
"Cukup, Merry Ayunda!" seketika Merry menoleh karena terkejut dengan suara familiar itu bahkan tidak percaya jika orang yang selama ini dia manfaatkan akan berkhianat.
"Lo? ngapain lo disini, hah?" tanya Merry dengan nada tinggi.
"Mer .. kita akhiri semua ini. Gue nggak bisa terus menerus biarin lo berbuat jahat dan nekad hanya demi laki-laki yang sama sekali nggak anggap lo wanita melainkan hanya seorang adik," kata Sandi mencoba mengingatkan Merry.
Sejak sekolah menengah atas, Sandi sudah jatuh cinta pada Merry. Sayangnya rasa cinta itu tidak terbalaskan karena Merry hanya menginginkan Arkan seorang yang mana saat itu status Arkan adalah kakak angkatnya. Sebenarnya Merry tidak pernah kekurangan apa pun saat diangkat anak oleh Bu Aisyah. Apa pun yang dimiliki Arsya, Merry juga selalu mendapatkannya.
Namun saat menginjak usia remaja, perasaanya yang labil membuat Merry selalu beranggapan lain dengan perhatian Arkan. Merry jatuh cinta pada Kakak angkatnya.
__ADS_1
Suatu ketika, Arsya menginginkan sesuatu hal pada Arkan yang mana saat itu dia tidak mau ada satupun yang menyamainya, termasuk Merry. Arsa meminta itu juga diam-diam tanpa sepengetahuan Merry. Sayangnya Merry tahu jika Arsya punya rencana tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Niat jahat pun muncul. Merry tahu jika Sandi menyukainya dan memanfaatkan cinta Sandi untuk menculik Arsya. Merry bahkan rela membongkar tabungannya demi untuk membayar beberapa preman untuk menikmati tubuh Arsya dan mereka harus tutup mulut karena andai jika mereka tertangkap pun Merry menjamin mereka tidak akan mendapatkan hukuman lama juga menjamin makan dan hidup mereka setelah keluar dari penjara.
Tentu saja tidak ada kucing yang tidak mau disuguhi ikan segar. Merry pun mengatur rencana bersama Sandi bahkan Merry memberikan keperawanannya pada Sandi seraya menikmati teriakan Arsya yang digauli oleh tiga preman dengan paksa.
Awalnya Merry ingin membunuh Arsya agar dia tidak punya saingan lagi, tetapi melihat kondisi Arsya yang depresi membuat Merry membiarkan Arsya hidup karena Merry tahu pada akhirnya Arsya akan mati dan Merry pun berpura-pura pingsan dengan alasan berhasil kabur dari kejaran preman.
"Sorry, Nona Merry! Kamu memberikan kami uang yang sangat sedikit bahkan untuk mabuk saja tidaklah cukup. Sedangkan laki-laki itu memberikan kami banyak uang dan tempat tinggal. Jadi kami pilih hal yang lebih menguntungkan," jelas salah satu preman yang pernah melecehkan Arsya yang mana mereka telah dibebaskan tiga tahun lalu dengan jaminan dan syarat. Itu juga atas usaha Merry.
__ADS_1
"Sialann! Dasar penghianat!" pekik Merry hendak memberikan pukulan pada preman yang bicara tadi.
"Sayang! Stop! Hentikan kegilaan ini! Tuan Arkan bahkan memberikan kesempatan pada kita untuk minta maaf," ucap Sandi kembali menahan tangan Merry dan membuatnya mendapatkan lirikan tajam dari Merry.
"Jangan bilang kamu yang selalu pergi ke pemakaman Arsya selama ini?" tanya Merry yang ingat betul ada bunga baru setiap hari kematian Arsya?" tanya Merry pada Sandi.
"Iya ...itu gue. Gue merasa bersalah dan hidup gue nggak tenang selama ini. Kita bisa hidup enak di luar negeri, tetapi Arsya harus mati. Itu nggak adil. Kamu harusnya terima kasih karena derajatmu diangkat oleh keluarga ini, tapi kamu malah salah jalan. Sayang, minta maaflah dan berubah lah, kita hidup berdua dengan bahagia. Tuan Arkan akan memaafkan kita, Sayang," ucap Sandi dengan halusnya.
"NGGAK!" teriak Merry dan dia pun pingsan.
__ADS_1
........