
"Sayang ... aku benar-benar kehilangan kamu. Aku tahu kamu wanita yang sangat setia. Aku yakin kamu juga masih cinta sama aku kan? Demi anak-anak, Sayang. Kamu yang paling tahu sifat mereka. Azka dan Arka tanyain kamu terus. Ayo kita pulang, hm?" Tian berjalan mendekati Lisa. "Sayang!" panggil Tian begitu lembut dan penuh kasih sayang. Tian pun merengkuh bahu Lisa.
Arkan ingin mencegah, tetapi Arkan ingin tahu bagaimana sikap Lisa menghadapi mantan suaminya itu. "Jangan sentuh aku lagi, Mas. Aku bukalah istrimu. Kamu haram menyentuhku sekarang." Lisa segera mundur dua langkah menjauh dari Tian. Arkan pun menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa? Kamu masih cinta aku kan? Dan aku juga masih cinta kamu, Melisa." Tian hendak maju menghampiri Lisa kembali.
"Stop!" Lisa pun memberanikan diri menatap Tian dengan mata yang memerah dan rahang yang mengeras. Tangannya pun mengepal menahan gejolak amarahnya. "Kamu bilang cinta aku, Mas? Sembilan tahun, Mas! Sembilan tahun aku menemanimu sejak kamu jadi penderes karet. Saat hamil pun aku mengikuti kamu ke kebun karet untuk membantumu. Aku menemanimu dari nol bahkan aku merelakan pekerjaanku demi kamu naik jabatan. Tapi apa, Mas?" Lisa menjeda bicaranya.
"Melisa, kita bisa bicarakan ini. Tapi jangan disini," pinta Tian.
"Kenapa? Kamu malu? Kamu punya malu?" Lisa menarik nafas dalam-dalam dan kembali menatap Tian penuh kebencian. "Apa kamu pernah Mas hanya sekali aja, satu kali aja Mas kasih aku uang gaji kamu untuk aku kelola? Apa kamu pernah Mas, pernah kasih tau aku berapa gaji dan bonusmu? Apa kamu pernah bilang mau beli ini itu? Apa kamu pernah minta pendapatku barang sekali aja? Apa kamu pernah peduli dengan kebutuhanku padahal itu kewajibanmu menafkahi ku. Nggak, Mas!" Lisa ingin sekali melayangkan tangan pada laki-laki di depannya.
"Sayang ... ayo kita bicara di tempat lain,"
"Mas ... sejak pertama menikah pun uang hasil panen karet kamu kasih ke ibu kamu, bukan ke aku. Aku masih kuliah dan satu minggu kamu cuma kasih lima puluh ribu padahal uang bensin aja nggak cukup. Kamu egois, Mas. Bagaimana dengan makan dan jajanku di kampus? Apa kamu mikirin itu? Aku kalau nggak minta uang ke kamu harus minta ke siapa, Mas. Kamu nggak mau mengerti aku bahkan dengerin keluh kesah ku karena lelah mengasuh dua anak. Kamu pikir jadi ibu rumah tangga itu hal yang mudah? Kamu tahu jadi Ibu itu perlu mental yang kuat dan badan yang sehat. Aku bahkan nggak pernah sekali aja ngeluh sama kamu saat aku sakit. Pernah kamu cariin aku obat saat aku sakit?" Lisa merasa kehabisan nafas karena terlalu banyak bicara seraya menahan gejolak amarah di dada.
__ADS_1
"Melisa ...."
"Tapi kalau orang lain yang sakit, terutama karyawan perempuan di toko yang kamu jaga itu, kamu sibuk bawa ke klinik sedangkan aku ... untuk suntik kontrasepsi aja pergi sendiri, Mas. Dimanakah yang menunjukkan kalau kamu cinta sama aku? Kamu berubah setelah merantau ke Jakarta. Aku itu istrimu atau barangmu yang hanya kamu cari saat kamu butuh pelepasan aja, Mas?"
"Melisa. Kita bisa diskusi masalah ini. Aku akan turuti semua maumu kalau kamu mau rujuk, Sayang."
