
Umi yang mendapatkan kabar tidak enak dari temannya langsung bergegas menuju kontrakan Lisa. Terkejut bukan main saat Umi melihat banyak warga disana dan laki-laki yang sedang duduk babak belur. Namun Umi tidak melihat adanya Lisa. "Pak, ada apa ini?" tanya Umi pada orang-orang disana yang rata-rata memang Bapak-bapak semuanya.
"Begini Mbak Umi, Neng Lisa udah berzina dengan laki-laki itu. Pasti Neng Lisa kesepian nggak pernah dibelai, maklumlah, kan janda," jawab salah satu bapak yang padahal belum tahu kebenarannya.
"Jaga mulut anda, Pak!" Arkan langsung bangun dan seketika tidak merasakan sakit. Padahal sejak tadi dia sedang menahan rasa sakitnya tanpa mendengarkan omongan para warga. Berbeda kali ini karena kehormatan wanita yang dia cintai sedang diinjak-injak.
Brug!
Sebuah bogem di bagian perut mendarat cukup keras pada seorang Bapak yang telah menghina Lisa. Keributan pun kembali memanas saat bapak tersebut tidak terima atas pukulan Arkan. "Tenang ... tenang ... kenapa kamu malah nambah masalah anak muda. Bukannya bertanggung jawab karena udah bikin ulang di desa kami," ucap seorang Bapak lainnya.
"Pak RT harus segera ambil keputusan," sahut bapak lainnya.
"Rajam aja mereka berdua," kata Bapak lainnya.
"Benar ...." kompak para warga yang ada disana.
"Siapa tadi yang masuk ke dalam rumah dan menyeret saya keluar? Siapa? Apa kalian buta dan nggak lihat laki-laki keluar dari rumah Lisa?" teriak Arkan semakin tersulut emosi. Namun ucapan Arkan membuat semua warga bungkam.
"Mas, kamu Mas Arkan ya?" tanya Umi dan Arkan terpaksa mengangguk dalam amarahnya. "Tolong jelaskan apa yang terjadi? Dan mana Lisa?" tanya Umi lagi.
"Laki-laki yang keluar pertama tadi adalah mantan suami Lisa. Dia yang masuk diam-diam, bahkan Lisa juga berteriak minta tolong. Saya memang akan menikahi Lisa. Saya kemari karena merindukan Lisa dan hanya berniat melihat pintu rumahnya saja. Tapi saya mendengar Lisa meminta tolong. Awalnya saya ragu, tapi melihat jendelanya terbuka saya pun curiga. Setelah itu Lisa kembali berteriak, barulah saya masuk dan mantan suaminya itu telah melecehkan Lisa," jelas Arkan.
"Astaghfirullah ... jadi Lisa di dalam sendiri?" Umi segera masuk ke dalam dan semakin terkejut melihat Lisa yang tergeletak tidak sadarkan diri dengan tubuh yang tidak tertutup sempurna pakai selimut. Apalagi pipinya yang membiru dan sudut bibir yang berdarah. "Ya Allah ... Lisa!" Umi langsung memeluk Lisa dan menangis sejadinya.
__ADS_1
"Lantas bagaimana ini, Pak RT?" tanya seorang bapak lagi.
"Nak Arkan sudah menjelaskan dan dia juga mau menikahi Neng Lisa, jadi masalah ini tidak perlu diributkan lagi. Kalian bubar aja bubar," jawab Pak RT.
"Nggak bisa gitu dong, Pak. Kita nggak mau ya kenak musibah gara-gara mereka berdua. Kami mau kamu benar-benar bertanggung jawab malam ini juga. Siapa yang tahu kamu juga bersekongkol dengan laki-laki yang kamu bilang mantan suaminya itu," sahut seorang bapak lainnya.
"Kalau itu masalahnya, saya akan menikahi Lisa malam ini juga. Biar anda puas, Pak," jawab Arkan dengan lantangnya tanpa memikirkan rasa sakit yang di deritanya.
"Jangan cuma banyak omong, kami nggak mau menunda lagi karena kami nggak mau kenak musibah gara-gara kalian," ucap Bapak yang sama.
