Melisa Untuk Tuan Muda

Melisa Untuk Tuan Muda
Mencoba Menerima


__ADS_3

"Gila ... ini bener-bener gila ya? Masa' iya sih aq cemburu? Kayaknya aku belum cinta sama dia. Kunaon kamu tuh, Lisa ...!" Di atas tempat tidur itu, Lisa bergumam dengan menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.


Beberapa saat kemudian, Arkan masuk ke dalam kamar. Lisa bisa mendengar Arkan membuka serta menutup pintu. Sama sekali tidak ada niat untuk membuka selimut yang menutup seluruh tubuhnya itu. Lisa masih kesal bahkan amat sangat kesal.


"Sayang! Kamu baik-baik aja?" tanya Arkan dan suaranya terdengar sangat dekat. Lisa bisa menebak jika Arkan sedang berjongkok di sisi tempat tidur. "Sayang, kita ke Dokter ya?" Lisa masih tidak merespon. Arkan pun membuka perlahan selimut yang menutupi wajah Lisa. Namun Lisa sedang menutup matanya dan berpura-pura tidur.


Arkan terdengar menghela nafas. Lisa masih tidak punya niat untuk membuka mata dan melihat suaminya. "Kalau gitu Aa tidur sama aku aja ya? Teteh tidur nyenyak banget, takut ganggu," ucapan Merry benar-benar membuat Lisa terkejut bukan main. Rasanya ingin sekali menampar mulut manisnya itu.


"Tapi dia sakit. Kalau ada apa-apa nanti malam gimana?" ucap Arkan pelan tetapi Lisa masih bisa mendengar dengan jelas. Tentu Arkan tidak mau suaranya membangunkan sang istri.


"Aku yakin dia nggak pa-pa. Kita aja nggak kenapa-kenapa loh. Kita juga makan makanan yang sama. Pasti cuma sakit perut biasa aja. Merry masih kangen sama Aa," jawab Merry dengan suara mendayu membuat Lisa mengepalkan kedua tangannya menahan gejolak amarah yang kembali melanda.


"Aa temenin sebentar aja ya? Aa nggak bisa tinggalin Teteh kamu. Aa takut dia kenapa pas malem," kata Arkan masih dengan nada lembut dan pelan.


"Huft! Orang baru nyusahin aja. Udahlah, Merry mau tidur sendiri aja. Aa nggak sayang lagi sama adiknya." Merry terdengar menghentakkan kakinya dan melangkah pergi. Arkan tidak mencegahnya walaupun Merry menutup pintu dengan sangat keras.


Lisa berpura-pura terbangun karena suara pintu itu benar-benar mengganggu telinganya. Perlahan Lisa membuka matanya dan Arkan sedang tersenyum manis berjongkok tepat di depannya. "Aa ngapain nutup pintu keras banget. Bikin kaget aja," kata Lisa pura-pura tidak tahu dan menggeliat kemudian membalikkan badan membelakangi Arkan.


"Sayang ... apa kamu marah? Kamu yakin baik-baik aja dan nggak perlu ke Dokter?" tanya Arkan bertubi-tubi.


"Nggak!" jawab Lisa singkat. Arkan segera menyusup dibalik selimut untuk membaringkan tubuhnya tepat di belakang Lisa dan memeluknya.


"Sayang ... maaf kalau Aa punya salah ya?"


"Hm."


"Mau Aa pijit?"


"Nggak!"


"Mau tidur aja?"

__ADS_1


"Hm."


"Minum obat diare dulu ya?"


"Nggak!"


"Yakin nggak perlu ke Dokter?"


"Hm."


"Dari tadi kok nggak, hm, aja sih. Kamu marah ya sama Aa?"


"Nggak!" Lagi-lagi Arkan terdengar mengehela nafas kemudian memeluk Lisa semakin erat.


"Maaf kalau kamu kecewa dengan sikapku. Aku mohon, jangan seperti ini,"


"Hm."


"Nggak!" Dengan cepat Arkan mengubah posisi tidurnya menjadi di hadapan Lisa. Keduanya pun beradu mata untuk beberapa saat. Lisa tentu masih kesal dengan Arkan dan hendak membalikkan badan untuk kembali membelakangi sang suami, tetapi Arkan menahannya.


"Liat aku!" titah Arkan. Lisa pun menurut dan menatap Arkan dengan raut wajah kesal. Arkan tahu akan hal itu. "Merry benar-benar aku anggap sebagai seorang adik, bukan sebagai seorang wanita," ucap Arkan terjeda.


