
Lisa bangun di sepertiga malam seperti biasa. Sekujur tubuhnya benar-benar sakit dan hampir tidak bisa berjalan seperti apa kata Arkan. Banyak sekali gaya yang Arkan lakukan bahkan dia menjajah tubuh Lisa hingga dua kali. "Astaghfirullah ... mungkin efek lama nggak ituan jadi begini. Udah kayak malam pertama aja," gumam Lisa kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya menuju kamar mandi.
"Sayang ... kok selimutnya dibawa? Dingin nih," kata Arkan seraya meringkuk menyadari tidak ada yang menutupi tubuhnya. Dia pun meraih dan memeluk guling untuk menutup benda pusakanya.
"Salah Aa. Kesel ah!" Lisa langsung masuk ke kamar mandi dengan lirikan sinis dan meninggalkan selimut di depan pintu kamar mandi. Arkan hanya menggelengkan kepalanya kemudian bangun untuk mengambil celana kolor lalu selimut itu dan kembali berbaring. Bukan untuk tidur lagi, tetapi dia tahu kalau Lisa akan memaksanya untuk sholat malam bersama. Akhirnya Arkan mengambil ponselnya dan memeriksa beberapa pesan yang masuk.
Sebuah senyuman bahagia begitu terpancar di wajahnya. Arkan pun membalas pesan tersebut. Cukup banyak pesan masuk di ponselnya. Termasuk pesan dari Merry yang merengek sejak semalam dan marah karena pesannya tidak juga di balas. Namun belum Arkan membalas semua pesan itu, Lisa keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono dan rambut yang basah. Pemandangan itu membuat Arkan kembali tergoda.
"Duh ... istriku emang sexy kalau abis mandi. Jadi pengen lagi nih," goda Arkan seraya mendekati Lisa yang sedang duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.
"Pengen lagi? Astaghfirullah ... Aa, aku aja hampir kesulitan berjalan karena banyaknya gaya yang Aa lakukan semalem, ini minta lagi? Mau aku sunat lagi?" ancam Lisa masih dengan tatapan sinis.
"Ya kan bagus buat kesehatan juga Sayang kalau sering-sering," jawab Arkan masih bernada meledek.
"Cara untuk sehat itu banyak. Nggak cuma dengan cara ituan tiga kali semalam. Udah buruan mandi sana," sahut Lisa seraya mengibaskan tangannya agar Arkan segera mandi.
"Sini, Aa bantu keringin rambutnya dulu," Arkan merebut hair dryer yang di pegang Lisa dan tangannya menyentuh tangan Lisa. Sontak Lisa semakin kesal karena dia harus berwudhu kembali.
"Astaghfirullah ... Aa. Kan aku jadi batal wudhu."
"Ya gampang sih tinggal wudhu lagi biar afdol. Air juga banyak nggak perlu pake debu."
"Ya capek harus bulak balik, Aa!"
__ADS_1
"Nanti Aa gendong,"
"Terus batal lagi?"
"Ya gendong lagi lah,"
"Astaghfirullah ... udah ah buruan. Keburu magrib kalau debat sama Aa."
Arkan hanya terkekeh dan dengan lembutnya mengeringkan rambut Lisa hingga benar-benar kering dan menyisirnya dengan rapi lali mencium kedua pipinya secara bergantian. "I love you, Melisa. Jangan marah-marah terus, nanti cepet tua," goda Arkan lagi seraya mencubit hidung Lisa.
"Buruan mandi sana," jawab Lisa masih sedikit kesal.
"Jawab dulu dong pengungkapan cinta suamimu ini," kata Arkan masih dengan nada meledek.
"Oke deh, Aa mandi dulu ya, Cintaku," kata Arkan seraya berlalu.
"Tapi boong!" lanjut Lisa dengan senyuman manisnya.
"Astaghfirullah ... bener-bener istri yang menggemaskan," gumam Arkan tetap masuk kamar mandi.
...***...