"Tolong ... jangan cuma bertengkar, Lisa harus dibawa ke rumah sakit segera!" teriak Umi setelah memakaikan Lisa baju dan juga jilbab.
"Siall ... aku melupakan keadaan Lisa," Arkan langsung masuk ke kontrakan Lisa dan segera membopong tubuh Lisa untuk segera dia bawa masuk ke dalam mobilnya. Umi juga Pak RT ikut ke rumah sakit sebagai perwakilan warga yang mengamuk.
...***...
"Kita udah sah jadi suami istri walaupun masih nikah siri, Sayang!" jawab Arkan dengan senyuman manisnya karena bahagia melihat Lisa yang akhirnya sadar.
"A-apa? Ba-bagaima-na bisa? Aw?" Lisa terkejut bukan main. Dia hendak bangun, tetapi kepalanya masih sangat pusing.
"Pelan-pelan, Sayang!" Arkan segera membantu Lisa duduk dan meninggikan brankar nya agar Lisa leluasa untuk duduk.
"Lisa!" Umi segera memeluk Lisa dengan tangisannya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi, Mbak?" tanya Lisa seraya menepuk-nepuk punggung Umi. Setelah beberapa saat, Umi pun melepaskan pelukannya. "Kamu memang udah sah jadi istrinya Mas Arkan, Lis. Aku yang mengatur semuanya karena warga memintamu untuk segera menikah. Mereka berpikir kamu dan Mas Arkan berzina. Padahal Tian brengsekk itu yang udah nyakitin kamu," jelas Umi masih dengan isak tangisnya.
"Apa?" Lisa masih tidak percaya dengan apa yang sudah dia lewatkan. "Aku masih punya Bapak, bagaimana bisa aku sah menikah dengan ...." Lisa menatap Arkan dan langsung mengusap ujung kepalanya.
"Tenanglah, Sayang. Mbak Umi yang menelepon Bapak Ujang dan aku yang memintanya untuk mewakilkan hak wali Bapak agar dilimpahkan pada wali hakim. Kita menikah udah atas restu Bapak, Sayang," jelas Arkan dan Lisa pun mengehela nafas panjang. Keadaan di ruang rawat itu pun sunyi untuk beberapa saat.
"Lisa, pernikahanmu sah di mata agama. Mas Arkan yang akan mengurus semua, kamu jangan khawatir. Aku udah bicara banyak sama dia selama kamu pingsan," kata Umi dan Lisa pun menatap Arkan dengan sebuah senyuman yang tidak bisa Arkan artikan.
"Jadi, Aa benar-benar udah jadi suami Lisa?" tanya Lisa lirih.
"Iya, Melisa. Kita udah sah jadi suami istri." Entah kenapa mata Arkan jadi berkaca-kaca.
"Boleh aku pegang tangan kanan, Aa?" pinta Lisa menjulurkan tangan kanannya untuk meraih tangan kanan Arkan.
"Boleh, tentu saja boleh," Arkan pun memberikan tangan kanannya pada Lisa. Segera Lisa raih tangan kanan itu dengan kedua tangannya walaupun sebelah kiri sedang terpasang jarum infus. Lisa pun mencium punggung tangan Arkan cukup lama, kemudian Lisa membalikkan tangan Arkan dan mencium telapak tangannya.
Lisa tidak langsung melepaskan tangannya dari tangan Arkan, tetapi Lisa menatap Arkan terlebih dahulu baru menempelkan tangan Arkan di sebelah pipinya. "MasyaAllah ... istriku," Arkan tidak kuasa menahan air matanya.
"Terima kasih, Aa."
"Untuk apa kamu berterima kasih, Sayang."
"Terima kasih banyak udah jadi penyelamat buat Lisa dari perbuatan Mas Tian. Terima kasih juga udah menerima Lisa sebagai istrimu, Aa." Arkan langsung memeluk Lisa.
__ADS_1
"Nggak, Sayang! Nggak perlu kamu berterima kasih. Mulai sekarang, kita akan melewati semuanya bersama, hm?" Lisa mengangguk dalam pelukan Arkan.
..