"Ya kali kalau ente normal nggak mungkin nggak tergoda sama wanita dengan tubuh bagus kayak si Merry pedut itu," batin Lisa meronta ingin kembali mengumpat.


"Sayang ... dulu aku punya adik, namanya Arsya," Arkan kembali menjeda bicaranya.


"Ya, ges nyaho aing mah. Waduk tuh. Hadeh astaghfirullah bener-bener si Merry pedut buat aku esmosi tingkat dewa ini mah," batin Lisa lagi.


"Dia diperkosaa saat usianya menginjak lima belas tahun. Dia depresi berat setelah kejadian itu, apalagi saat tahu kalau dia hamil. Arsya semakin memburuk bahkan kami nggak bisa menggugurkan kandungannya karena kondisi Arsya yang sangat lemah. Akhirnya kami memutuskan untuk menjaga kondisinya juga bayi itu." Arkan terlihat berkaca-kaca.


"Duh ... nggak tega liat suami sedih," gumam Lisa dalam hati.

__ADS_1


"Tapi takdir berkata lain. Arsya nggak pernah mau makan bahkan minum pun nggak mau sejak perutnya mulai membesar. Dia hanya bergantung pada suntik infus. Akhirnya Arsya meninggal berserta bayinya. Setelah kematian Arsya, Merry pergi ke luar negeri karena merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Arsya. Saat Arsya mendapatkan perlakuan tidak senonoh itu, Merry sedang bersamanya dan dia memilih untuk kabur dari pada menunggu Arsya. Sayangnya Merry belum sempat minta tolong dan pingsan sesaat setelah dia bisa kabur. Demi menghapus rasa trauma dan bersalahnya, Merry meneruskan sekolah di luar negeri dengan alasan mengikuti jejak cinta monyetnya, tapi kami tahu bukan itu sebenarnya tujuan dia. Sejak saat itu, Merry lah pengobatan rinduku pada Arsya. Aku harap kamu bisa mengerti dan nggak cemburu dengan semua sikapku padanya, hm?"


"Hm." Lisa tidak memberikan respon lain. Namun Arkan memeluk Lisa dengan rasa sedih dan rindunya pada Arsya. Tidak bisa berbuat banyak, Lisa hanya menguatkan Arkan lewat pelukan dan belaian di rambut Arkan.


"Udah nggak marahkan?" tanya Arkan.


"Nggak!" jawab Lisa masih dengan nada yang sama.


"Kok masih begitu. Aku udah jelasin sama kamu." Arkan semakin menempel kepalanya didada Lisa.


"Hm." Arkan pun mendongak menatap Lisa dengan wajah manjanya.


"Aa mau itu dong," ucapnya dengan nada yang benar-benar tidak biasa.


"Nggak!" Lisa berusaha melepaskan pelukan Arkan, tetapi tidak bisa.


"Masih marah?" tanya Arkan dengan wajah sedih.


"Aa harus tahu batasan seorang adik angkat. Jelas sikapmu harus berbeda dari pada adik kandung. Wanita itu perasa, Aa. Hatinya mudah baper. Jangankan aku sebagai istrimu, wanita lain juga akan menganggap kalian itu pasangan suami istri. Tidur sekamar dan makan suap-menyuap? Heh! Lepas. Perutku benar-benar mulas mikirin sikap suamiku," titah Lisa tidak membuat Arkan melepaskan pelukannya.


"Nggak mau! Kamu cuma alasan, Sayang. Aku tahu kamu mau melarikan diri dariku," jawab Arkan tanpa melepaskan pelukannya dan mengikis jarak diantara mereka berdua.


"Betul sekali. Aku memang sangat ingin menghindari mu, Tuan Muda," sahut Lisa dengan nada menekan.


"Kamu nggak akan Aa biarin kabur. Aa akan makan tubuhmu dengan lahannya, Sayangku." Arkan langsung mencium bibir Lisa dan menyesapnya semakin dalam. "Bales dong, Sayang! Aa nggak tahan nih," rengek Arkan saat Lisa hanya diam tanpa respon apa pun atas ciumannya.


"Kunci dulu sana pintunya. Aku nggak mau adik ketemu gede itu tiba-tiba masuk seperti tadi," ucap Lisa masih dengan nada sinis.


"Siap, istriku. Aku akan mengunci rapat pintu itu dan akan aku buat kamu nggak bisa berjalan besok," jawab Arkan dengan riang gembira dan segera melangkah menuju pintu kamar untuk menguncinya.


..

__ADS_1


__ADS_2