelnya sudah diangkat menjadi web series. Bukan kemauan Lisa, tetapi Umi yang meminta agar uang yang dia dapat untuk kebutuhan pribadi Lisa terlebih dahulu.


Kehidupan satu tahun yang telah dia lewati tentu saja tidaklah mudah. Apalagi saat Lisa melihat foto kedua anaknya. Lisa kerap menangis bahkan histeris saat rindu pada kedua anaknya itu muncul. Lisa juga sengaja menutup semua akun sosial medianya demi tidak tahu bagaimana kabar anaknya saat ini.


Nomor telepon tidak Lisa ganti, hanya semua nomor orang tua dan saudara Lisa blokir. Sebenarnya bukan hal sulit untuk mengganti nomor telepon bagi Lisa, tetapi nomor telepon itu sudah tertaut di akun bank juga beberapa akun yang memang sangat penting dan tidak mudah untuk berganti nomor begitu saja. Akan repot jika harus ganti nomor telepon ditambah lagi registrasi harus menggunakan kartu keluarga.


Puas berjalan walau hanya sekedar cuci mata, Lisa pun memesan taksi online kembali karena hawa ngantuk membuatnya harus memesan mobil dari pada motor walaupun dia tahu Arkan akan kembali ikut dengannya.


"Kamu ngantuk?" tanya Arkan yang melihat Lisa menguap beberapa kali meski mulutnya tertutup tangan.


"Hm," jawab Lisa singkat dan akhirnya taksi online yang dia pesan tiba. Benar dugaan Lisa kalau Arkan akan ikut masuk ke dalam mobil tersebut. Lisa tidak menghiraukannya dan memilih untuk tidur di sepanjang perjalanan.


Tiba di tempat tujuan, Arkan tidak langsung membangunkan Lisa malah dia begitu puas menatap wajah Lisa yang terlihat lelah dan punya banyak beban pikiran. "Pak, tunggu sampai dia bangun sendiri ya? Ini ongkosnya sekalian upah menunggu," ucap Arkan pelan seraya memberikan uang merah lima lembar pada sopir taksi online itu.

__ADS_1


Sayangnya tidak lama Lisa terbangun karena ponselnya berdering. Lisa segera memfokuskan pandangannya dan mencari ponsel yang ada di dalam tas selempang. "Assalamu'alaikum, Mbak. Oh ... iya. Aku ketiduran di mobil .... Astaghfirullah, aneh-aneh aja, ya nggaklah. Kamu tenang aja ini aku udah di depan gang. Em ... iya ... iya." Lisa pun memutuskan panggilan telepon.


"Siapa sih? Ganggu orang tidur aja," protes Arkan.


"Yang tidur saya, bukan Anda. Kenapa jadi Anda yang marah-marah?"


"Ya kalau kamu bangun aku jadi nggak bisa liatin kamu,"


"Astaghfirullah. Sabar Lisa ...."


"Gimana setelah seharian sama aku? Udah mau jadi istriku?"


"Maaf, Tuan. Cintaku udah mati. Saya permisi dan terima kasih. Assalamu'alaikum." Segera Lisa turun dari mobil dan mempercepat langkah kakinya karena tidak mau Arkan mengikutinya lagi.


Namun tidak begitu, langkah kaki Arkan jauh lebih cepat dari pada Lisa. "Kamu belum bayar ongkos taksinya, kenapa main kabur aja?" ucap Arkan, tetapi terdengar seperti meledek. Lisa segera mengambil dompetnya yang ada di dalam tas dan hendak mengambil uang. "Aku bercanda. Kenapa dianggap serius?" lanjut Arkan.


"Kan udah dibilangin, panggil Aa. Jauh lebih baik dari pada, Tuan."


"Atas dasar apa saya harus menuruti apa yang Anda mau?"


"Atas dasar cinta,"


"Sudah saya bilang kalau rasa cinta saya telah mati, Tuan Arkan. Apa pendengar anda perlu diperiksakan?"


"Kamu tahu? Cinta dan kematian itu bisa datang tiba-tiba?" Lisa terkejut dan menatap Arkan yang berwajah serius. "Kematian dan cinta adalah dua hal yang berhubungan sangat erat. Kamu tahu kenapa? Karena cinta bisa mendatangkan kematian, sedangkan hati yang mati bisa dihidupkan kembali dengan cinta. Aku ... akan menghidupkan kembali cintamu yang telah mati. Jika takdir telah mempertemukan kita, maka aku yakin kamulah takdir cintaku. Aku pergi, sampai ketemu besok lagi, disini. Assalamu'alaikum." Arkan pun berlalu dan langsung masuk ke dalam mobil BMW yang telah menunggunya.

__ADS_1


Lisa masih menatap mobil yang dinaiki Arkan seraya mencerna setiap kata yang Arkan ucapkan. "Aku sendiri pernah benci dengan takdirku, kenapa kamu mengatakan aku adalah takdirmu?" Lisa pun kembali berjalan menuju kontrakannya.


...***...


"Duh ... kamu nggak pa-pa?" Umi sudah berada di depan pintu kontrakan Lisa dengan wajah cemasnya. "Kak Hendi bilang kalian udah berpisah sejak adzan dzuhur. Kenapa kamu susah dihubungi, sih?" omel Umi seraya memukul lengan Lisa. Namun Lisa terlihat muram. "Kenapa? ada masalah? Kamu lagi kangen sama anak kamu?" tanya Umi langsung memeluk Lisa.


"Mbak, ada yang melamarku." Umi langsung melepaskan pelukannya.


"Seriously? Kabar gembira, kenapa kamu sedih? Hei ... come on. Ayo move on. Kamu masih muda. Kamu wanita hebat."


"Aku takut, Mbak."


"I know. Kamu pasti masih takut, tapi kalau ada laki-laki yang tiba-tiba ingin menikahimu, itu bagus. Akan ada yang menjaga juga memberikanmu support. Aku yakin dia bukan laki-laki sembarangan. Kamu butuh teman untuk menua bersama, Beb."


"Tapi aku nggak cinta dia,"


"Cobalah mengenalnya terlebih dahulu. Aku yakin dia pasti diam-diam memperhatikanmu selama ini. Kamu juga bisakan sholat istikharah? Minta petunjuk pada-Nya."


"Entahlah."


"Kamu ingat aku pernah bilang apa?"


"Yang mana?"


"Kalau kamu belum bisa melakukan suatu pekerjaan yang menghasilkan uang, maka lakukan sesuatu hal yang menghasilkan kebaikan. Biarkan kebaikan itu bekerja dengan sendirinya, maka kamu juga akan mendapatkan kebaikan. Bukannya kamu juga selalu minta yang terbaik pada-Nya? Bisa jadi ini hasil dari kebaikan yang selama ini kamu tanam. Aku yakin kamu bisa move on, demi hak asuh anak kamu juga," Lisa hanya mengangguk.

__ADS_1


..


..


__ADS_2