"Heh! Rujuk? Kenapa kamu baru cari aku, Mas? Kalau kamu niat rujuk, nggak perlu kamu nunggu selama satu tahun. Nggak! Kamu bohong, Mas. Kalau kamu belum mendaftar perceraian kita, biar aku yang daftarkan dan mengambil hak asuh anakku. Pergilah! Kamu nggak perlu capek-capek jauh-jauh ke Bandung hanya untuk mengajakku rujuk, Mas. Aku lelah. Hatiku udah mati dan ... sekarang aku hanya membencimu, Mas. Bukan mencintaimu lagi. Kamu udah muak kan sama aku? Aku masih ingat cara kamu menjatuhkan talak dan mengusirku, Mas. Bahkan setelah satu tahun aku melewatinya, semuanya masih terasa baru kemarin kamu begitu kejamnya mengusir Ibu dari anak-anakmu ini."
"Mel ... maksudnya, Sayang, aku serius! Nggak ada yang lebih baik dari kamu, Sayang. Mari pulang, orang tuamu juga mencari mu," Tian kembali melangkah mendekati Lisa, tetapi dengan cepat Arkan berdiri di depan Tian dengan tegap. "Siapa kamu? Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang!" bentak Tian.
"Kamu jangan ikut campur urusan saya dengan istri saya!" Tian meraih kerah baju Arkan dan mengancamnya dengan tangan yang sedang menggantung di udara.
"Heh! Istri? Kamu udah talak tiga dia dan kamu anggap dia istri kamu? Hei ... Bung ... bangun ... tidurmu terlalu miring," ucap Arkan dengan santainya tanpa peduli Tian akan memukulnya atau tidak.
Kedua laki-laki itu pun beradu mata cukup lama, hingga dua orang dengan setelan jas hitam meraih tubuh Tian agar menjauh dari Arkan. "Brengsekk ... apa-apaan ini? Lepasin!" teriak Tian tidak mendapatkan respon apa pun dari kedua bodyguard Arkan.
__ADS_1
Arkan tahu hati wanita pujaannya sedang kacau. Segera dia berbalik badan dan menunduk menatap wanita mungil itu terisak-isak. "Masuklah ke mobil BMW itu untuk sekedar menangis jika kamu malu menangis di jalanan begini," ucap Arkan begitu lembut. Tanpa pikir panjang lagi, Lisa melirik mobil yang dimaksud Arkan yang ada di pinggir jalan utama. Segera Lisa masuk ke dalam mobil diikuti Arkan.
"Melisa!" panggilan Tian sama sekali tidak membuat Lisa menoleh ataupun menghentikan langkahnya.
"Jalan, Pak," titah Arkan pada sopir pribadinya. Mobil pun melaju entah kemana, Lisa tidak peduli. Dia hanya mampu tertunduk dengan air mata yang jatuh mengenai jilbab syar'i yang dia pakai. Arkan pun memberikan sekotak tisu pada Lisa. "Jangan ditahan kalau mau nangis, biar hatimu lega." Mendengar itu Lisa benar-benar menangis dengan kencangnya hingga beberapa menit dan menghabiskan banyak tisu untuk mengusap air mata serta ingusnya.
Setelah merasa puas menangis, Lisa pun menoleh menatap Arkan yang Lisa yakini sejak tadi melihatnya menangis. "Maaf!" hanya kata itu yang keluar dan Lisa pun menyandarkan tubuhnya di kursi yang begitu nyaman itu kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Kamu punya tujuan?" tanya Arkan masih tidak mau memalingkan wajahnya dari Lisa.
"Nggak! Bawa aja kemanapun Aa mau bawa Lisa," jawab Lisa dengan nada datar.
Arkan terperanjat mendengar Lisa memanggilnya dengan sebutan 'Aa'. "Ka-kamu ... kamu panggil ... panggil aku ap-apa tadi?" Arkan jadi salah tingkah, bahkan rasa dalam dadanya tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Lisa pun menoleh menatap Arkan yang begitu senangnya dipanggil 'Aa' olehnya. Melihat wajah Arkan, Lisa pun tersenyum. "Aku panggil kamu, Aa. Maaf! Aa Arkan. Maaf kalau ini terlihat terpaksa. Tapi aku mau jadi istrimu, Aa Arkan. Aku akan menagih janjimu untuk menghidupkan kembali cintaku yang telah mati dan ... tolong ... bantu aku mengambil hak asuh anakku,"
__ADS_1
..