Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Saling Melengkapi


__ADS_3

Setelah mendapatkan persetujuan Arkan untuk kembali ke sekolah sebelumnya, Lisa akhirnya kembali ke sekolah itu dan mendaftarkan Azka. Walaupun sebenarnya Lisa ragu karena biayanya yang cukup fantastis, tetapi lagi-lagi Arkan menyakinkan Lisa untuk tidak mempermasalahkan uang.


Azka sendiri juga suka dengan sekolahnya karena jelas lebih bagus dari sekolah sebelumnya. Walaupun syaratnya cukup merepotkan, tetapi semuanya bisa teratasi hanya dengan menelpon seseorang saja, yaitu Alfin.


"Udah, nggak usah dipikirin lagi. Uang suamimu ini banyak. Jadi nggak perlu cemas, oke?" Lisa hanya mengangguk dan setelah itu mereka pulang.


"Gimana? Dapet sekolahnya?" tanya Bu Aisyah yang kemudian mengambil Arka dari gendongan Arkan. "Arka capek nggak?"


"Iya, apek," jawab Arka.


"Dapet, Mak. Nggak jauh juga kok dari sini. Cuma biaya masuk dan lainnya lumayan mahal," jawab Lisa yang memang bagi dia beberapa juta itu hal yang mahal juga banyak. Apalagi setelah musibah yang menimpanya. Walaupun Lisa saat ini punya uang puluhan juta dari hasil novel yang diangkat menjadi web series juga hasil penjualan novel cetaknya, tetap saja uang itu tidak boleh Lisa gunakan untuk apa pun kecuali kebutuhan dia saja, tetapi hanya kebutuhan mendesak karena uang bulanan dari Arkan saja sisanya masih lebih dari cukup.


"Suami kamu kerja buat istri dan anaknya, emang siapa lagi yang mau ngabisin? Nggak mungkin pelakor kan?" sahut Arkan sedikit menekan karena Lisa terus saja memperhitungkan biaya sekolah Azka yang mahal.

__ADS_1


"Mau coba-coba manjain pelakor?" tanya Bu Aisyah.


"Ya mana berani, Mak. Bisa-bisa kaki dan tangan aku di patahin sama menantu kesayangan Emak itu," jawab Arkan.


"Baguslah. Kamu emang harus hati-hati Lisa, apalagi di kantor Arkan itu ceweknya cantik-cantik, kamu harus sering-sering mengawasi mereka. Coba-coba goda Arkan, langsung patahin tulangnya di tempat." Bu Aisyah bahkan menghentakkan kaki saking gemasnya jika bertemu dengan pelakor.


Lisa terkekeh melihat ekspresi ibu mertuanya itu. "Iya, Mak. Tenang aja! Lisa bakal jaga Aa Arkan baik-baik. Bila perlu di rumah nanti celananya di gembok biar nggak bisa jajan di luar," jawab Lisa tidak kalah menghayati gaya bicaranya.


"Mau, Ni." Azka pun mengekor pada Bu Aisyah.


Lisa pun duduk disebelah Arkan dan dengan cepat Arkan merengkuh bahu Lisa kemudian memberikan kecupan di kepala yang tertutup hijab. "Sepertinya alasan aku mau lahir ke dunia adalah kamu, Sayang." Arkan tiba-tiba tersipu mendengar panggilan sayang dari Lisa.


"Jadi geer nih dipanggil sayang. Emang kenapa bisa begitu? Kok alasannya Aa sih?" tanya Arkan sedikit heran.

__ADS_1


"Iya. Sebelum kita lahir, malaikat udah kasih gambar hidup kita di dunia. Semuanya dari lahir hingga mati. Bahkan kita ditanya hingga 77 kali untuk berpikir ulang apakah mau lahir ke dunia atau nggak. Kalau aku mau lahir ke dunia setelah tahu apa yang akan terjadi, berarti saat itu ada hal yang menarik di dunia ini yang buat aku mau dilahirkan. Hal menarik itu pasti menikah denganmu, Sayang," papar Lisa dan Arkan semakin tersipu. Segera dia peluk wanita shalihah dihadapannya.


"Aku yakin kamu juga alasan aku mau lahir di dunia ini," jawab Arkan lirih dalam pelukan Lisa.


"Itu sih jawaban nyontek," kata Lisa terkekeh. Arkan pun melepaskan pelukannya dan mencubit hidung Lisa.


"Menurutmu apa lagi alasan aku mau dilahirkan?" tanya Arkan menatap Lisa dengan kehangatan.


"Mungkin karena kamu jadi keluarga kaya dan tanpa kekurangan apa pun. Beda dengan aku yang keluarga aja broken home. Belum lagi sikap Ayah tiri aku," jawab Lisa terlihat sedih.


"Yang penting sekarang hanya akan ada kebahagiaan dari seorang Arkan, hm?" Lisa hanya mengangguk dan mereka berdua kembali berpelukan.


........

__ADS_1


__ADS_2