Setelah menjalankan sholat malam dan mengaji beberapa lembar, Lisa akan melanjutkan revisi naskahnya atas saran dari Hendi. Semalam dia belum sempat membalas pesan dari laki-laki yang berstatus editor itu. "Sayang, Aa ke kamar Merry dulu bentar, katanya dia sakit kepala. Aa mau ambilin dia obat dulu," ujar Arkan seraya meletakkan ponselnya di atas nakas dan buru-buru keluar dari kamar tanpa peduli apakah Lisa setuju atau tidak dia pergi.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa Lisa lakukan lagi selain tetap diam. Waktu subuh masih satu jam lagi dan Lisa tidak mau memikirkan masalah Merry karena ada yang lebih penting baginya.
Menit pun berganti jam dan Lisa sudah mendengar lantunan ayat suci Al-Quran tanda subuh akan tiba di masjid yang tidak jauh dari rumah mertuanya itu. Lisa pun menyudahi aktivitasnya kemudian teringat dengan Arkan yang belum kembali ke kamarnya.
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kamar Merry untuk menyuruh suaminya ke masjid melakukan sholat subuh. Langkah demi langkah dia lalui hingga akhirnya tiba di depan pintu kamar Merry. Lisa pun memberanikan diri membuka pintu kamar itu dan langsung mendapatkan pemandangan yang membuat darahnya naik.
"Aa, ayo bangun, sebentar lagi subuh," ucap Lisa lirih dengan mengusap bagian pundak Arkan. Lisa menahan amarahnya ketika Arkan sedang tidur satu ranjang dengan Merry yang sedang tidur di atas lengannya seraya memeluk dada Arkan. Entah benar-benar tidur atau hanya berpura-pura.
Arkan pun membuka matanya. "Ah ... maaf, Aa ketiduran," jawab Arkan dan perlahan melepaskan pelukannya Merry agar dia bisa turun dari tempat tidur.
"Iya, cepet sana," kata Lisa masih dengan nada lirih. Arkan hanya mengangguk dan buru-buru keluar dari kamar Merry. Sedangkan Lisa tidak langsung mengikuti Arkan dan masih menatap wajah Merry dengan rasa yang bercampur aduk.
"Bagaimana? Apa kira-kira kamu bisa merebut Arkan dari tanganku, Melisa?" Tiba-tiba Merry berbicara walaupun matanya masih tertutup. "Dia milikku, Melisa. Nggak ada yang boleh merebutnya dari tangan ku," ucapnya lagi seraya membuka mata dan duduk menyilangkan kedua tangannya didada. "Hebat kamu ya bisa lepas dari orang-orang suruhanku? Aku bener-bener nggak nyangka, tapi ... aku akan buat kamu dibuang oleh keluarga ini, Melisa." Lagi-lagi Merry bicara dengan nada sombong dan lirik kan tajam.
"Wah ... akhirnya kamu menunjukkan sikap aslimu, Merry pedut!" jawab Lisa yang mengikuti gaya Merry dengan melipat kedua tangannya didada. "Em ... tapi baguslah. Aku bisa lebih waspada sama adik busuk kayak kamu ini. Ya kalau kamu mau bersaing ... em okelah." Lisa menatap jarinya yang melingkar cincin pernikahannya dengan Arkan. Gaya sombongnya tidak kalah dengan Merry.
"Heh! Berani juga kamu, Melisa."
"Ya, gimana ya. Aku sedikit takut emang berhadapan sama wanita psico kayak kamu ini, cuma aku punya Allah. Aku nggak akan takut jika aku nggak salah. Allah selalu di dekatku. Aku punya doa yang akan membantuku," jawab Lisa dengan tatapan mengancam kemudian beranjak pergi.
"Kamu nggak akan bisa melawan aku, Melisa." Merry kembali memberikan ancaman sebelum pintu kamarnya tertutup.
"Baiklah. Kita lihat saja nanti. Kekuatan doa ku yang menang atau keburukanmu yang akan terbongkar!" Lisa pun menutup pintu kamar Merry dengan keras tanda dia sedang marah. Bahkan rasanya Lisa ingin merusak pintu itu, tetapi sayangnya pintu itu tidaklah bersalah padanya.
__ADS_1
........