
Lisa dan Arkan telah tiba di depan pintu apartemen Sandi. Arkan masih ragu bisa bertemu dengan Merry atau tidak sehingga dia memilih untuk menatap pintu tersebut. Cukup lama Arkan terdiam hingga Lisa memberiku ciuman di pipinya, barulah Arkan mengangguk. Lisa pun menekan bel agar pemilik apartemen membukakan pintu.
"Tuan Arkan, akhirnya datang juga. Mari silahkan masuk," sapa Sandi dengan ramahnya. Lisa sedikit menarik tangan Arkan hingga dia terpaksa masuk ke dalam apartemen itu.
Dari kejauhan, Merry sedang duduk di sofa dengan kepala yang menunduk. Merry tidak mengenakan baju kebaya ataupun baju pengantin. Dia hanya memakai baju biasa dan wajah tanpa make up. Tangannya terlihat tremor dan seperti seorang yang tertekan. Merry mungkin takut bertemu dengan Arkan. Seharusnya seorang ibu hamil tidak seperti itu. Namun Lisa tetap bersikap tenang layaknya tidak terjadi apa-apa antara Lisa dan Merry.
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya seorang penghulu yang menunggu Arkan sejak tadi. Ada dua orang saksi juga asisten penghulu di sofa bersebrangan dengan Merry. Sandi segera duduk disisi Merry berhadapan dengan penghulu. Arkan hanya berdiri di belakang Sandi dan mengagungkan kepalanya saat penghulu tersebut menatapnya.
__ADS_1
Beberapa syarat juga pertanyaan penghulu kepada kedua mempelai telah lengkap dan selesai. Akhirnya Sandi mengucapkan ijab qobul dengan lancar hingga Merry terdengar menangis dan sedikit terisak. Arkan tidak peduli sama sekali.
Sandi dan Merry pun menandatangani beberapa berkas dan surat nikah. Ada sedikit wejangan juga yang disampaikan penghulu terkait Merry yang sedang hamil. Arkan yang meminta untuk memberikan sedikit pencerahan untuk Merry agar pikiran terbuka. "Jadi kalau anak Nak Merry ini perempuan nanti, Nak Sandi dan Nona Merry harus melakukan ijab qobul lagi ya? Dan Nak Sandi tidak bisa menikahkan anak perempuan Nak Sandi yang pertama ini karena hamilnya di luar pernikahan," kata penghulu tersebut dan mendapatkan anggukan.
Merry masih tertunduk tanpa memberikan respon apa-apa dengan perkataan penghulu terhadap anak yang dia kandung itu. Mau perempuan atau laki-laki, baginya tidaklah penting. Lebih bagus lagi kalau mati saja, itulah yang dipikirkan Merry. Dirasa cukup memberikan penjelasan kepada Sandi dan Merry, penghulu dan beberapa orang lainnya pun pergi.
"Terima kasih, Tuan. Kami janji tidak akan kembali lagi kesini. Kami akan fokus dengan anak-anak kami. Terima kasih juga doanya. Semoga Tuan Arkan dan Nyonya Lisa segera diberi momongan dan semoga selalu diberikan kebahagiaan," kata Sandi ikut mendoakan.
__ADS_1
Lisa merasa tenang karena Merry akan pergi bersama dengan suaminya. Lisa tentu tidak mendoakan hal buruk melainkan sebaliknya. Walaupun sebenarnya Lisa sangat ingin memeluk Mereka untuk memberikan semangat karena sejak tadi dia menunduk, tetapi Lisa tidak bisa melakukan itu karena sejak tadi tangannya tidak dilepaskan sama sekali oleh Arkan.
"Aamiin. Terima kasih doanya. Sepertinya kami harus segera pergi agar Merry nyaman. Ingat ya jaga baik-baik anak kamu. Ibu hamil itu emosinya nggak stabil, jadi jangan sampai dia marah-marah atau sedih berlarut-larut. Aku yakin kamu pasti bisa menjaga istri dan anakmu. Kami pamit ya? Assalamualaikum!" kata Lisa seraya menganggukkan kepalanya.
"Iya, Nyonya. Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan," jawab Sandi ikut mengantar kepergian Arkan dan Lisa menuju pintu keluar.
........
__ADS_1