Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Perhatian Arkan


__ADS_3

Selama bekerja bersama Alfin, Arkan sama sekali tidak bisa konsentrasi dalam bekerja karena terus menerus ingat dengan Lisa. Beberapa kali dia memegang ponselnya untuk menghubungi sang istri, tetapi kali itu juga dia tahan karena takut mengganggu istirahatnya.


Arkan sudah mencoba menghubungi Bu Aisyah, tetapi sama halnya dengan Arkan jika Bu Aisyah juga tidak mau mengganggu Lisa dengan masuk ke dalam kamarnya sebelum dia keluar. Akhirnya Arkan malah browsing tentang kasus datang bulan pada wanita juga cara mengatasinya.


"Serius amat, Bos?" tanya Alfin yang melihat Arkan sedang menatap serius layar ponselnya.


"Hm. Lagi cari cara mengatasi nyeri haid," jawab Arkan masih sibuk scroll layar ponselnya.


"Sayang banget sama istri, jadi pengen kawin," ledek Alfin.

__ADS_1


"Hust ... nikah dulu, baru kawin. Dasar mesumm!" jawab Arkan hampir melepaskan buku yang ada di sisinya.


"Iya juga ya, tapi Bos, em nggak mau tahu kabar Merry?" Arkan seketika membantu saat mendengar nama itu. "Ah, sorry! Cuma mau kasih tahu aja kalau dia masuk rumah sakit karena pendarahan. Tapi untungnya bayinya masih bisa di selamatkan," jelas Alfin yang memang meminta Sandi untuk memberikan kabar jika ada sesuatu atau terjadi sesuatu pada mereka berdua.


Arkan pun kembali fokus dengan layar ponselnya setelah mendengar Merry dan bayinya selamat. Memang tidak bisa dibohongi jika dia masih ingin tahu kabar adik angkatnya itu. Hanya saja ego nya cukup besar dan lagi dia belum mendapatkan kata maaf dari Merry.


Setelah puas dengan jawaban dari browsing nya, Arkan pun kembali fokus bekerja hingga jam makan siang tiba, Arkan memilih untuk pulang dan membawa bebek bakar juga obat yang dia beli dari apotik. "Sayang, aku pulang!" kata Erlan seraya membuka pintu kamarnya.


"Iya. Aa takut kamu nggak mau keluar untuk makan. Ini Aa beliin bebek bakar plus obat anti nyeri buat kamu, Sayang," kata Arkan meletakkan semuanya di atas nakas.

__ADS_1


"Makasih perhatiannya, Aa," jawab Lisa dengan senyum yang sedikit terpaksa karena rasa ngantuk masih menjelma.


"Iya, Sayang. Aa suapin ya? Abis makan dan minum obat kamu boleh tidur lagi," ucap Arkan kemudian membuka bungkusan bebek bakar agar nasinya bisa dingin. "Aa cuci tangan dulu bentar," lanjut Arkan kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangan. "Eh, Aa belum sholat. Tunggu bentar ya?" kata Arkan kemudian berwudhu dan sholat dzuhur terlebih dahulu.


Lisa semakin terharu dengan sikap manis dan perhatian Arkan yang tidak pernah dia dapatkan dari Tian dulu. Semasa pengantin baru memang keduanya sempat makan berdua dan tidak makan jika salah satu tidak ada. Namun seiring berjalannya waktu, hal itu tidak pernah mereka lakukan lagi.


Sebenarnya Lisa juga takut jika cinta Arkan akan pudar seperti cinta Tian padanya. Sekarang Arkan masih begitu manis dan perhatian, tetapi Lisa tidak bisa menebak ataupun terlalu banyak berharap untuk masa yang akan datang.


Namun setiap rumah tangga itu pasti akan ada ujiannya masing-masing. Entah apa pun itu, hanya saja walaupun Lisa pernah gagal, Lisa akan berusaha untuk gagal yang kedua kalinya. Bukan hanya demi dirinya sendiri, tetapi demi Azka dan Arka, bahkan calon anak Arkan nantinya.

__ADS_1


........


__ADS_2