Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Kejahilan Arkan


__ADS_3

Lisa masih saja cemberut perihal Arkan yang bermain lama dengannya di kamar mandi hingga tangan dia keriput karena terlalu lama di dalam air. Sedangkan Arkan hanya terkekeh melihat tingkah istrinya yang benar-benar menggemaskan itu.


Jika saja keduanya tidak dipanggil untuk segera turun dan sarapan, pasti Arkan akan melakukan permainannya lebih lama lagi di dalam kamar mandi. "Udah dong, jangan cemberut terus. Aa makin gemes loh. Bisa-bisa ada yang bangun lagi nanti," ledek Arkan seraya mencolek dagu Lisa.


"Ah tau'! Buruan turun. Pasti udah ditungguin." Lisa sudah selesai mengeringkan rambutnya dan segera mengikat rambut itu untuk memakai hijab dan turun untuk sarapan bersama. Lisa berharap kalau Merry belum pulang.


"Mereka juga paham Sayang. Kan mereka juga pernah muda," jawab Arkan masih dengan nada meledek.


"Ngomong sama Aa tuh percuma. Aku duluan deh." Lisa hendak beranjak keluar, tetapi Arkan segera menarik tubuh Lisa ke dalam pelukannya. "Aa ... udah dong. Orang tua kita pasti kelaparan karena terlalu lama nunggu," kata Lisa tanpa ekspresi marah karena pelukan suaminya memang begitu menenangkan.


"Sayang ... aku mencintaimu." Arkan lagi-lagi mengungkapkan perasaannya pada Lisa.


"Iya ... aku tahu. Buruan pake baju. Nggak enak ditungguin dari tadi," jawab Lisa yang kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Arkan untuk membalas pelukan suaminya.


"Aku bawa kabar bagus, pasti kamu akan semakin mencintaiku,"


"Pede banget, emang kabar apa sih?"


"Nanti. Sekarang belum saatnya. Yang jelas kamu akan jadi milikku seterusnya."


"Sebesar apa cintamu, Aa?"


"Nggak akan bisa terukur,"

__ADS_1


"Benarkah?"


"Hm."


"Apa Aa bakal maafin aku kalau aku melakukan kesalahan?"


"Tentu saja. Semua orang pernah khilaf."


"Apa Aa akan percaya dengan semua yang aku katakan,"


"Iya. Memang siapa lagi yang akan Aa percaya kalau bukan istri Aa ini?"


"Kan ada Emak juga Merry."


"Iya benar. Aku nggak akan bisa jadi perbandingan karena aku orang baru di hidupmu. Mana mungkin kamu percaya adikmu itu bermuka dua?" batin Lisa tertunduk lesu.


...***...


Lisa sangat senang karena dia bisa melayani Arkan tanpa adanya gangguan dari Merry dan tidak ada yang menyinggung atau bertanya perihal Merry yang tidak ada di meja makan untuk sarapan bersama. "Wah ... enak nih masakan menantu," puji Pak Gufron setelah melahap habis sarapannya.


"Alhamdulillah," jawab Lisa lirih. Dia sangat bersyukur karena mertuanya cocok dengan masakan yang dia buat.


Setelah sarapan, Lisa ikut membantu membereskan meja makan walaupun sudah dilarang oleh Bu Aisyah. Merasa tidak punya aktivitas yang harus dia lakukan lagi, jadi Lisa mencari kesibukan dari pada berdiam diri saja karena masih pagi dan tidak mungkin untuknya masuk ke dalam kamar lalu menulis karena itu akan membutuhkan waktu lama. Jelas Lisa tidak enak hati jika setelah sarapan langsung masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Namun belum sampai Lisa selesai beres-beres, Arkan memanggilnya untuk membantu dia menyiapkan pakaian karena Arkan akan pergi ke kantor. "Hm. Aku belum terlalu paham selera Aa. Nanti kalau ada kesalahan, jangan lupa ditegur dengan lembut ya?" kata Lisa seraya memilihkan baju untuk Arkan pergi ke kantor.


"Nanti Aa tegur dengan kasar dan membentak ajah biar kamu ngambek dan Aa makan karena kamu gemesin banget kalau ngambek," jawab Arkan seraya memeluk Lisa dari belakang.


"Ish ... jahat banget," kata Lisa mencoba menoleh ke belakang untuk menatap Arkan, tetapi langsung mendapatkan ciuman. "Dasar ... mengambil kesempatan," Arkan hanya terkekeh. "Baju ini aja deh, aku bingung." Lisa pun memberikan pakaian yang dia pilih pada Arkan.


Bukannya berpindah tempat untuk berganti baju, Arkan langsung melepaskan bajunya di depan Lisa. "Pakein dong," pinta Arkan dengan nada manja.


"Astaghfirullah ... Aa kayak anak bayi aja sih," protes Lisa seraya memijat pelipisnya.


"Bayi besar kamu. Buruan, nanti Aa telat. Di kasih jalan pahala kok nggak mau," jawab Arkan masih dengan nada manja.


"Iya, Aa." Lisa pun menurut dan satu demi satu pakaian yang Lisa pilih sudah menempel ditubuh Arkan. "Dah ganteng ... buruan berangkat," kata Lisa seraya menepuk-nepuk kemeja Arkan tanda dia sedang meledek suaminya.


"Gemesin banget sih, makasih Sayangku." Arkan pun mencium kening Lisa dan berjalan menuju tak sepatu.


"Nggak minta dipakein juga?" tanya Lisa dengan nada menggoda.


"Kalau ini nggak perlu. Nanti takut ada pemandangan indah yang membuat Aa nggak jadi pergi ke kantor," jawab Arkan terkekeh seraya memakai kaos kaki dan sepatunya.


Lisa berpikir keras apa maksud dari perkataan suaminya itu. Akhirnya Lisa paham dan menunduk melihat dadanya yang memang sedikit terbuka karena daster yang dia pakai. Jika dia berjongkok, makan gunung kembar itulah maksud dari pemandangan indah yang Arkan ucapkan. "Astaghfirullah ... bisa-bisanya berpikir seperti itu." Lisa segera keluar dari ruang ganti tersebut dan memakai jilbabnya untuk menutupi bagian dadanya.


........

__ADS_1


__ADS_2