
Arkan sedang menangis dalam pelukan Lisa. Tahun-tahun yang dia lewati benar-benar menyakitkan. Arkan tidak pernah menyangka sama sekali jika kematian adiknya berhubungan dengan Merry. Bahkan Arkan tidak pernah curiga sama sekali dengan sikap Merry.
Sebenarnya Arkan juga ingin menyelidiki kematian Nanda, tetapi dengan kenyataan bahwa Merry dalang dibalik kematian Arsya, Arkan membatalkan niatnya karena sudah bisa dipastikan saat itu Nanda pasti jadi korban fitnah padahal saat itu Arkan tidak percaya kalau Nanda mencuri untuk biaya berobat orang tuanya. Namun karena Nanda malu, dia pun melarikan diri dan malah tertabrak mobil hingga mati ditempat.
Dukungan Lisa membuat Arkan tidak lama-lama berlarut dalam kesedihan. Arkan pun menyudahi tangisnya setelah beberapa saat kepergian Merry. "Aa udah tenang?" tanya Lisa seraya mengusap air mata yang membasahi pipi Arkan.
"Hm. Makasih, Sayang. Aku nggak tahu lagi harus bilang makasih berapa kali. Kalau bukan karena dukungan mu, mungkin selamanya aku dibodohi oleh Merry," ucap Arkan kembali memeluk Lisa.
__ADS_1
"Semuanya udah takdir, Aa. Mau disesali seperti apa pun nggak akan membuat mereka yang meninggal hidup lagi. Kamu bisa memaafkan Merry saja itu suatu anugrah terindah karena nggak semua orang bisa memaafkan kesalahan orang lain. Apalagi sampai nyawa taruhannya. Suamiku memang hebat," puji Lisa dan Arkan pun melepaskan pelukannya kemudian memberikan kecupan singkat di kening Lisa.
"Kamu yang hebat, Sayang." Arkan pun mengusap ujung kepala Lisa.
"Sebaiknya masalah ini jangan sampai Emak dan Bapak tahu. Aku khawatir dengan kesehatan mereka," kata Lisa dan Arkan mengangguk paham.
Sebelum sarapannya selesai, Arkan mendapatkan pesan bahwa Merry sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Sejak dia mengetahui tempat tinggal Sandi, Arkan meminta Alfin untuk memata-matai apartemen itu dan bernegosiasi dengan Sandi.
__ADS_1
Sandi menceritakan semuanya pada Arkan bahkan saat mereka berdua tinggal di luar negeri. Merry disana tidak benar-benar kuliah bahkan lebih sering menghamburkan banyak uang. Sedangkan Sandi benar-benar kuliah dari uang Arkan juga karena saat itu Merry meminta pergi ke luar negeri bersama Sandi. Walaupun Arkan saat itu belum pernah bertemu dengan Sandi, tetapi Arkan langsung setuju dengan permintaan Merry karena saat itu alasan Merry pergi karena merasa bersalah jika terus menerus di rumah.
Rencana Arkan benar-benar berjalan lancar atas bantuan Alfin yang dipaksa pulang ke Bandung untuk menyelesaikan masalahnya.
"Sekarang Aa istirahat aja. Masalah ini udah selesai dan jangan memikirkan masalah ini lagi ya?" bujuk Lisa dan lagi-lagi Arkan mengangguk. "Suamiku memang hebat dan berlapang dada. Semoga Arsya sekarang tenang di sisi Allah karena Aa udah tahu hal yang sebenarnya," doa Lisa langsung mendapatkan aamiin dan Arkan. "Aku mau ke kamar anak-anak dulu ya. Kasian mereka takut nungguin kita yang ngajakin mereka jalan-jalan tadi," Lisa pun beranjak dari tempat tidur.
"Maaf ya, Sayang. Gara-gara aku rencana jalan-jalan kita batal," ucap Arkan dengan raut wajah penuh penyesalan.
__ADS_1
"Nggak pa-pa. Toh bisa lain waktu. Kamu butuh istirahat, jadi jangan mikirin hal lain lagi. Aa fokus aja istirahat hari ini, hm?" Arkan kembali mengangguk dan Lisa pun keluar dari kamarnya.
........