
"Aw! pusing banget sih," rintih Merry seraya memijat pelipisnya. "Dimana ini?" gumam Merry memfokuskan pandangannya. "Kayak apartemen Sandi. Kok bisa disini," lanjutnya.
Setelah kebusukannya terungkap, Merry tiba-tiba pingsan saat dirinya tidak terima Arkan mengetahui banyak hal yang dia susun dengan sedemikian rupa itu. Merry mencoba mengingat kembali apa yang terjadi setelahnya, tetapi dia tidak ingat apa-apa lagi. Merry merasa tubuhnya tidak enak.
"Sayang! Kamu udah bangun?" sapa Sandi yang baru masuk kamar dengan membawa nampan berisi makanan juga jus alpukat diiringi senyum bahagia. "Nih makan dulu! Kamu pingsan sejak tiga jam lalu. Kamu tadi pagi nggak sarapan juga, jadi tubuhmu semakin lemah. Apalagi kamu udah nggak sendirian," tutur Sandi membuat Merry mengangkat satu alisnya.
"Apaan sih, lo! Kenapa gue disini? Apa yang terjadi setelah lo berkhianat juga para preman brengsekk itu? Apa yang Arkan lakukan?" tanya Merry.
"Banyak amat sih nanyanya. Dokter bilang kamu nggak boleh capek dan nggak boleh stres. Kamu harus banyak istirahat," jawab Sandi sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang Merry tanyakan.
"Lo begok ya? Gue tanya kenapa lo nggak jawab, dasar brengsekk!" Merry melemparkan batal pada Sandi yang dengan cepat Sandi menangkap bantal tersebut.
__ADS_1
"Sayang! Kata Dokter kamu tuh nggak boleh banyak gerak apalagi marah-marah," jawab Sandi masih dengan nada lembut.
"Lo gila ya? Dari tadi kata Dokter kata Dokter terus, emang gue sakit apa sampe gue harus nurutin kata Dokter?" teriak Merry semakin kesal dengan Sandi.
"Sayang ... kamu lagi hamil anak kita. Makanya kamu harus jaga kondisimu," jelas Sandi seraya menggenggam lembut tangan Merry. Namun Merry menarik dan tiba-tiba tangannya bergetar karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sandi.
"A-apa ... apa yang ... yang lo bilang?" tanya Merry lagi Ingan memastikan apa yang dia dengar.
"Nggak! Nggak mungkin gue hamil. Gue pake alat kontrasepsi. Dan ... dan lo sengaja kan selalu buang di dalem akhir-akhir ini
biar gue hamil? Brengsekk lo! Argh!" Merry melepaskan semua bantal dan selimut yang ada di atas tempat tidur. Merry juga menjambak rambutnya sendiri karena marah. Dia juga memukul perutnya berkali-kali sebagai tanda dia tidak mau hamil.
__ADS_1
"Sayang! No! Jangan lakukan itu. Sayang ... tenanglah!" Sandi segera memeluk Merry hingga Merry merasa tenang. "Tenanglah! Aku nggak akan tinggalin kamu. Aku akan menikahimu, Sayang!" Sandi memberikan kecupan di kening Merry beberapa kali agar Merry semakin nyaman dan tenang dalam pelukannya.
"Nggak! Gue nggak mau hamil. Anter gue aborsi. Lo tahu banget siapa yang ingin gue nikahin. Gue nggak mau nikah sama lo, nggak mau," kata Merry dengan suara lirih.
"Nggak akan ada laki-laki yang mau nikahin kamu selain aku, Merry. Sejak dulu aku mencintaimu. Aku berjanji akan menjaga kamu juga anak kita. Tolong! Sadarkan kalau kamu udah berbuat banyak kesalahan. Kita akan hidup bahagia dengan keluarga kecil kita, Sayang,"
"Nggak! Gue cuma mau Arkan,"
"Sayang! Denger baik-baik. Tuan Arkan akan mengirim kita ke luar negeri. Dia juga tahu kamu hamil anakku. Kamu masih beruntung Tuan nggak bawa kasus ini ke pihak berwajib. Tuan benar-benar menyayangimu sebagai adik, dan nggak lebih. Aku ... aku yang tulus sayang sama kamu. Tolong sadarlah. Tuan Arkan nggak akan bisa kamu gapai apalagi dia udah punya istri yang begitu dia cintai. Mari kita hidup bersama dan bahagia bersama dengan anak-anak kita, Sayang." Sandi kembali memberikan kecupan di kening Merry.
Merry tidak menjawab apa pun. Air mata yang membasahi pipi juga tidak bisa diartikan. Entah marah, sedih atau bahagia. Air mata itu tiba-tiba jatuh begitu saja tanpa dia minta.
__ADS_1
........